MUBADOG - Bab 1

 

Jejak Persahabatan di Puncak Arjuno -Welirang Kelulusan yang Mengubah Segalanya

Namaku Fari.

Kalau ada yang bertanya, pengalaman apa yang paling tidak mungkin kulupakan selama hidup, jawabanku bukan hari kelulusan, bukan pula saat menerima ijazah. Melainkan sebuah pendakian nekat yang hampir merenggut nyawa kami, namun justru melahirkan persahabatan yang bertahan hingga sekarang.

Semuanya bermula setelah pengumuman kelulusan SMK.

Hari itu halaman sekolah dipenuhi tawa, tangis haru, dan rencana-rencana masa depan. Ada yang sudah diterima bekerja, ada yang akan kuliah, ada pula yang masih bingung hendak melangkah ke mana.

Aku hanya ingin menikmati hari terakhir bersama teman-teman.

"Kita harus bikin kenangan sebelum semuanya sibuk," usul Rina sambil memegang kamera saku.

"Setuju!" sahut beberapa teman.

Tak butuh waktu lama hingga usulan itu berubah menjadi sebuah rencana besar.

Enam belas orang.

Kami semua adalah mantan pengurus OSIS.

Enam belas orang dengan sifat yang berbeda-beda, tetapi selalu berhasil membuat keributan jika berkumpul.

Awalnya rencana kami sederhana.

Kemah semalam di sekitar Air Terjun Kakek Bodo.

Murah, dekat, dan pemandangannya indah.

Semua setuju.

Pagi-pagi sekali kami berangkat dengan penuh semangat. Tas carrier seadanya, peralatan pinjaman, bahkan ada yang baru pertama kali memakai sepatu gunung.

Di sepanjang perjalanan, kami saling mengejek.

"Kalau capek jangan nangis ya!"

"Yang takut lintah pulang aja sekarang!"

Gelak tawa memenuhi perjalanan.

Tak seorang pun menyangka bahwa tujuan kami akan berubah total.

Saat tiba di kawasan Kakek Bodo, salah seorang teman menunjuk ke arah pegunungan yang menjulang megah.

"Itu Gunung Welirang, kan?"

"Iya."

"Gimana kalau sekalian naik?"

Kalimat itu seperti menyalakan api.

"Sekali seumur hidup!"

"Mumpung masih muda!"

"Ayo!"

Satu demi satu mulai mengangguk.

Sepuluh orang langsung menyatakan setuju.

Enam orang sisanya, termasuk aku, sebenarnya ragu.

"Beneran, nih?"

"Kita nggak pernah naik gunung."

"Tapi kalau yang lain naik, masa kita nunggu di bawah?"

Akhirnya...

Karena suara terbanyak memutuskan mendaki, seluruh rombongan ikut naik.

Tak ada yang benar-benar siap.

Tak ada latihan.

Tak ada perencanaan matang.

Hanya semangat yang menggebu-gebu.

Untungnya, dari enam belas orang itu ada satu orang yang memang sudah berpengalaman mendaki.

Namanya Andi.

Tubuhnya tidak terlalu besar, tetapi langkahnya mantap dan wajahnya selalu tenang.

"Oke, mulai sekarang kita jalan sesuai instruksiku," katanya.

Tak seorang pun membantah.

Sejak saat itu Andi resmi menjadi kepala rombongan.

Ia memeriksa satu per satu barang bawaan kami.

"Ada air?"

"Ada."

"Obat?"

"Ada."

"Jangan ada yang jalan sendiri."

Kami mengangguk.

Sebelum mulai mendaki, Andi tersenyum lebar.

"Tenang aja."

"Kalian kuat."

"Nanti di atas ada yang jualan soto sama nasi pecel."

Seketika semangat semua orang kembali menyala.

"Serius?"

"Iya!"

"Wah... enak banget!"

Bayangan semangkuk soto hangat dan nasi pecel di tengah udara dingin membuat langkah kami terasa ringan.

Tak ada yang tahu...

Kalimat sederhana itu akan menjadi penyemangat terbesar sepanjang perjalanan.

Dan juga menjadi bahan candaan yang akan terus kami kenang bertahun-tahun kemudian.

Dengan penuh keyakinan, kami melangkahkan kaki memasuki jalur pendakian Gunung Welirang.

Tak ada yang sadar...

Petualangan sesungguhnya baru saja dimulai.

Komentar

populer

COUPLE JUARA - Bab 3

MENGEJAR SENJA YANG SAMA - BAB 1