MENGEJAR SENJA YANG SAMA - BAB 1
Pertemuan yang Mengubah Segalanya
Langit pagi di awal tahun ajaran baru begitu cerah. Bel sekolah SMP Negeri Harapan Bangsa berbunyi nyaring, menandakan seluruh siswa harus segera memasuki kelas masing-masing.
Seorang anak laki-laki bertubuh kurus dengan tas usang berjalan perlahan memasuki gerbang sekolah. Namanya Aldi Pratama.
Ia berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya bekerja sebagai sopir angkot, sedangkan ibunya berjualan gorengan di depan rumah. Sejak kecil Aldi terbiasa hidup hemat.
"Aldi, semangat sekolah ya. Belajar yang rajin supaya hidupmu lebih baik dari Bapak," pesan Pak Surya sebelum berangkat bekerja pagi itu.
Ucapan itu selalu terngiang di kepala Aldi.
Hari itu adalah hari pertama ia masuk kelas VII.
Saat memasuki ruang kelas, wali kelas mempersilakan seluruh siswa memperkenalkan diri.
Hingga tiba giliran seorang siswi yang membuat seluruh kelas mendadak tenang.
"Halo... namaku Kayna Lativa. Senang bisa berteman dengan kalian."
Suara lembutnya membuat Aldi tanpa sadar menoleh.
Rambutnya panjang sebahu, senyumnya manis, dan matanya teduh. Tidak berlebihan jika hampir semua siswa laki-laki langsung memperhatikannya.
"Silakan duduk di bangku kosong sebelah Aldi," kata wali kelas.
Aldi langsung gugup.
Kayna berjalan menuju bangku itu.
"Boleh aku duduk di sini?"
Aldi hanya mengangguk pelan.
"Iya..."
Sejak saat itu, hidup Aldi perlahan berubah.
Hari demi hari mereka mulai sering berbicara.
Awalnya hanya soal pelajaran.
"Ldi, boleh pinjam penghapus?"
"Boleh."
"Ldi, PR matematik nomor lima gimana?"
Aldi menjelaskan dengan sabar.
Ternyata Kayna cukup kesulitan memahami matematika.
Sejak itulah mereka sering belajar bersama di perpustakaan sepulang sekolah.
Namun, Aldi menyimpan semuanya sendiri.
Ia mulai menyukai Kayna
Bukan karena kecantikannya semata.
Melainkan karena Kayna selalu ramah kepada siapa pun.
Ia tidak pernah membeda-bedakan teman.
Bahkan ketika mengetahui Aldi berasal dari keluarga sederhana, Kayna tetap memperlakukannya dengan baik.
Suatu hari.
"Aldi."
"Iya?"
"Makasih ya udah sering ngajarin aku."
"Sama-sama."
"Kamu baik banget."
Kalimat sederhana itu membuat Aldi tersenyum sepanjang perjalanan pulang.
Sayangnya, perasaan Aldi mulai diketahui teman-temannya.
"Woiii..."
Riko menyenggol bahunya.
"Kamu suka Kayna ya?"
Aldi langsung panik.
"Enggak lah."
"Bohong."
"Setiap Kayna datang, mukamu merah."
Seluruh teman sekelas tertawa.
Aldi hanya menunduk malu.
Di sisi lain, Dimas—siswa paling populer di sekolah—juga mulai mendekati Kayna.
Dimas tampan, pintar bermain basket, dan berasal dari keluarga berada.
Hampir semua siswi mengaguminya.
Suatu sore Aldi melihat Dimas mengantar Kayna hingga gerbang sekolah.
Entah mengapa, dadanya terasa sesak.
"Mungkin memang dia lebih pantas..."
gumam Aldi pelan.
Malam itu Aldi sulit tidur.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Ia menyukai seseorang.
Namun ia juga sadar, dirinya bukan siapa-siapa.
Sejak hari itu Aldi membuat sebuah janji pada dirinya sendiri.
"Kalau aku belum bisa membahagiakan seseorang, aku harus membahagiakan orang tuaku dulu."
Ia mulai belajar lebih giat.
Datang paling pagi.
Pulang paling sore.
Rajin mengikuti lomba.
Rajin membantu guru.
Diam-diam semua itu ia lakukan bukan hanya demi nilai.
Tetapi karena ia ingin menjadi seseorang yang layak untuk dicintai.
Ia percaya...
Cinta sejati bukan hanya tentang menyatakan perasaan.
Melainkan tentang memperbaiki diri.
Dan tanpa Aldi sadari...
Perjalanan panjang mengejar cinta itu baru saja dimulai.
Bersambung ke Bab 2: "Perasaan yang Tak Pernah Terucap."
Komentar
Posting Komentar