Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2026

MENGEJAR SENJA YANG SAMA - BAB 6

Pertemuan Tak Terduga Setelah Bekerja Hari pertama bekerja menjadi pengalaman yang tidak akan pernah dilupakan Aldi. Ia diterima sebagai teknisi junior di sebuah perusahaan otomotif yang cukup besar di kota. Seragam biru tua lengkap dengan logo perusahaan membuatnya berdiri lebih tegap saat bercermin. Pak Surya menatap putranya dengan mata berkaca-kaca. "Alhamdulillah... sekarang anak Bapak sudah jadi karyawan." Aldi tersenyum sambil mencium tangan kedua orang tuanya. "Semua karena doa Bapak dan Ibu." Sejak hari itu, kehidupan Aldi mulai berubah. Ia bangun pukul lima pagi, berangkat bekerja sebelum matahari terbit, lalu pulang menjelang malam. Gaji pertamanya tidak ia gunakan untuk membeli barang mewah. Ia justru membeli sebuah mukena baru untuk ibunya, sepatu kerja untuk ayahnya, dan menyisihkan sebagian penghasilannya untuk ditabung. Saat Bu Santi menerima hadiah itu, air matanya kembali jatuh. "Kenapa uangmu dipakai buat Ibu?" Aldi tersenyum...

MENGEJAR SENJA YANG SAMA - BAB 5

  Kabar yang Menghancurkan Harapan Tiga tahun berlalu sejak reuni kecil itu. Aldi kini telah lulus dari SMK dengan nilai yang cukup membanggakan. Berbekal pengalaman praktik dan bekerja di bengkel pamannya, ia mulai melamar pekerjaan ke berbagai perusahaan otomotif. Namun kenyataan tidak semudah yang dibayangkan. Puluhan lamaran dikirim. Belasan kali mengikuti tes. Beberapa kali wawancara. Semuanya berakhir dengan kalimat yang sama. "Mohon maaf, Anda belum lolos seleksi." Awalnya Aldi masih tersenyum. Lama-kelamaan, senyum itu mulai memudar. Suatu sore ia duduk di teras rumah. Pak Surya menghampirinya sambil membawa dua gelas teh hangat. "Gagal lagi?" Aldi mengangguk pelan. "Iya, Pak." Pak Surya menepuk pundaknya. "Bapak juga dulu sering ditolak kerja." Aldi menatap ayahnya. "Tapi Bapak tetap berusaha." "Laki-laki itu bukan dinilai dari seberapa sering dia jatuh." "Terus?" "Dari seberapa s...

MENGEJAR SENJA YANG SAMA - BAB 4

  Jarak, Kesibukan, dan Cinta yang Mulai Menghilang Hari-hari di bangku SMK terasa jauh berbeda bagi Aldi. Ia mengambil jurusan Teknik Kendaraan Ringan. Setiap pagi, ia mengenakan wearpack abu-abu yang sering kali dipenuhi noda oli setelah praktik di bengkel sekolah. Tangannya mulai terbiasa memegang kunci pas, membuka mesin, dan memperbaiki komponen kendaraan. Sepulang sekolah, Aldi tidak langsung pulang untuk beristirahat. Tiga kali dalam seminggu ia membantu pamannya di sebuah bengkel kecil agar bisa mendapatkan uang tambahan. "Aldi, tolong ganti kampas rem motor ini," kata pamannya. "Siap, Pakde." Meski lelah, Aldi selalu mengerjakannya dengan sungguh-sungguh. Ia tahu, setiap rupiah yang diperoleh bisa membantu meringankan beban orang tuanya. Sementara itu, kehidupan Kayna di SMA tampak sangat berbeda. Melalui media sosial, Aldi sesekali melihat unggahan teman-teman lamanya. Kayna menjadi anggota paskibra, aktif di organisasi sekolah, dan sering men...

MENGEJAR SENJA YANG SAMA - BAB 3

  BAB 3 Perpisahan SMP dan Janji yang Belum Terucap Tak terasa tiga tahun berlalu. Aldi, Kayna, Dimas, Riko, dan teman-teman sekelas kini duduk di kelas IX. Mereka telah melewati banyak kenangan bersama—belajar, mengikuti lomba, kerja bakti, hingga saling menyemangati saat menghadapi ujian. Hari pengumuman kelulusan akhirnya tiba. Seluruh siswa berkumpul di aula sekolah dengan perasaan campur aduk. Ada yang tersenyum, ada yang gugup, ada pula yang tak kuasa menahan air mata. Kepala sekolah naik ke podium. "Selamat kepada seluruh siswa kelas IX. Tahun ini, kalian lulus seratus persen ." Ruangan langsung bergemuruh oleh tepuk tangan dan sorak-sorai. Aldi mengembuskan napas lega. "Alhamdulillah..." batinnya. Tak lama kemudian, teman-teman saling berpelukan. Riko langsung memeluk Aldi. "Kita lulus, Bro!" "Iya!" Dimas menepuk pundak Aldi. "Selamat. Perjuangan kita belum selesai." Aldi mengangguk sambil tersenyum. Di sisi l...

MENGEJAR SENJA YANG SAMA - BAB 2

  Perasaan yang Tak Pernah Terucap Waktu berjalan begitu cepat. Tak terasa Aldi dan Kayna sudah hampir satu semester duduk di bangku kelas VII. Mereka semakin akrab. Jika ada tugas kelompok, mereka hampir selalu berada dalam kelompok yang sama. Saat jam istirahat, Kayna sering menghampiri Aldi di perpustakaan, tempat favoritnya membaca buku. "Di sini lagi?" tanya Kayna sambil tersenyum. Aldi menutup buku IPA yang sedang dibacanya. "Iya. Di sini lebih tenang." Kayna mengangguk. "Aku juga suka. Rasanya adem." Mereka lalu belajar bersama hingga bel masuk berbunyi. Bagi Aldi, momen-momen sederhana seperti itu sudah cukup membuat harinya terasa indah. Suatu hari sekolah mengadakan lomba cerdas cermat antar kelas. Wali kelas memilih tiga siswa terbaik. "Aldi." "Siap, Bu." "Kayna" "Iya, Bu." "Dan Dimas." Seluruh kelas bertepuk tangan. Aldi sempat merasa canggung karena harus satu tim dengan Di...

MENGEJAR SENJA YANG SAMA - BAB 1

Pertemuan yang Mengubah Segalanya Langit pagi di awal tahun ajaran baru begitu cerah. Bel sekolah SMP Negeri Harapan Bangsa berbunyi nyaring, menandakan seluruh siswa harus segera memasuki kelas masing-masing. Seorang anak laki-laki bertubuh kurus dengan tas usang berjalan perlahan memasuki gerbang sekolah. Namanya Aldi Pratama . Ia berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya bekerja sebagai sopir angkot, sedangkan ibunya berjualan gorengan di depan rumah. Sejak kecil Aldi terbiasa hidup hemat. "Aldi, semangat sekolah ya. Belajar yang rajin supaya hidupmu lebih baik dari Bapak," pesan Pak Surya sebelum berangkat bekerja pagi itu. Ucapan itu selalu terngiang di kepala Aldi. Hari itu adalah hari pertama ia masuk kelas VII. Saat memasuki ruang kelas, wali kelas mempersilakan seluruh siswa memperkenalkan diri. Hingga tiba giliran seorang siswi yang membuat seluruh kelas mendadak tenang. "Halo... namaku Kayna Lativa. Senang bisa berteman dengan kalian." Suara le...

MUBADOG - penutup

  EPILOG MUBADOG Tak Pernah Tua Dua puluh lima tahun kemudian... Suara notifikasi di telepon genggamku berbunyi. Grup WhatsApp: MUBADOG 2001 Aku tersenyum sendiri. Nama grup itu tidak pernah berubah sejak pertama kali dibuat beberapa tahun lalu. Foto profilnya masih sama. Foto enam belas anak muda dengan wajah dekil, rambut acak-acakan, jaket lusuh, dan senyum yang begitu lebar di lereng Gunung Welirang. Aku memperbesar foto itu. Lalu tertawa pelan. "Ya Allah..." "Kurus-kurus semua." Tak lama kemudian muncul pesan baru. Budi "Reuni minggu depan jadi, kan?" Rina "Jadi dong. Jangan ada yang izin sakit." Deni "Yang nggak datang traktir sate satu RT." Tak sampai lima menit, grup kembali ramai. Persis seperti dulu. Bedanya... Kini obrolan kami lebih banyak membahas anak kuliah, cicilan rumah, pekerjaan, dan kesehatan. Bukan lagi nilai ujian. Bukan lagi guru piket. Apalagi tugas OSIS. Hari reuni akhirnya tiba. Aku datang paling awal. Sebuah r...

MUBADOG - Bab 10

  Jalan Pulang Tak ada lagi yang bercanda. Sejak kejadian di bibir jurang, rombongan kami berjalan dalam diam. Masing-masing larut dalam pikirannya sendiri. Langkah kaki yang sejak tadi terdengar riuh kini hanya menyisakan bunyi gesekan sepatu dengan tanah basah. Aku berjalan beberapa langkah di belakang Andi. Sesekali aku memperhatikan punggungnya. Punggung yang sejak awal pendakian selalu berada di depan kami. Punggung yang tak pernah berhenti memastikan semua anggotanya lengkap. Punggung yang baru saja menjadi tameng bagi enam belas anak muda yang nyaris kehilangan arah. "Di..." Aku memanggil pelan. Andi menoleh sambil tersenyum. "Iya, Far?" "Masih sakit?" Ia melihat lengannya yang mulai membiru akibat pukulan dan benturan tadi. "Ah..." "Cuma memar sedikit." "Cuma sedikit, katanya," celetuk Budi yang mendengar percakapan kami. Budi berjalan mendekat. Wajahnya masih dipenuhi rasa bersalah. "Di..." "Aku benar-b...

MUBADOG - Bab 9

  Pemimpin yang Siap Disalahkan Perjalanan turun terasa jauh berbeda dibanding saat kami mendaki. Langkah kami lebih cepat, tetapi lutut mulai terasa nyeri karena terus menahan beban tubuh saat menuruni lereng. Matahari mulai condong ke barat, memancarkan cahaya keemasan yang menembus sela-sela pepohonan. Aku berjalan di tengah rombongan. Setelah kejadian tersesat, tak seorang pun mengizinkanku berjalan sendirian lagi. "Far, di tengah saja," kata Andi. "Iya." Aku menurut. Sesekali teman-teman masih menggodaku. "Kalau lihat puncak lagi, jangan kabur ya." "Bukan kabur..." jawabku sambil tertawa malu. "Namanya tersesat." Suasana kembali cair. Kami kembali menjadi rombongan enam belas anak muda yang penuh tawa. Sekitar satu jam kemudian, jalur mulai berubah. Kabut turun lebih cepat dari yang kami duga. Awalnya tipis. Lalu perlahan semakin rapat. Pandangan kami mulai terbatas. Hanya beberapa meter ke depan. Pepohonan di kanan-kiri tampak sep...

MUBADOG - Bab 8

  Orang yang Berlari dari Belakang "AAAAAA...!!" Jeritanku menggema di antara pepohonan. Refleks aku berusaha melepaskan tangan yang mencengkeram lenganku. Jantungku berdetak begitu keras hingga napasku terasa sesak. Semua pikiran buruk datang bersamaan. "Siapa dia?" "Kenapa mengejarku?" "Apa yang akan terjadi?" Aku memberanikan diri menoleh. Seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun berdiri di belakangku. Tubuhnya tegap, kulitnya legam terbakar matahari, dan napasnya masih tersengal karena berlari. Ia langsung mengangkat kedua tangannya, memberi isyarat agar aku tenang. "Jangan takut... jangan takut, Dik." Aku masih mundur beberapa langkah. "Tolong... jangan dekat-dekat..." Pria itu berhenti. Wajahnya terlihat bingung melihat reaksiku. "Adek namanya Fari?" Aku tertegun. Bagaimana mungkin orang yang belum pernah kutemui mengetahui namaku? "I... iya." Ia mengembuskan napas panjang, seperti baru saja mel...

MUBADOG - Bab 7

  Negeri di Atas Awan Langkahku semakin pelan. Bukan karena menyerah. Melainkan karena jalur menuju puncak benar-benar menguras tenaga. Semakin tinggi aku mendaki, pepohonan besar mulai menghilang. Yang tersisa hanyalah semak belukar, bebatuan, dan tanah berpasir yang sesekali membuat kakiku tergelincir. Angin bertiup lebih kencang. Udara terasa jauh lebih dingin dibandingkan Pos Pet Bocor. Aku berhenti sejenak untuk mengatur napas. "Masih kuat..." gumamku pelan. Kata-kata Andi semalam kembali terngiang. "Kalau niatmu sudah sampai di puncak, badanmu akan mengikuti." Aku tersenyum. "Ayo, Far..." "Satu langkah lagi." Aku kembali berjalan. Di sepanjang perjalanan, beberapa rombongan pendaki turun dari arah puncak. "Semangat, Mbak!" "Dikit lagi!" "Jangan berhenti sekarang!" Aku membalas setiap sapaan dengan senyum. Aneh sekali. Kami tidak saling mengenal. Namun di gunung, semua orang seperti saudara. Tak ada yang pelit m...

MUBADOG - Bab 6

  Langkah yang Tak Mau Berhenti Malam di Pos Pet Bocor 1, terasa begitu singkat. Aku bahkan merasa baru saja memejamkan mata ketika suara burung hutan mulai terdengar bersahutan. Udara dingin menyelinap masuk melalui celah-celah tenda, membuatku menggigil. Kubuka sedikit resleting tenda. Langit di ufuk timur mulai berubah warna. Semburat jingga perlahan mengusir gelap malam. Kabut tipis menggantung di antara pepohonan, sementara embun masih menempel di setiap helai rumput. Pemandangan itu begitu indah. Aku menghirup udara dalam-dalam. "Masya Allah..." Tak ada suara kendaraan. Tak ada klakson. Tak ada hiruk-pikuk kota. Yang terdengar hanyalah desir angin dan nyanyian alam. Aku menoleh ke dalam tenda. Teman-temanku masih terlelap. Budi tidur sambil memeluk carrier-nya. Deni mendengkur pelan. Rina bahkan masih meringkuk rapat di dalam sleeping bag, enggan berpisah dengan hangatnya tenda. Aku tersenyum sendiri. "Bangun..." kataku pelan. Tak ada yang bergerak. Aku menggo...

MUBADOG - Bab 5

  Sebuah Nama Bernama MUBADOG Malam benar-benar turun. Suhu di Pos Pet Bocor 1 semakin dingin. Angin gunung berembus pelan, menggoyangkan pucuk-pucuk cemara yang berdiri kokoh di sekitar tenda. Langit malam begitu bersih. Ribuan bintang bertaburan seolah bisa kugapai hanya dengan mengangkat tangan. Aku duduk di depan tenda sambil memeluk lutut. Di hadapanku, api kecil dari kompor yang mulai padam masih menyisakan kehangatan. Teman-teman duduk melingkar, sebagian masih tertawa mengingat kejadian nasi yang hampir menjadi "korban" keisengan. Budi memegang piring kosongnya tinggi-tinggi. "Saudara-saudara..." Semua langsung menoleh. "Saya masih hidup." Gelak tawa kembali memenuhi malam. "Kupikir habis makan nasi itu kamu langsung berubah jadi kompor minyak," celetuk Deni. "Atau kentutnya bau minyak tanah," sahut Rina. Tawa semakin pecah. Bahkan Andi yang sejak tadi dikenal paling serius pun ikut tertawa sampai menundukkan kepala. Aku menggel...