MUBADOG - Bab 8
Orang yang Berlari dari Belakang
"AAAAAA...!!"
Jeritanku menggema di antara pepohonan.
Refleks aku berusaha melepaskan tangan yang mencengkeram lenganku. Jantungku berdetak begitu keras hingga napasku terasa sesak.
Semua pikiran buruk datang bersamaan.
"Siapa dia?"
"Kenapa mengejarku?"
"Apa yang akan terjadi?"
Aku memberanikan diri menoleh.
Seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun berdiri di belakangku. Tubuhnya tegap, kulitnya legam terbakar matahari, dan napasnya masih tersengal karena berlari.
Ia langsung mengangkat kedua tangannya, memberi isyarat agar aku tenang.
"Jangan takut... jangan takut, Dik."
Aku masih mundur beberapa langkah.
"Tolong... jangan dekat-dekat..."
Pria itu berhenti.
Wajahnya terlihat bingung melihat reaksiku.
"Adek namanya Fari?"
Aku tertegun.
Bagaimana mungkin orang yang belum pernah kutemui mengetahui namaku?
"I... iya."
Ia mengembuskan napas panjang, seperti baru saja melepaskan beban berat.
"Alhamdulillah..."
"Saya akhirnya ketemu."
Aku masih belum mengerti.
"Bapak... siapa?"
Pria itu menunjuk lambang yang terpasang di lengan bajunya.
"Saya polisi hutan."
Barulah aku menyadari seragam hijau tua yang dikenakannya.
Sepatu bot yang penuh lumpur.
Topi lapangan.
Radio komunikasi yang tergantung di pinggangnya.
Ia benar-benar seorang petugas.
"Saya diminta mencari Adek."
"Mencari saya?"
"Iya."
"Teman-teman Adek melapor kalau ada anggota rombongan yang belum kembali."
Aku terdiam.
"Teman-teman saya... melapor?"
Petugas itu mengangguk.
"Tadi mereka menunggu cukup lama di bawah."
"Mereka mengira Adek sudah turun bersama rombongan lain."
"Ternyata tidak ada yang melihat."
"Teman Adek yang bernama Andi langsung datang ke pos dan meminta bantuan."
Mendengar nama Andi disebut, dadaku terasa hangat.
Jadi...
Mereka tidak pulang.
Mereka menungguku.
Bahkan sampai meminta bantuan polisi hutan.
Petugas itu tersenyum ramah.
"Untung kami sempat menemukan jejak Adek."
Aku mengerutkan dahi.
"Jejak?"
"Iya."
"Jejak sepatu di jalur ini masih baru."
"Lagipula, pendaki perempuan yang berjalan sendirian tidak banyak."
Aku menunduk.
Baru saat itu aku benar-benar menyadari betapa cerobohnya diriku.
Aku terlalu percaya diri.
Merasa hafal jalur.
Padahal gunung bukan halaman rumah.
Setiap tikungan terlihat sama.
Setiap pohon terasa mirip.
Sedikit saja lengah, seseorang bisa kehilangan arah.
Petugas itu kemudian menunjuk ke arah depan.
"Adek tadi mau lewat situ?"
"Iya."
Beliau menggeleng pelan.
"Kalau terus lurus, Adek akan keluar dari jalur pendakian."
Aku menoleh ke arah yang kutunjuk.
Di mataku, jalan itu memang tampak jelas.
Tetapi setelah diperhatikan lebih saksama, ternyata hanya bekas aliran air yang menyerupai jalur setapak.
Dadaku langsung berdesir.
Kalau saja tadi aku terus berjalan...
Entah akan sampai ke mana.
"Ayo."
"Saya antar kembali."
Kami berjalan berdampingan.
Selama perjalanan, polisi hutan itu banyak bercerita tentang gunung.
Tentang pendaki yang terlalu percaya diri.
Tentang kabut yang bisa datang tiba-tiba.
Tentang banyaknya jalur yang terlihat sama.
"Gunung itu indah," katanya.
"Tapi gunung juga harus dihormati."
Aku mengangguk pelan.
"Iya, Pak."
"Tidak ada gunung yang boleh diremehkan."
Kalimat itu kutanam kuat-kuat dalam hati.
Tak lama kemudian...
Dari kejauhan mulai terdengar suara orang berbicara.
Suara yang sangat kukenal.
"Far!"
Aku menoleh.
Andi sedang berlari ke arahku.
Di belakangnya, teman-teman lain ikut berlari sambil melambaikan tangan.
"Far...!"
Rina langsung memelukku begitu kami bertemu.
"Kamu ke mana saja?"
"Kami panik."
"Aku... aku kira jalurnya benar."
Budi menghela napas panjang.
"Kamu bikin umur kami berkurang lima tahun."
Meski mengomel, wajahnya jelas menunjukkan rasa lega.
Andi berdiri beberapa langkah di depanku.
Ia tidak langsung berbicara.
Hanya menatapku beberapa detik.
"Ada yang luka?"
Aku menggeleng.
"Nggak."
"Capek?"
"Sedikit."
Ia mengangguk pelan.
"Syukurlah."
Hanya satu kata itu.
Namun aku tahu, sejak tadi dialah yang paling cemas.
Polisi hutan kemudian menjelaskan bahwa aku hampir keluar jalur.
Semua teman langsung saling berpandangan.
Budi sampai memegang dadanya.
"Untung ketemu."
"Iya."
Rina menggenggam tanganku erat.
"Jangan jalan sendiri lagi."
Aku tersenyum malu.
"Iya."
Kemudian kami semua mengucapkan terima kasih kepada polisi hutan itu.
Beliau hanya tersenyum.
"Itu sudah tugas saya."
Sebelum melanjutkan perjalanan, beliau sempat menepuk bahuku.
"Kalau suatu saat naik gunung lagi..."
"...ingat satu hal."
"Apa, Pak?"
"Jangan pernah merasa gunung bisa ditebak."
Aku mengangguk mantap.
"Siap, Pak."
Beliau lalu berjalan meninggalkan kami.
Perlahan sosoknya menghilang di balik pepohonan.
Aku memandang punggungnya hingga tak terlihat lagi.
Dalam hati aku berdoa semoga Allah selalu melindungi setiap orang yang mengabdikan dirinya menjaga hutan dan keselamatan para pendaki.
Setelah beristirahat beberapa menit, kami kembali melanjutkan perjalanan turun.
Kini aku berjalan tepat di belakang Andi.
Tidak lagi sendirian.
Tidak lagi terburu-buru.
Aku mengira petualangan kami telah usai.
Aku mengira kejadian tersesat adalah ujian terakhir hari itu.
Aku salah.
Karena beberapa jam kemudian...
Di sebuah jalur yang tampak lurus dan aman...
Andi akan melakukan sesuatu yang membuat sebagian teman marah kepadanya.
Sebuah tindakan yang baru kami pahami artinya beberapa detik setelah semuanya terjadi.
Komentar
Posting Komentar