MENGEJAR SENJA YANG SAMA - BAB 5

 

Kabar yang Menghancurkan Harapan

Tiga tahun berlalu sejak reuni kecil itu.

Aldi kini telah lulus dari SMK dengan nilai yang cukup membanggakan. Berbekal pengalaman praktik dan bekerja di bengkel pamannya, ia mulai melamar pekerjaan ke berbagai perusahaan otomotif.

Namun kenyataan tidak semudah yang dibayangkan.

Puluhan lamaran dikirim.

Belasan kali mengikuti tes.

Beberapa kali wawancara.

Semuanya berakhir dengan kalimat yang sama.

"Mohon maaf, Anda belum lolos seleksi."

Awalnya Aldi masih tersenyum.

Lama-kelamaan, senyum itu mulai memudar.


Suatu sore ia duduk di teras rumah.

Pak Surya menghampirinya sambil membawa dua gelas teh hangat.

"Gagal lagi?"

Aldi mengangguk pelan.

"Iya, Pak."

Pak Surya menepuk pundaknya.

"Bapak juga dulu sering ditolak kerja."

Aldi menatap ayahnya.

"Tapi Bapak tetap berusaha."

"Laki-laki itu bukan dinilai dari seberapa sering dia jatuh."

"Terus?"

"Dari seberapa sering dia bangkit."

Kalimat itu tertanam kuat di hati Aldi.

Keesokan harinya ia kembali mengirim lamaran.

Dan terus melakukannya tanpa menyerah.


Di tengah perjuangannya mencari pekerjaan, Aldi hampir tidak pernah berkomunikasi lagi dengan Kayna.

Mereka hanya sesekali saling mengucapkan selamat ulang tahun melalui pesan singkat.

Itu pun hanya beberapa kalimat.

Hubungan mereka kini benar-benar sebatas teman lama.

Meski begitu, nama Kayna belum pernah hilang dari doa Aldi.


Suatu malam, Riko menghubunginya.

"Ldi."

"Iya?"

"Aku ketemu Dimas tadi."

"Oh ya?"

"Iya."

"Habis itu?"

Riko tampak ragu.

"Aku gak tahu harus bilang atau enggak."

"Bilang aja."

"Kayna... katanya lagi dekat sama seseorang."

Seolah ada sesuatu yang menghantam dada Aldi.

"Siapa?"

"Katanya anak kampusnya."

Aldi terdiam.

Riko melanjutkan.

"Katanya sih belum pacaran."

"Oh..."

Hanya itu yang mampu keluar dari mulut Aldi.


Malam itu ia tidak bisa tidur.

Bukan karena marah.

Bukan pula karena kecewa kepada Kayna.

Ia hanya sadar...

Selama ini ia sibuk mencintai seseorang dalam diam.

Sementara waktu terus berjalan.

Setiap orang berhak melanjutkan hidupnya.

Termasuk Kayna.


Esok paginya Aldi pergi ke masjid sebelum matahari terbit.

Setelah salat Subuh, ia duduk cukup lama.

Dalam hati ia berdoa.

"Ya Allah... jika memang Kayna bukan jodohku, ikhlaskan hatiku."

"Tapi jika Engkau masih menuliskan namaku untuknya, jadikan aku laki-laki yang pantas."

Untuk pertama kalinya, Aldi tidak lagi meminta agar Kayna menjadi miliknya.

Ia hanya meminta agar diberi kekuatan menerima apa pun takdirnya.


Beberapa minggu kemudian, sebuah kabar baik akhirnya datang.

Sebuah perusahaan otomotif nasional memanggil Aldi untuk mengikuti tes terakhir.

Ia mempersiapkan diri sebaik mungkin.

Saat pengumuman tiba, namanya tercantum di daftar peserta yang diterima.

Aldi menatap layar ponselnya berkali-kali, memastikan ia tidak salah baca.

Lalu ia berlari pulang.

"Pak! Bu!"

"Ada apa, Nak?" tanya ibunya yang sedang memasak.

"Aku... diterima kerja!"

Bu Santi langsung memeluk Aldi sambil menangis haru.

Pak Surya yang baru pulang bekerja ikut tersenyum bangga.

"Alhamdulillah..."

Hari itu menjadi salah satu hari paling membahagiakan bagi keluarga kecil mereka.


Malamnya, setelah semua tertidur, Aldi membuka ponselnya.

Ia melihat kontak Kayna.

Jarinya sempat berhenti di tombol pesan.

Setelah berpikir beberapa saat, ia akhirnya mengetik.

Aldi:
"Assalamu'alaikum, Kay. Aku cuma mau berbagi kabar. Alhamdulillah, hari ini aku diterima bekerja. Mohon doanya semoga lancar."

Tak sampai lima menit, balasan masuk.

Kayna:

"Wa'alaikumussalam. Masya Allah, selamat ya, Aldi! Aku ikut senang sekali. Aku memang yakin kamu pasti bisa. Semoga sukses dan selalu dimudahkan."

Aldi membaca pesan itu berulang kali.

Senyum tipis kembali menghiasi wajahnya.

Ia sadar, meski mereka telah lama berjauhan, Kayna masih menjadi sosok yang tulus memberikan semangat.

Namun ia juga tahu...

Perjalanan cintanya belum selesai.

Karena tanpa sepengetahuannya, Kayna sedang menyimpan sebuah rahasia besar yang akan mengubah arah kehidupan mereka berdua.

Bersambung ke Bab 6: "Pertemuan Tak Terduga Setelah Bekerja."

Komentar

populer

COUPLE JUARA - Bab 3

MENGEJAR SENJA YANG SAMA - BAB 1

MUBADOG - Bab 1