MUBADOG - Bab 7

 

Negeri di Atas Awan

Langkahku semakin pelan.

Bukan karena menyerah.

Melainkan karena jalur menuju puncak benar-benar menguras tenaga.

Semakin tinggi aku mendaki, pepohonan besar mulai menghilang. Yang tersisa hanyalah semak belukar, bebatuan, dan tanah berpasir yang sesekali membuat kakiku tergelincir.

Angin bertiup lebih kencang.

Udara terasa jauh lebih dingin dibandingkan Pos Pet Bocor.

Aku berhenti sejenak untuk mengatur napas.

"Masih kuat..."

gumamku pelan.

Kata-kata Andi semalam kembali terngiang.

"Kalau niatmu sudah sampai di puncak, badanmu akan mengikuti."

Aku tersenyum.

"Ayo, Far..."

"Satu langkah lagi."

Aku kembali berjalan.

Di sepanjang perjalanan, beberapa rombongan pendaki turun dari arah puncak.

"Semangat, Mbak!"

"Dikit lagi!"

"Jangan berhenti sekarang!"

Aku membalas setiap sapaan dengan senyum.

Aneh sekali.

Kami tidak saling mengenal.

Namun di gunung, semua orang seperti saudara.

Tak ada yang pelit memberi semangat.

Tak ada yang membiarkan pendaki lain merasa sendirian.


Beberapa puluh menit kemudian...

Jalur mulai melandai.

Langit terbuka lebar.

Angin bertiup begitu kencang hingga membuat jilbabku berkibar.

Aku mempercepat langkah.

Dadaku berdebar.

Benarkah...

Aku sudah sampai?

Lalu...

Sebuah papan kayu sederhana berdiri di hadapanku.

PUNCAK WELIRANG

Aku terpaku.

Beberapa detik aku hanya berdiri diam.

Semua rasa lelah.

Semua pegal.

Semua napas yang tersengal.

Seolah lenyap begitu saja.

Mataku mulai berkaca-kaca.

"Aku berhasil..."

Kalimat itu keluar hampir berbisik.

Aku memutar tubuh perlahan.

Di hadapanku terbentang pemandangan yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Gunung-gunung berdiri gagah di kejauhan.

Hamparan awan putih mengalir seperti lautan.

Langit tampak begitu dekat.

Angin membawa aroma belerang yang khas.

Sesekali terdengar suara desis dari kawah di kejauhan.

Aku berdiri mematung.

Rasanya sulit dipercaya.

Anak perempuan yang kemarin hanya berniat berkemah di Air Terjun Kakek Bodo...

Kini berdiri di puncak Gunung Welirang.

Aku menutup mata.

Menghirup udara sedalam mungkin.

"Terima kasih, Ya Allah..."

Tak ada kata yang mampu menggambarkan perasaan saat itu.

Bukan karena merasa hebat.

Bukan pula karena ingin membuktikan sesuatu kepada orang lain.

Tetapi karena aku berhasil mengalahkan rasa takutku sendiri.

Aku duduk di sebuah batu besar.

Mengeluarkan kamera saku yang kubawa.

Seorang pendaki menghampiri.

"Mbak, mau difotoin?"

Aku tersenyum.

"Boleh, Mas."

Ia mengambil beberapa foto.

Lalu kami saling mengucapkan terima kasih.

Tak lama kemudian ia dan rombongannya turun.

Aku kembali sendirian.

Aku memandang jam tangan.

Waktu sudah menunjukkan hampir tengah hari.

"Harus turun."

Aku berdiri.

Masih sempat menoleh sekali lagi ke arah puncak.

Dalam hati aku berjanji.

"Suatu hari nanti aku akan kembali."


Perjalanan turun dimulai dengan penuh semangat.

Aku bahkan bersiul kecil.

Langkah terasa ringan.

Beberapa kali aku berpapasan dengan rombongan yang baru naik.

"Puncaknya jauh, Mbak?"

"Nggak terlalu."

"Semangat ya!"

Mereka tersenyum.

Aku melanjutkan perjalanan.

Semakin lama...

Pendaki yang kutemui mulai berkurang.

Aku mengira mungkin karena mereka sedang beristirahat di bawah.

Aku tetap berjalan.

Sesekali berhenti minum.

Sesekali menikmati pemandangan.

Namun setelah cukup lama berjalan...

Aku mulai merasa ada yang aneh.

Jalur di depanku mulai sepi.

Tak terdengar suara orang berbicara.

Tak ada tawa.

Tak ada suara langkah kaki.

Hanya desir angin.

Aku berhenti.

Menoleh ke belakang.

Kosong.

Menoleh ke depan.

Juga kosong.

"Ke mana semua orang?"

Aku mencoba menenangkan diri.

"Mungkin mereka sudah jauh di depan."

Aku kembali berjalan.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Lima belas menit.

Tetap tidak ada siapa-siapa.

Perasaan yang tadi tenang perlahan berubah menjadi gelisah.

Aku mempercepat langkah.

"Harusnya aku sudah ketemu rombongan..."

Bukankah tadi banyak pendaki?

Bukankah Pos Pet Bocor tidak terlalu jauh?

Kenapa sekarang justru semakin sepi?

Aku mencoba mengingat jalur yang kulewati saat naik.

Namun semua pohon terlihat sama.

Semua tikungan terasa mirip.

Semua batu tampak serupa.

Aku mulai menarik napas lebih cepat.

"Jangan panik..."

kataku pada diri sendiri.

"Jangan panik..."

Aku terus berjalan mengikuti jalur yang menurutku benar.

Beberapa menit kemudian...

Di kejauhan terlihat dua pohon besar berdiri berdampingan.

Batangnya sangat tinggi.

Akarnya mencuat keluar dari tanah seperti pagar alami.

Aku berhenti.

Entah mengapa...

Hatiku terasa tidak nyaman.

Namun kupikir itu hanya karena aku mulai lelah.

Aku kembali melangkah.

Tinggal beberapa langkah lagi aku akan melewati celah di antara dua pohon itu.

Tiba-tiba...

Dari arah belakang terdengar suara langkah kaki yang sangat cepat.

Duk...

Duk...

Duk...

Semakin lama...

Semakin dekat.

Aku membeku.

Bulu kudukku berdiri.

Aku tidak berani menoleh.

Suara itu kini seperti berlari mengejarku.

Jantungku berdegup begitu keras hingga rasanya memenuhi telingaku.

"Siapa...?"

"Kenapa berlari ke arahku?"

Tak ada pendaki lain.

Tak ada suara manusia.

Hanya aku...

Dan seseorang yang kini berlari semakin dekat dari belakang.

Aku menggenggam erat tali tasku.

Kakiku bersiap melangkah melewati celah dua pohon itu.

Saat itulah...

Sebuah tangan kuat tiba-tiba meraih lenganku.

Aku refleks menjerit.

"AAAAAA...!!"

Bersambung...

Komentar

populer

COUPLE JUARA - Bab 3

MENGEJAR SENJA YANG SAMA - BAB 1

MUBADOG - Bab 1