MENGEJAR SENJA YANG SAMA - BAB 2

 

Perasaan yang Tak Pernah Terucap

Waktu berjalan begitu cepat.

Tak terasa Aldi dan Kayna sudah hampir satu semester duduk di bangku kelas VII.

Mereka semakin akrab.

Jika ada tugas kelompok, mereka hampir selalu berada dalam kelompok yang sama. Saat jam istirahat, Kayna sering menghampiri Aldi di perpustakaan, tempat favoritnya membaca buku.

"Di sini lagi?" tanya Kayna sambil tersenyum.

Aldi menutup buku IPA yang sedang dibacanya.

"Iya. Di sini lebih tenang."

Kayna mengangguk.

"Aku juga suka. Rasanya adem."

Mereka lalu belajar bersama hingga bel masuk berbunyi.

Bagi Aldi, momen-momen sederhana seperti itu sudah cukup membuat harinya terasa indah.


Suatu hari sekolah mengadakan lomba cerdas cermat antar kelas.

Wali kelas memilih tiga siswa terbaik.

"Aldi."

"Siap, Bu."

"Kayna"

"Iya, Bu."

"Dan Dimas."

Seluruh kelas bertepuk tangan.

Aldi sempat merasa canggung karena harus satu tim dengan Dimas.

Namun Dimas justru menepuk pundaknya.

"Kita harus menang."

Aldi tersenyum tipis.

"Iya."

Latihan dilakukan setiap sore sepulang sekolah.

Selama latihan itulah Aldi melihat sisi lain dari Dimas.

Ia ternyata bukan anak sombong seperti yang sering dibicarakan orang. Dimas ramah, percaya diri, dan mudah bergaul. Ia bahkan sering membantu Aldi memahami soal-soal IPS yang menjadi kelemahan Aldi.

Sejak saat itu, Aldi mulai menghormati Dimas.

Meski begitu, setiap kali melihat Dimas bercanda dengan Kayna , ada rasa yang sulit dijelaskan muncul di dalam hatinya.


Hari perlombaan pun tiba.

Tim kelas VII-B berhasil menjadi juara pertama.

Saat nama mereka diumumkan, seluruh siswa bersorak.

Kayna begitu bahagia hingga tanpa sadar memeluk Aldi dan Dimas bersamaan.

"Yeay! Kita menang!"

Aldi membeku beberapa detik.

Wajahnya memerah.

Jantungnya berdetak begitu cepat.

Sementara Kayna baru menyadari apa yang dilakukannya.

"Eh... maaf..."

Aldi hanya tersenyum gugup.

"Gak apa-apa."

Sejak hari itu, senyum Kayna semakin sulit hilang dari ingatan Aldi.


Beberapa minggu kemudian, sekolah mengadakan kegiatan kemah.

Malam itu seluruh siswa berkumpul mengelilingi api unggun.

Setelah acara selesai, mereka diberi waktu bebas.

Riko tiba-tiba duduk di samping Aldi.

"Ldi."

"Hm?"

"Kapan kamu mau bilang sama Kayna?"

Aldi tersenyum pahit.

"Bilang apa?"

"Ya... kalau kamu suka sama dia."

Aldi menggeleng.

"Aku belum siap."

"Kenapa?"

"Aku cuma anak sopir angkot."

Riko langsung menatap Aldi.

"Terus kenapa?"

"Aku belum punya apa-apa."

"Perasaan gak butuh harta."

Aldi tersenyum kecil.

"Mungkin sekarang iya."

"Tapi nanti?"

Riko terdiam.

Aldi melanjutkan dengan suara pelan.

"Aku ingin kalau suatu hari aku menyatakan perasaan, aku datang bukan hanya membawa cinta... tapi juga masa depan."

Ucapan itu membuat Riko ikut terdiam.


Tanpa mereka sadari, dari kejauhan Kayna melihat Aldi sedang berbicara dengan Riko.

Ia penasaran.

"Ngomongin apa ya mereka?"

Namun ia memilih tidak menghampiri.


Semester demi semester berlalu.

Nilai Aldi selalu masuk tiga besar.

Ia menjadi salah satu siswa yang paling disegani guru.

Sementara Kayna  dikenal sebagai siswi yang aktif di berbagai kegiatan sekolah.

Hubungan mereka tetap dekat.

Namun tidak pernah melewati batas persahabatan.

Aldi memilih menyimpan perasaannya rapat-rapat.

Baginya, persahabatan jauh lebih berharga daripada kehilangan Kayna karena pengakuan yang belum tentu diterima.


Menjelang kenaikan kelas, sekolah mengadakan pentas seni.

Setelah acara selesai, hujan turun sangat deras.

Banyak siswa menunggu jemputan.

Aldi berdiri di teras sekolah sambil memandangi hujan.

Tiba-tiba Kayna datang membawa payung.

"Kamu belum pulang?"

"Nunggu hujan reda."

"Ayo pulang."

"Lho?"

"Kita searah, kan? Pakai payung berdua aja."

Aldi sempat ragu.

Namun akhirnya mereka berjalan berdampingan di bawah satu payung kecil.

Karena jalan yang sempit, jarak mereka begitu dekat.

Aldi bisa mendengar suara hujan yang jatuh di atas payung, juga aroma wangi sampo dari rambut Kayna. 

Di tengah perjalanan, Kayna berkata pelan,

"Ldi..."

"Iya?"

"Kalau nanti kita lulus SMP..."

"Aku harap kita tetap berteman ya."

Aldi tersenyum.

"Iya."

Padahal, di dalam hatinya ia ingin mengatakan sesuatu yang jauh berbeda.

"Aku ingin lebih dari sekadar teman."

Namun kata-kata itu tetap terkunci.

Ia belum merasa pantas mengucapkannya.


Malam itu, sebelum tidur, Aldi menulis sebuah kalimat di buku hariannya.

"Cinta bukan tentang siapa yang lebih dulu menyatakan. Tapi siapa yang mampu bertahan memperjuangkannya tanpa memaksa."

Ia menutup buku itu perlahan.

Di luar jendela, hujan telah berhenti.

Namun perjalanan hati Aldi baru saja memasuki awal yang sesungguhnya.

Bersambung ke Bab 3: "Perpisahan SMP dan Janji yang Belum Terucap."

Komentar

populer

COUPLE JUARA - Bab 3

MENGEJAR SENJA YANG SAMA - BAB 1

MUBADOG - Bab 1