MENGEJAR SENJA YANG SAMA - BAB 4
Jarak, Kesibukan, dan Cinta yang Mulai Menghilang
Hari-hari di bangku SMK terasa jauh berbeda bagi Aldi.
Ia mengambil jurusan Teknik Kendaraan Ringan. Setiap pagi, ia mengenakan wearpack abu-abu yang sering kali dipenuhi noda oli setelah praktik di bengkel sekolah.
Tangannya mulai terbiasa memegang kunci pas, membuka mesin, dan memperbaiki komponen kendaraan.
Sepulang sekolah, Aldi tidak langsung pulang untuk beristirahat.
Tiga kali dalam seminggu ia membantu pamannya di sebuah bengkel kecil agar bisa mendapatkan uang tambahan.
"Aldi, tolong ganti kampas rem motor ini," kata pamannya.
"Siap, Pakde."
Meski lelah, Aldi selalu mengerjakannya dengan sungguh-sungguh.
Ia tahu, setiap rupiah yang diperoleh bisa membantu meringankan beban orang tuanya.
Sementara itu, kehidupan Kayna di SMA tampak sangat berbeda.
Melalui media sosial, Aldi sesekali melihat unggahan teman-teman lamanya.
Kayna menjadi anggota paskibra, aktif di organisasi sekolah, dan sering mengikuti berbagai perlombaan.
Senyumnya masih sama seperti dulu.
Namun kini, banyak orang berada di sekelilingnya.
Aldi hanya bisa melihat dari layar ponselnya.
Ia tidak pernah memberi tanda suka atau berkomentar.
Bukan karena tidak peduli.
Melainkan karena ia takut berharap terlalu jauh.
Suatu malam, Riko menghubunginya.
"Ldi, besok reuni kecil alumni SMP, datang ya."
"Siapa saja yang datang?"
"Katanya Kayna juga datang."
Aldi terdiam.
Sudah hampir satu tahun mereka tidak bertemu.
"Aku usahakan."
Keesokan harinya, mereka berkumpul di sebuah taman kota.
Tawa kembali terdengar seperti masa SMP dahulu.
Tak lama kemudian, Kayna datang mengenakan kemeja putih dan celana jeans biru.
"Maaf ya, aku terlambat."
Semua menyambutnya dengan hangat.
Saat pandangan Aldi dan Kayna bertemu, keduanya sama-sama tersenyum.
"Hai, Aldi."
"Hai... Kayna."
"Apa kabar?"
"Baik."
"Kamu tambah tinggi."
Aldi tertawa kecil.
"Kamu juga... masih sama."
"Maksudnya?"
"Masih suka tersenyum."
Kayna tertawa pelan.
"Katanya senyum itu sedekah."
Percakapan mereka kembali mengalir seperti dulu.
Namun Aldi merasakan sesuatu yang berbeda.
Ada jarak yang tak terlihat.
Bukan karena mereka bertengkar.
Melainkan karena hidup mereka mulai berjalan ke arah yang berbeda.
Di tengah acara, Dimas datang.
Ia kini tampil lebih dewasa.
Tubuhnya atletis, rambutnya rapi, dan pembawaannya semakin percaya diri.
"Wah, lengkap nih."
Mereka pun mengobrol bersama.
Tanpa sengaja, Aldi melihat Dimas dan Kayna saling bercanda.
Sesekali mereka tertawa lepas.
Rasa cemburu itu kembali muncul.
Namun kali ini Aldi memilih menahannya.
Ia sadar, Kayna berhak berteman dengan siapa saja.
Menjelang sore, acara reuni selesai.
Saat semua hendak pulang, Kayna menghampiri Aldi.
"Ldi."
"Iya?"
"Aku dengar kamu sambil kerja di bengkel ya?"
"Iya."
"Capek nggak?"
"Capek sih... tapi seru."
Kayna mengangguk.
"Aku bangga sama kamu."
Kalimat sederhana itu membuat Aldi terdiam.
"Banyak orang yang memilih mengeluh. Tapi kamu malah berjuang buat bantu orang tua."
Aldi tersenyum.
"Masih banyak yang harus aku kejar."
Kayna memandang Aldi beberapa detik.
"Jangan lupa jaga kesehatan."
"Iya."
Mereka pun berpisah.
Malam itu, Aldi kembali membuka buku harian yang sudah lama tidak ia sentuh.
Ia menulis:
"Hari ini aku bertemu lagi dengannya. Senyumnya masih mampu membuatku lupa pada lelah. Tapi aku juga sadar, semakin dewasa, hidup bukan hanya soal perasaan. Ada cita-cita, tanggung jawab, dan masa depan yang harus diperjuangkan."
Ia menutup buku itu dan menatap langit dari jendela kamarnya.
Untuk pertama kalinya, ia mulai bertanya pada dirinya sendiri.
"Haruskah aku terus menunggu?"
Belum sempat menemukan jawabannya, ponselnya bergetar.
Sebuah notifikasi masuk dari media sosial.
Unggahan terbaru Kayna.
Foto bersama teman-teman SMA setelah memenangkan sebuah lomba.
Di kolom komentar, banyak ucapan selamat.
Salah satunya dari Dimas.
"Selamat ya, Kay. Kamu memang hebat!"
Beberapa menit kemudian, Kayna membalas.
"Terima kasih, Dim. Semoga sukses juga buat kamu."
Aldi memandangi layar ponselnya cukup lama.
Ia tidak merasa marah.
Hanya saja, ia mulai menyadari bahwa dunia Kayna semakin luas, sementara ia masih sibuk membangun masa depannya dari nol.
Malam itu ia mengambil sebuah keputusan.
Mulai hari itu, ia tidak akan lagi mengejar Kayna dengan harapan kosong.
Ia akan mengejar impiannya terlebih dahulu.
Jika suatu hari takdir mempertemukan mereka kembali, ia ingin berdiri di hadapan Kayna bukan sebagai anak yang masih bergantung pada orang tua, melainkan sebagai laki-laki yang mampu bertanggung jawab atas hidupnya sendiri.
Di dalam hatinya, cinta itu belum padam.
Namun kini, cinta itu berubah menjadi motivasi untuk terus melangkah.
Dan tanpa disadari Aldi, perjalanan yang lebih berat sedang menunggunya. Kelak, sebuah kabar tentang Kayna akan menguji keteguhan hatinya seperti tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Bersambung ke Bab 5: "Kabar yang Menghancurkan Harapan."
Komentar
Posting Komentar