MENGEJAR SENJA YANG SAMA - BAB 3

 

BAB 3

Perpisahan SMP dan Janji yang Belum Terucap

Tak terasa tiga tahun berlalu.

Aldi, Kayna, Dimas, Riko, dan teman-teman sekelas kini duduk di kelas IX. Mereka telah melewati banyak kenangan bersama—belajar, mengikuti lomba, kerja bakti, hingga saling menyemangati saat menghadapi ujian.

Hari pengumuman kelulusan akhirnya tiba.

Seluruh siswa berkumpul di aula sekolah dengan perasaan campur aduk. Ada yang tersenyum, ada yang gugup, ada pula yang tak kuasa menahan air mata.

Kepala sekolah naik ke podium.

"Selamat kepada seluruh siswa kelas IX. Tahun ini, kalian lulus seratus persen."

Ruangan langsung bergemuruh oleh tepuk tangan dan sorak-sorai.

Aldi mengembuskan napas lega.

"Alhamdulillah..." batinnya.

Tak lama kemudian, teman-teman saling berpelukan.

Riko langsung memeluk Aldi.

"Kita lulus, Bro!"

"Iya!"

Dimas menepuk pundak Aldi.

"Selamat. Perjuangan kita belum selesai."

Aldi mengangguk sambil tersenyum.

Di sisi lain, Kayna berjalan menghampiri mereka.

"Selamat ya semuanya."

Mereka berlima pun berfoto bersama di depan sekolah.

Tak ada yang menyangka bahwa foto itu kelak menjadi salah satu kenangan paling berharga dalam hidup mereka.


Beberapa hari setelah kelulusan, kabar mulai tersebar mengenai sekolah tujuan masing-masing.

Riko diterima di SMK jurusan Teknik Mesin.

Dimas masuk SMA favorit di kota.

Sedangkan Kayna diterima di SMA Negeri yang terkenal dengan prestasi akademiknya.

Aldi sebenarnya juga lolos seleksi ke SMA yang sama dengan Kayna.

Namun ia harus mengubur keinginannya.

Suatu malam, ia mendengar percakapan kedua orang tuanya dari balik pintu.

"Ayah... uang tabungan kita belum cukup."

"Aku tahu."

"Kalau Aldi masuk SMA, nanti masih harus kuliah."

Pak Surya terdiam cukup lama.

"Kalau masuk SMK... mungkin setelah lulus dia bisa langsung bekerja."

Mata Aldi berkaca-kaca.

Ia sadar kondisi ekonomi keluarganya.

Esok paginya, Aldi berkata kepada kedua orang tuanya,

"Pak... Bu... aku sudah memutuskan."

"Apa, Nak?" tanya ibunya.

"Aku masuk SMK saja."

"Tapi bukankah kamu ingin SMA?"

Aldi tersenyum.

"Yang penting aku tetap bisa sekolah."

Pak Surya menundukkan kepala.

Ia tahu anaknya sedang mengalah demi keluarga.


Hari terakhir sebelum mereka benar-benar berpisah, teman-teman mengadakan acara kecil di taman kota.

Mereka saling bertukar tanda tangan di buku kenangan.

Ketika buku itu sampai di tangan Kayna, ia tersenyum.

"Aku tulis yang bagus ya."

Aldi mengangguk.

Beberapa menit kemudian, buku itu kembali.

Sesampainya di rumah, Aldi langsung membuka halaman yang ditulis Kayna.

Tulisan tangan yang rapi memenuhi satu halaman.

"Untuk Aldi, terima kasih sudah menjadi teman yang selalu sabar membantuku belajar. Jangan pernah berhenti mengejar cita-citamu. Aku yakin suatu hari nanti kamu akan menjadi orang yang sukses. Semoga kita dipertemukan lagi dalam keadaan terbaik."

Di bagian bawah, Kayna menggambar sebuah matahari kecil yang sedang tersenyum.

Aldi memandangi tulisan itu lama sekali.

Ia ingin membalas dengan kalimat yang lebih dari sekadar ucapan terima kasih.

Namun keberanian itu tak pernah datang.


Malam sebelum masuk sekolah baru, Aldi berdiri di depan rumah memandang langit.

Ponselnya berbunyi.

Pesan dari Kayna.

Kayna:
"Besok kita mulai sekolah baru. Semangat ya, Aldi!"

Aldi tersenyum.

Ia mengetik balasan berkali-kali.

"Aku suka kamu."

Ia menghapusnya.

"Jaga diri baik-baik."

Ia menghapus lagi.

Akhirnya ia hanya mengirim satu kalimat.

Aldi:
"Semangat juga. Semoga kita sama-sama meraih mimpi."

Beberapa detik kemudian muncul balasan.

Kayna:
"Aamiin. Sampai bertemu lagi."


Hari pertama masuk sekolah baru.

Jalan hidup mereka mulai berbeda.

Aldi sibuk dengan praktik mesin dan tugas-tugas di SMK.

Kayna mulai aktif di organisasi SMA.

Mereka masih sesekali bertukar pesan, tetapi tidak sesering dulu.

Kesibukan perlahan menciptakan jarak.

Meski begitu, setiap kali melihat foto kelulusan SMP yang tersimpan di dompetnya, Aldi selalu mengingat satu hal.

Ia belum menyerah.

Ia hanya sedang menunda.

Karena ia percaya, jika memang ditakdirkan bersama, waktu akan mempertemukan mereka kembali.

Dan jika tidak...

Setidaknya ia ingin menjadi seseorang yang mampu membuat Kayna bangga pernah mengenalnya.

Langkahnya kini bukan lagi untuk mengejar cinta.

Melainkan mengejar masa depan.

Namun jauh di lubuk hatinya, nama Kayna Lativa tetap menjadi alasan mengapa ia terus berjuang.

Bersambung ke Bab 4: "Jarak, Kesibukan, dan Cinta yang Mulai Menghilang."

Komentar

populer

COUPLE JUARA - Bab 3

MENGEJAR SENJA YANG SAMA - BAB 1

MUBADOG - Bab 1