MUBADOG - penutup

 

EPILOG

MUBADOG Tak Pernah Tua

Dua puluh lima tahun kemudian...

Suara notifikasi di telepon genggamku berbunyi.

Grup WhatsApp: MUBADOG 2001

Aku tersenyum sendiri.

Nama grup itu tidak pernah berubah sejak pertama kali dibuat beberapa tahun lalu.

Foto profilnya masih sama.

Foto enam belas anak muda dengan wajah dekil, rambut acak-acakan, jaket lusuh, dan senyum yang begitu lebar di lereng Gunung Welirang.

Aku memperbesar foto itu.

Lalu tertawa pelan.

"Ya Allah..."

"Kurus-kurus semua."

Tak lama kemudian muncul pesan baru.

Budi

"Reuni minggu depan jadi, kan?"

Rina

"Jadi dong. Jangan ada yang izin sakit."

Deni

"Yang nggak datang traktir sate satu RT."

Tak sampai lima menit, grup kembali ramai.

Persis seperti dulu.

Bedanya...

Kini obrolan kami lebih banyak membahas anak kuliah, cicilan rumah, pekerjaan, dan kesehatan.

Bukan lagi nilai ujian.

Bukan lagi guru piket.

Apalagi tugas OSIS.


Hari reuni akhirnya tiba.

Aku datang paling awal.

Sebuah rumah makan sederhana di kaki Gunung Welirang menjadi tempat pertemuan kami.

Entah siapa yang punya ide.

Namun semua sepakat.

Kalau reuni pertama...

Harus dekat gunung.

Tempat semuanya bermula.

Satu demi satu mereka datang.

"Astaga..."

"Budi?"

Aku hampir tidak mengenalinya.

Perutnya kini jauh lebih besar dibandingkan saat SMK.

Ia tertawa keras.

"Jangan lihat perutku!"

"Lihat semangatku!"

Kami tertawa bersama.

Tak lama kemudian Rina datang.

Masih dengan senyum yang sama.

Hanya kini di sampingnya berdiri seorang putri remaja yang wajahnya sangat mirip dengannya.

"Lho..."

"Ini anakmu?"

"Iya."

"Sudah SMA."

Aku menggeleng pelan.

Rasanya baru kemarin kami sama-sama mengenakan seragam abu-abu putih.

Sekarang...

Anak-anak kami sudah seusia kami saat mendaki dahulu.


Suasana semakin ramai.

Pelukan.

Tawa.

Tangis haru.

Semuanya bercampur menjadi satu.

Namun ada satu orang yang paling kami tunggu.

Andi.

Beberapa menit kemudian...

Sebuah mobil berhenti.

Seorang pria turun sambil tersenyum.

Rambutnya mulai dipenuhi uban.

Tetapi langkahnya masih setenang dulu.

"Itu dia!"

Semua spontan berdiri.

"Pak Ketua!"

teriak Budi.

Andi hanya tertawa.

"Aku bukan ketua lagi."

"Selamanya tetap ketua!"

jawab Deni.

Kami langsung memeluknya bergantian.

Aku memperhatikan wajahnya.

Waktu memang telah mengubah penampilannya.

Tetapi sorot matanya...

Masih sama seperti ketika ia berjalan paling depan di Gunung Welirang.


Acara reuni berlangsung hangat.

Kami saling bercerita tentang kehidupan masing-masing.

Ada yang menjadi guru.

Ada yang menjadi pengusaha.

Ada yang bekerja di luar kota.

Ada pula yang sudah pensiun.

Namun ketika makanan selesai disantap...

Budi tiba-tiba berdiri.

"Teman-teman..."

"Aku mau tanya."

"Siapa yang masih ingat..."

"...bau nasi minyak tanah?"

Ruangan langsung meledak oleh tawa.

Aku sampai memegang perut.

Rina menutup wajahnya.

Deni bahkan hampir tersedak minum.

"Jangan diingatkan lagi!"

"Aku masih trauma!"

Budi tertawa semakin keras.

"Far..."

"Kalau sekarang disuruh masak..."

"...masih pakai minyak tanah?"

Aku pura-pura melotot.

"Kali ini yang kumasak kamu!"

Semua kembali tertawa.

Tak ada yang berubah.

Meski usia kami sudah tidak muda lagi.

Candaan kami masih sama.


Lalu seseorang bertanya,

"Masih ingat waktu Far hilang?"

Ruangan mendadak hening.

Aku menoleh kepada Andi.

Ia tersenyum kecil.

"Waktu itu..."

"...aku benar-benar panik."

Aku terkejut.

"Lho?"

"Kamu kelihatannya tenang."

Andi menggeleng.

"Pemimpin nggak boleh ikut panik."

"Kalau aku panik..."

"...yang lain ikut panik."

Aku terdiam.

Baru setelah puluhan tahun berlalu, aku mengetahui isi hati Andi saat itu.

Ia ternyata sama takutnya dengan kami.

Hanya saja...

Ia memilih menyembunyikannya.


Tak lama kemudian Deni kembali membuka cerita.

"Yang paling nggak bisa kulupakan..."

"...waktu Andi dorong kita."

Budi langsung menunduk.

"Aku sampai mukul kamu."

Andi tersenyum.

"Nggak kerasa kok."

Budi menggeleng.

"Aku yang masih kerasa."

Suasana kembali hening.

Aku memandang wajah sahabat-sahabatku.

Keriput mulai tampak.

Rambut mulai memutih.

Namun ketika membicarakan Gunung Welirang...

Wajah kami berubah.

Kami kembali menjadi enam belas anak SMK yang nekat mendaki tanpa persiapan.


Sebelum acara berakhir, kami memutuskan berfoto bersama.

Kali ini bukan memakai seragam sekolah.

Bukan pula jaket gunung yang lusuh.

Melainkan pakaian sederhana dengan senyum yang tetap sama.

Seorang fotografer berkata,

"Senyum ya..."

Budi tiba-tiba berteriak,

"Bilangnya jangan 'cheese'!"

Semua menoleh.

"Lalu apa?"

Ia tersenyum lebar.

"Teriakkan..."

"MUBADOG!"

"MUBADOG...!!"

Klik...

Suara kamera mengabadikan momen itu.

Aku memandang hasil fotonya.

Ada yang berubah.

Ada yang tetap sama.

Usia berubah.

Wajah berubah.

Pekerjaan berubah.

Kehidupan berubah.

Namun persahabatan...

Tidak pernah berubah.


Dalam perjalanan pulang, aku kembali melihat puncak Gunung Welirang dari kejauhan.

Kabut tipis masih menyelimutinya.

Sama seperti dua puluh lima tahun yang lalu.

Aku tersenyum.

Kini aku mengerti.

Yang paling indah dari sebuah pendakian ternyata bukanlah puncaknya.

Melainkan orang-orang yang berjalan bersama kita.

Karena gunung hanya memberi kita satu hari untuk mendaki.

Tetapi sahabat...

Bisa memberi kenangan yang bertahan seumur hidup.

Dan setiap kali seseorang bertanya,

"Apa itu MUBADOG?"

Aku akan tersenyum.

Lalu menjawab,

"Itu bukan sekadar nama."

"Itu adalah rumah bagi enam belas sahabat yang pernah belajar tentang keberanian, kesetiaan, pengorbanan, dan arti pulang... di lereng Gunung Welirang."

Tamat.

Komentar

populer

COUPLE JUARA - Bab 3

MENGEJAR SENJA YANG SAMA - BAB 1

MUBADOG - Bab 1