MENGEJAR SENJA YANG SAMA - BAB 6

Pertemuan Tak Terduga Setelah Bekerja

Hari pertama bekerja menjadi pengalaman yang tidak akan pernah dilupakan Aldi.

Ia diterima sebagai teknisi junior di sebuah perusahaan otomotif yang cukup besar di kota. Seragam biru tua lengkap dengan logo perusahaan membuatnya berdiri lebih tegap saat bercermin.

Pak Surya menatap putranya dengan mata berkaca-kaca.

"Alhamdulillah... sekarang anak Bapak sudah jadi karyawan."

Aldi tersenyum sambil mencium tangan kedua orang tuanya.

"Semua karena doa Bapak dan Ibu."

Sejak hari itu, kehidupan Aldi mulai berubah.

Ia bangun pukul lima pagi, berangkat bekerja sebelum matahari terbit, lalu pulang menjelang malam. Gaji pertamanya tidak ia gunakan untuk membeli barang mewah.

Ia justru membeli sebuah mukena baru untuk ibunya, sepatu kerja untuk ayahnya, dan menyisihkan sebagian penghasilannya untuk ditabung.

Saat Bu Santi menerima hadiah itu, air matanya kembali jatuh.

"Kenapa uangmu dipakai buat Ibu?"

Aldi tersenyum.

"Dari dulu Ibu yang selalu mendahulukan aku. Sekarang gantian aku yang ingin membahagiakan Ibu."

Pak Surya hanya menepuk bahu Aldi dengan bangga.


Enam bulan kemudian, Aldi mulai dipercaya menangani pekerjaan yang lebih besar. Atasannya menyukai sikapnya yang disiplin, jujur, dan tidak mudah mengeluh.

Suatu hari, perusahaan mengirim Aldi mengikuti pelatihan teknisi di sebuah hotel.

Pelatihan itu diikuti peserta dari berbagai perusahaan.

Saat waktu istirahat tiba, Aldi berjalan menuju area lobi sambil membawa secangkir kopi.

Tiba-tiba seseorang memanggil namanya.

"...Aldi?"

Ia menoleh.

Beberapa meter di depannya berdiri seorang perempuan dengan blazer krem dan membawa map berisi dokumen.

Rambutnya kini lebih panjang daripada saat SMA.

Wajahnya terlihat lebih dewasa, tetapi senyumnya masih sama.

"Kayna?"

Perempuan itu tersenyum lebar.

"Masya Allah... ternyata benar kamu."

Selama beberapa detik mereka hanya saling memandang, seolah tidak percaya bisa bertemu lagi setelah sekian lama.


"Ya ampun, sudah berapa tahun ya kita nggak ketemu?" tanya Kayna sambil tertawa kecil.

"Hampir empat tahun."

"Empat tahun..."

"Waktu cepat sekali."

Mereka akhirnya duduk di sebuah kafe kecil di dalam hotel.

"Jadi... sekarang kerja di mana?" tanya Kayna.

Aldi menjelaskan tempatnya bekerja.

Kayna mengangguk kagum.

"Hebat ya. Dulu kamu bilang ingin membanggakan orang tua. Sekarang kamu benar-benar mewujudkannya."

Aldi tersenyum malu.

"Masih banyak yang harus aku capai."

"Kalau kamu?"

"Aku bekerja di perusahaan konsultan. Baru setahun."

"Wah, selamat."

"Terima kasih."

Obrolan mereka mengalir tanpa terasa.

Mereka mengenang masa SMP, lomba cerdas cermat, perpustakaan, hingga hujan yang pernah mereka lalui di bawah satu payung.

"Aku masih ingat waktu kamu selalu bawa buku ke mana-mana," kata Kayna sambil tertawa.

"Aku juga masih ingat kamu selalu lupa bawa penghapus."

Kayna menutup wajahnya karena malu.

"Ih... ternyata kamu masih ingat."

"Masih."


Di tengah tawa itu, tiba-tiba seorang pria menghampiri meja mereka.

"Nay, ternyata kamu di sini."

Pria itu mengenakan kemeja putih dengan kartu identitas perusahaan yang sama dengan Kayna.

"Oh, Aldi, kenalin. Ini teman satu timku, Arga."

Aldi berdiri dan menjabat tangan Arga.

"Salam kenal."

"Salam kenal juga."

Arga tersenyum ramah.

"Kay,  lima belas menit lagi sesi berikutnya dimulai."

"Iya, sebentar."

Setelah Arga pergi, Aldi tidak bisa menahan rasa penasarannya.

"Itu... teman kantor?"

"Iya."

"Sering kerja bareng?"

"Sering."

Entah mengapa, pertanyaan itu keluar begitu saja.

Kayna memperhatikan wajah Aldi beberapa saat, lalu tersenyum tipis.

"Kamu masih gampang ketahuan."

"Maksudnya?"

"Kalau lagi penasaran."

Aldi tertawa canggung.


Sebelum kembali ke ruang pelatihan, mereka bertukar nomor telepon yang baru.

"Jangan sampai hilang lagi ya," kata Kayna.

"Iya."

"Kalau ada waktu, kita reuni berdua... eh, maksudku reuni sama teman-teman juga."

Aldi tersenyum.

"Boleh."

Namun sebelum mereka berpisah, Kayna berkata pelan,

"Ldi..."

"Iya?"

"Aku senang lihat kamu sekarang."

"Kenapa?"

"Karena kamu masih jadi Aldi yang dulu. Tetap rendah hati."

Kalimat itu membuat Aldi terdiam.

Sudah lama ia tidak mendengar pujian setulus itu.


Malam harinya, ponsel Aldi berbunyi.

Sebuah pesan dari Kayna.

Kayna

:
"Makasih ya, hari ini seru banget. Rasanya kayak balik ke masa SMP."

Aldi tersenyum sebelum membalas.

Aldi:
"Iya. Aku juga senang bisa ketemu lagi."

Beberapa detik kemudian, Kayna kembali mengirim pesan.

Kayna:

"Lain kali kita ngopi lagi."

Aldi memandangi layar ponselnya cukup lama.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, harapan kecil itu kembali muncul di dalam hatinya.

Namun ia memilih tetap berhati-hati.

Ia tidak ingin terburu-buru menyimpulkan apa pun.

Ia ingin mengenal Kayna yang sekarang, bukan hanya terus hidup dalam kenangan masa lalu.

Di sisi lain, Kayna menatap layar ponselnya sambil tersenyum. Dalam hati, ia mengakui bahwa pertemuan hari itu membangkitkan kembali rasa nyaman yang pernah ia rasakan saat masih duduk di bangku SMP.

Tanpa mereka sadari, takdir mulai mempertemukan kembali dua hati yang selama ini berjalan di jalan yang berbeda.

Bersambung ke Bab 7: "Rahasia yang Selama Ini Disimpan Kayna."

Komentar

populer

COUPLE JUARA - Bab 3

MENGEJAR SENJA YANG SAMA - BAB 1

MUBADOG - Bab 1