MUBADOG - Bab 10

 

Jalan Pulang

Tak ada lagi yang bercanda.

Sejak kejadian di bibir jurang, rombongan kami berjalan dalam diam. Masing-masing larut dalam pikirannya sendiri. Langkah kaki yang sejak tadi terdengar riuh kini hanya menyisakan bunyi gesekan sepatu dengan tanah basah.

Aku berjalan beberapa langkah di belakang Andi.

Sesekali aku memperhatikan punggungnya.

Punggung yang sejak awal pendakian selalu berada di depan kami.

Punggung yang tak pernah berhenti memastikan semua anggotanya lengkap.

Punggung yang baru saja menjadi tameng bagi enam belas anak muda yang nyaris kehilangan arah.

"Di..."

Aku memanggil pelan.

Andi menoleh sambil tersenyum.

"Iya, Far?"

"Masih sakit?"

Ia melihat lengannya yang mulai membiru akibat pukulan dan benturan tadi.

"Ah..."

"Cuma memar sedikit."

"Cuma sedikit, katanya," celetuk Budi yang mendengar percakapan kami.

Budi berjalan mendekat.

Wajahnya masih dipenuhi rasa bersalah.

"Di..."

"Aku benar-benar minta maaf."

"Tadi aku emosi."

"Aku nggak lihat jurangnya."

Andi menepuk bahu Budi.

"Kalau jadi kamu, mungkin aku juga marah."

"Tapi..."

Budi menunduk.

"Aku mukul kamu."

Andi tersenyum.

"Yang penting sekarang kita semua masih jalan bareng."

Kalimat sederhana itu membuat suasana kembali hangat.


Perjalanan terus berlanjut.

Kabut mulai menipis.

Sinar matahari sore kembali menerobos sela-sela pepohonan.

Suasana hutan yang tadi terasa mencekam kini perlahan berubah ramah.

Suara burung kembali terdengar.

Angin pun tak lagi terasa sedingin sebelumnya.

Entah mengapa...

Setelah lolos dari dua kejadian besar hari itu—tersesat dan hampir masuk jurang—kami justru lebih banyak bersyukur daripada mengeluh.

Setiap langkah terasa seperti hadiah.

Masih bisa menghirup udara.

Masih bisa tertawa.

Masih bisa saling mengejek.

Itu saja sudah cukup.


Menjelang senja, kami akhirnya tiba kembali di Pos Pet Bocor 1.

Tenda-tenda yang tadi pagi masih ramai kini mulai dibongkar para pendaki.

Beberapa wajah bahkan mengenali kami.

"Lho..."

"Ini rombongan nasi minyak tanah, ya?"

Spontan semua tertawa.

"Iya, Pak!"

Budi menjawab sambil mengangkat tangan.

"Kami yang terkenal itu."

Pendaki tadi tersenyum.

"Gimana? Masih hidup semua?"

"Alhamdulillah."

"Lengkap."

"Enam belas orang."

Aku ikut tertawa.

Ternyata cerita kami sudah lebih dulu menyebar di antara para pendaki.

Seorang ibu bahkan berkata sambil tersenyum,

"Nanti kalau pulang, jangan masak nasi pakai minyak tanah lagi ya."

Semua kembali tertawa.

Aku sampai menutupi wajah karena malu.

"Siap, Bu."


Setelah beristirahat sebentar, kami melanjutkan perjalanan turun menuju gerbang pendakian.

Jalur yang kemarin terasa sangat berat kini perlahan terasa lebih ringan.

Mungkin karena hati kami sudah tenang.

Atau mungkin...

Karena setiap orang sudah belajar sesuatu dari gunung ini.

Budi belajar agar tidak lagi bercanda berlebihan.

Aku belajar bahwa keberanian harus selalu disertai kewaspadaan.

Deni belajar bahwa keputusan spontan bisa membawa akibat besar.

Dan kami semua belajar bahwa seorang pemimpin kadang harus mengambil keputusan yang tidak populer demi keselamatan bersama.


Matahari hampir tenggelam ketika gerbang pendakian mulai terlihat.

"Gerbang!"

teriak Rina sambil menunjuk ke depan.

Semua spontan mempercepat langkah.

Begitu benar-benar melewati gerbang, terdengar sorak sorai yang menggema.

"Alhamdulillah...!"

"Kita sampai!"

"Selamat!"

Satu per satu kami saling berpelukan.

Tak ada medali.

Tak ada piagam.

Namun rasanya seperti baru saja memenangkan perlombaan terbesar dalam hidup.

Andi menghitung kami sekali lagi.

"Satu..."

"Dua..."

"..."

"Enam belas."

Ia tersenyum lega.

"Lengkap."

Kata itu terdengar sederhana.

Namun bagiku, itulah pencapaian terbesar hari itu.

Bukan berhasil mencapai puncak.

Bukan berhasil mendaki gunung.

Melainkan...

Berhasil pulang bersama.


Sebelum pulang ke rumah masing-masing, kami duduk sebentar di pelataran dekat parkiran.

Tubuh kami penuh debu.

Sepatu berlumpur.

Wajah kelelahan.

Namun senyum tak pernah lepas dari bibir kami.

Budi tiba-tiba berdiri.

"Perhatian!"

Semua menoleh.

"Hari ini..."

"...secara resmi..."

"...kelompok MUBADOG dinyatakan lulus ujian pendakian pertama!"

"Hidup MUBADOG!"

"Hidup!"

Suara tawa kami kembali memenuhi udara sore.

Beberapa pengunjung menoleh heran.

Namun kami tidak peduli.

Karena hanya kami yang tahu arti nama itu.

Nama yang lahir dari sebuah kesalahan.

Nama yang kemudian menjadi lambang persahabatan.


Saat kendaraan mulai bergerak meninggalkan kawasan Gunung Welirang, aku menoleh ke arah puncak yang perlahan tertutup kabut.

Dalam hati aku berbisik,

"Terima kasih..."

"Karena hari ini kau tidak hanya memberiku pemandangan yang indah..."

"Tetapi juga pelajaran hidup yang akan kubawa sampai tua."

Aku tidak tahu apakah suatu hari nanti aku akan kembali mendaki gunung ini.

Namun satu hal yang pasti...

Sebagian dari hatiku akan selalu tertinggal di sana.

Di antara hutan pinus.

Di jalur Pet Bocor.

Di puncak yang pertama kali mengajarkanku arti keberanian.

Dan di lereng tempat seorang sahabat bernama Andi membuktikan bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang rela disalahkan demi keselamatan orang lain.

Komentar

populer

COUPLE JUARA - Bab 3

MENGEJAR SENJA YANG SAMA - BAB 1

MUBADOG - Bab 1