COUPLE JUARA - Bab 3
Belajar Percaya
"Kepercayaan diri tidak lahir ketika semua orang memujimu. Ia tumbuh saat ada satu orang yang tetap percaya meski kamu sendiri masih meragukan dirimu."
Ruang pembinaan olimpiade berada di lantai tiga gedung sekolah.
Tidak terlalu besar, tetapi cukup tenang. Sebuah papan tulis putih memenuhi sisi depan ruangan. Di atas meja guru sudah tersusun beberapa buku soal olimpiade yang tebal.
Hari itu Alya datang lima belas menit lebih awal.
Ia memilih duduk di bangku paling belakang.
Seperti biasa.
Tak lama kemudian beberapa siswa lain berdatangan. Ada peserta dari kelas VII, VIII, hingga IX.
"Eh, itu Alya yang ikut lomba kemarin, ya?"
"Iya, katanya nilainya tinggi."
"Pendiam banget."
Alya pura-pura tidak mendengar.
Ia membuka buku catatan dan mulai menyalin rumus-rumus agar pikirannya tidak terganggu.
Pintu kelas terbuka.
"Selamat sore."
Suara yang sudah dikenalnya.
Arga.
Sebagai juara olimpiade tingkat sekolah tahun sebelumnya, ia diminta Bu Rina membantu membimbing adik kelas.
Begitu melihat Alya duduk sendiri, Arga hanya tersenyum kecil.
Tidak menghampiri.
Tidak membuat Alya menjadi pusat perhatian.
Sikap sederhana itu justru membuat Alya merasa dihargai.
"Baik, hari ini kita belajar logika bilangan."
Bu Rina mulai menjelaskan.
Beberapa soal ditulis di papan.
Semua peserta diminta mencoba menyelesaikannya.
Lima belas menit berlalu.
Belum ada yang mengangkat tangan.
Bu Rina tersenyum.
"Siapa yang mau mencoba?"
Ruangan hening.
Arga menoleh sekilas ke arah Alya.
Ia melihat gadis itu sebenarnya sudah selesai menulis jawaban.
Namun buku catatannya segera ditutup rapat.
"Kenapa ditutup?" bisik Arga saat Bu Rina sedang memeriksa pekerjaan peserta lain.
Alya berbisik pelan.
"Takut salah."
Arga menggeleng.
"Kalau salah, tinggal diperbaiki."
"Tapi kalau benar?"
Alya diam.
"Kamu kehilangan kesempatan membuat orang lain belajar."
Kalimat itu membuat Alya perlahan membuka kembali bukunya.
Dengan tangan sedikit gemetar, ia mengangkat tangan.
"Bu..."
Seluruh ruangan langsung menoleh.
Bu Rina tersenyum lebar.
"Silakan, Alya."
Jantung Alya terasa berdetak begitu keras hingga ia yakin semua orang bisa mendengarnya.
Ia berdiri di depan kelas.
Tangannya mulai menulis langkah demi langkah penyelesaian soal.
Ruangan sangat sunyi.
Beberapa peserta mulai mengangguk.
Ketika Alya selesai, Bu Rina tersenyum bangga.
"Jawabannya benar."
"Kalian lihat?"
"Penyelesaiannya bahkan lebih singkat."
Ruangan dipenuhi tepuk tangan kecil.
Alya menatap papan tulis beberapa detik.
Baru kali ini ia berdiri di depan banyak orang...
dan tidak ada satu pun yang menertawakannya.
Saat kembali ke bangku, Arga mengacungkan jempol.
Tanpa suara.
Namun cukup untuk membuat sudut bibir Alya terangkat.
Sejak hari itu, latihan menjadi rutinitas yang ditunggu Alya.
Setiap Selasa dan Kamis sore, ia datang ke ruang pembinaan.
Kadang mereka berdiskusi soal kombinatorik.
Kadang teori bilangan.
Kadang hanya saling menantang mengerjakan soal tercepat.
Arga tidak pernah memberinya jawaban.
Ia hanya memberi petunjuk.
"Coba pikirkan dari arah yang berbeda."
"Ada cara yang lebih sederhana."
"Kalau kamu jadi pembuat soal, apa yang ingin kamu jebak?"
Kalimat-kalimat itu membuat Alya mulai menikmati proses berpikir.
Bukan sekadar mencari jawaban.
Suatu sore listrik sekolah padam.
Ruangan menjadi agak gelap.
Bu Rina memutuskan latihan dihentikan lebih awal.
Sebagian siswa langsung pulang.
Namun Alya masih duduk memandangi soal yang belum selesai.
"Belum ketemu?"
Arga duduk di seberangnya.
Alya menggeleng.
"Aku sudah hampir satu jam."
Arga melihat soal itu sekilas.
Lalu mengambil selembar kertas kosong.
Alih-alih menulis rumus, ia menggambar sebuah labirin.
Alya mengernyit.
"Ini apa?"
"Soal matematika."
"Kan bukan."
"Iya."
"Tapi cara berpikirnya sama."
Arga menunjuk jalan buntu pertama.
"Kalau masuk sini, mentok."
Lalu menunjuk jalan lain.
"Kalau masuk sini, juga mentok."
"Artinya?"
"Kadang gagal bukan berarti bodoh."
"Hanya sedang mencoba jalan yang salah."
Alya memandang gambar itu lama.
Perlahan ia tersenyum.
"Kalau begitu..."
Ia kembali melihat soal.
Beberapa menit kemudian matanya berbinar.
"Aku tahu caranya!"
Arga tertawa puas.
"Nah, itu Alya yang aku kenal."
Padahal, pikir Alya dalam hati,
"Kamu bahkan belum benar-benar mengenalku."
Kedekatan mereka mulai diperhatikan teman-teman.
"Wih... setiap latihan bareng terus."
"Calon juara nih."
"Atau jangan-jangan..."
"Calon pasangan."
Suara tawa memenuhi koridor.
Wajah Alya langsung memerah.
Ia mempercepat langkah menuju perpustakaan.
Arga hanya menggeleng sambil tersenyum.
"Dasar mereka."
Namun sejak hari itu, julukan baru mulai terdengar di sekolah.
Tim Matematika.
Belum ada yang menyebut mereka pasangan.
Tetapi semua mulai melihat bahwa setiap kali ada soal sulit, nama Arga dan Alya hampir selalu disebut bersamaan.
Sore itu, sebelum pulang, Arga menghentikan langkah Alya.
"Ada yang mau aku kasih."
Ia menyerahkan sebuah buku.
Sampulnya sudah sedikit kusam.
"Apa ini?"
"Buku pertama yang kupakai waktu persiapan olimpiade."
Alya membelalakkan mata.
"Tapi... ini buku favoritmu."
"Iya."
"Aku percaya buku ini sekarang lebih berguna kalau ada di tanganmu."
Alya memegang buku itu hati-hati.
Di halaman pertama tertulis dengan tulisan tangan rapi.
"Jangan takut pada soal yang sulit. Takutlah jika berhenti mencoba."
— Arga Pratama
Alya menelusuri tulisan itu dengan ujung jarinya.
Bukan karena bukunya mahal.
Tetapi karena ia sadar...
Arga sedang memberikan sesuatu yang sangat berharga.
Bukan sekadar buku.
Melainkan kepercayaan.
Dan malam itu, sebelum tidur, Alya menyimpan buku itu di meja belajarnya.
Untuk pertama kalinya...
ia tidak lagi belajar hanya agar menjadi pintar.
Ia belajar karena ingin menjadi seseorang yang layak membalas kepercayaan yang telah diberikan kepadanya.
Komentar
Posting Komentar