MUBADOG - Bab 6
Langkah yang Tak Mau Berhenti
Malam di Pos Pet Bocor 1, terasa begitu singkat.
Aku bahkan merasa baru saja memejamkan mata ketika suara burung hutan mulai terdengar bersahutan. Udara dingin menyelinap masuk melalui celah-celah tenda, membuatku menggigil.
Kubuka sedikit resleting tenda.
Langit di ufuk timur mulai berubah warna. Semburat jingga perlahan mengusir gelap malam. Kabut tipis menggantung di antara pepohonan, sementara embun masih menempel di setiap helai rumput.
Pemandangan itu begitu indah.
Aku menghirup udara dalam-dalam.
"Masya Allah..."
Tak ada suara kendaraan.
Tak ada klakson.
Tak ada hiruk-pikuk kota.
Yang terdengar hanyalah desir angin dan nyanyian alam.
Aku menoleh ke dalam tenda.
Teman-temanku masih terlelap.
Budi tidur sambil memeluk carrier-nya. Deni mendengkur pelan. Rina bahkan masih meringkuk rapat di dalam sleeping bag, enggan berpisah dengan hangatnya tenda.
Aku tersenyum sendiri.
"Bangun..."
kataku pelan.
Tak ada yang bergerak.
Aku menggoyang bahu Rina.
"Rin..."
"Hmmm..."
"Udah pagi."
"Bentar lagi..."
Ia kembali menarik sleeping bag hingga menutupi wajahnya.
Aku berpindah ke Budi.
"Bud..."
"Ayo lanjut naik."
Budi membuka satu mata.
"Naik apa?"
"Ke puncak."
Ia langsung menutup mata lagi.
"Puncaknya suruh turun saja."
Aku tertawa.
"Kamu serius?"
"Serius."
"Aku capek."
Satu per satu teman kubangunkan.
Jawabannya hampir sama.
"Far..."
"Aku nggak kuat."
"Kakiku masih sakit."
"Napas masih berat."
"Kalau aku lanjut, mungkin yang sampai puncak cuma carrier-ku."
Aku mulai kecewa.
Semalam kami begitu bersemangat.
Kini semangat itu seolah menguap bersama dinginnya pagi.
Saat itulah Andi keluar dari tendanya.
Ia membawa secangkir kopi yang masih mengepulkan asap.
"Udah bangun semua?"
"Belum ada yang mau lanjut," jawabku.
Andi melihat teman-teman yang masih setengah tertidur.
Ia mengangguk pelan.
"Wajar."
"Mereka baru pertama naik gunung."
"Lima jam kemarin sudah cukup menguras tenaga."
Aku menatap jalur yang mengarah ke atas.
Hatiku terasa gelisah.
Rasanya sayang sekali jika sudah sejauh ini tetapi tidak sampai puncak.
Andi memperhatikanku.
"Kamu masih pengen naik?"
Aku mengangguk mantap.
"Iya."
"Beneran?"
"Iya."
Andi tersenyum tipis.
"Lelah?"
"Pasti."
"Takut?"
"Sedikit."
"Lalu kenapa masih ingin naik?"
Aku terdiam beberapa saat.
"Aku nggak tahu."
"Rasanya..."
"...kalau pulang sekarang..."
"...aku bakal menyesal."
Andi mengangguk.
Lalu ia mengucapkan kalimat yang sampai sekarang masih kuingat.
"Kalau niatmu sudah sampai di puncak..."
"...biasanya badan akan mengikuti."
"Lelah tetap ada."
"Tapi niat membuat kita terus melangkah."
Aku menarik napas panjang.
Kalimat itu seperti menyiram semangatku yang hampir padam.
"Aku naik."
Teman-teman langsung menoleh.
"Sendiri?"
"Iya."
Rina terlihat khawatir.
"Far..."
"Yakin?"
Aku mengangguk.
"Cuma sebentar."
"Nanti aku balik lagi."
Andi berpikir sejenak.
"Lewat jalur utama."
"Jangan keluar jalur."
"Kalau merasa capek atau cuaca berubah..."
"...langsung balik."
Aku mengangguk.
"Iya."
"Jangan terlalu lama."
"Siap."
Aku memperbaiki tali carrier kecil yang hanya berisi air minum dan beberapa makanan ringan.
Tak banyak bekal kubawa.
Aku yakin perjalanan tidak akan terlalu lama.
Saat mulai melangkah, teman-teman melambaikan tangan.
"Hati-hati ya!"
"Jangan lupa foto di puncak!"
"Bawa soto kalau ketemu!"
Aku tertawa sambil mengacungkan jempol.
"Lihat nanti!"
Langkah demi langkah mulai kutapaki.
Berbeda dengan kemarin yang ramai oleh suara tawa rombongan, pagi itu aku berjalan sendirian.
Anehnya...
Aku justru menikmati kesunyian itu.
Suara sepatuku menginjak tanah terdengar begitu jelas.
Sesekali burung melintas di atas kepalaku.
Kabut perlahan tersibak, memperlihatkan lereng-lereng hijau yang luar biasa indah.
Beberapa rombongan pendaki menyalipku.
"Semangat, Mbak!"
"Semangat!"
Aku membalas dengan senyum.
Ada pula yang turun dari puncak.
"Wah, dikit lagi."
"Masih jauh, Mas?"
"Nggak terlalu."
Jawaban itu membuatku semakin bersemangat.
Aku terus melangkah.
Tak lagi menghitung waktu.
Tak lagi memikirkan rasa lelah.
Yang ada di kepalaku hanya satu.
Puncak.
Semakin tinggi aku mendaki, vegetasi mulai berubah.
Pepohonan besar mulai berkurang.
Digantikan semak-semak dan bebatuan.
Angin bertiup lebih kencang.
Udara semakin tipis.
Napas mulai memburu.
Aku berhenti sejenak.
Di depanku tampak sebuah tempat yang cukup lapang.
Seorang pendaki berkata,
"Itu Pet Bocor Kedua."
Aku mengangguk.
Sebagian besar pendaki memilih duduk di sana.
Ada yang makan.
Ada yang minum.
Ada pula yang memutuskan tidak melanjutkan perjalanan.
Aku ikut duduk beberapa menit.
Kakiku terasa pegal.
Dalam hati muncul suara kecil.
"Sudah sampai sini saja."
"Tidak usah lanjut."
Namun suara lain segera menjawab.
"Sedikit lagi."
"Kalau menyerah sekarang..."
"...kapan lagi?"
Aku berdiri.
Mengencangkan tali tas.
Lalu kembali melangkah.
Tanpa kusadari...
Keputusan sederhana untuk meninggalkan Pet Bocor Kedua itulah yang akan membawaku pada perjalanan paling menegangkan dalam hidupku.
Perjalanan yang membuatku nyaris kehilangan arah.
Dan mempertemukanku dengan seseorang yang tak pernah kuduga sebelumnya.
Komentar
Posting Komentar