MUBADOG - Bab 9
Pemimpin yang Siap Disalahkan
Perjalanan turun terasa jauh berbeda dibanding saat kami mendaki.
Langkah kami lebih cepat, tetapi lutut mulai terasa nyeri karena terus menahan beban tubuh saat menuruni lereng. Matahari mulai condong ke barat, memancarkan cahaya keemasan yang menembus sela-sela pepohonan.
Aku berjalan di tengah rombongan.
Setelah kejadian tersesat, tak seorang pun mengizinkanku berjalan sendirian lagi.
"Far, di tengah saja," kata Andi.
"Iya."
Aku menurut.
Sesekali teman-teman masih menggodaku.
"Kalau lihat puncak lagi, jangan kabur ya."
"Bukan kabur..." jawabku sambil tertawa malu.
"Namanya tersesat."
Suasana kembali cair.
Kami kembali menjadi rombongan enam belas anak muda yang penuh tawa.
Sekitar satu jam kemudian, jalur mulai berubah.
Kabut turun lebih cepat dari yang kami duga.
Awalnya tipis.
Lalu perlahan semakin rapat.
Pandangan kami mulai terbatas.
Hanya beberapa meter ke depan.
Pepohonan di kanan-kiri tampak seperti bayangan hitam yang berdiri diam.
"Rapatkan barisan," teriak Andi dari depan.
Kami segera mendekat satu sama lain.
"Awas licin!"
"Iya!"
Suara Andi terdengar mantap, meski sesekali tertelan embusan angin.
Kami terus berjalan.
Hingga tiba di sebuah bagian jalur yang cukup lebar.
Aneh sekali.
Jalan di depan terlihat begitu lurus.
Tanahnya rata.
Bahkan tampak lebih mudah dilalui dibanding jalur sebelumnya.
"Wah, akhirnya jalan enak juga," seru Deni.
"Iya, dari tadi naik turun batu terus."
Budi langsung mempercepat langkah.
"Ayo, sebentar lagi sampai!"
Aku juga melihat hal yang sama.
Jalur itu tampak jelas.
Seolah mengajak kami segera melewatinya.
Namun tiba-tiba...
"BERHENTI!!"
Suara Andi menggema keras.
Kami semua spontan menoleh.
Andi yang berada beberapa meter di belakang justru berlari sekencang mungkin ke arah depan.
"ANDI!"
Belum sempat kami bertanya, tubuhnya menghantam Budi dari samping.
Bruk!
Budi terjatuh.
Lalu Andi mendorong Deni.
Brak!
Kemudian mendorongku.
Aku kehilangan keseimbangan.
Tubuhku jatuh ke belakang bersama Rina.
"Aduh!"
Dalam hitungan detik, hampir seluruh rombongan terjatuh saling bertumpukan.
Tas carrier berserakan.
Topi terlempar.
Botol minum menggelinding.
Suasana mendadak kacau.
"ANDI!"
"Kamu ngapain?!"
Budi bangkit sambil memegang lengannya yang lecet.
"Kamu sengaja ya?!"
Deni yang emosi langsung menghampiri Andi.
"Kalau bercanda jangan keterlaluan!"
Andi tidak melawan.
Ia hanya berdiri diam.
"Maaf."
Satu kata itu justru membuat teman-teman semakin kesal.
"Maaf?"
"Kamu bikin kita jatuh semua!"
Budi yang masih emosi mendorong bahu Andi.
"Apa maksudmu?"
Andi tetap diam.
Lalu sebuah pukulan mengenai lengannya.
Disusul dorongan lagi.
Aku hanya bisa memandang terpaku.
Andi sama sekali tidak membalas.
Ia bahkan tidak menghindar.
Setelah beberapa saat, ia mengangkat wajahnya.
Tatapannya tetap tenang.
Kalimat yang keluar dari mulutnya membuat kami semua terdiam.
"Silakan..."
"Kalau memang kalian masih marah..."
"...pukuli saya."
"Tapi yang penting..."
"...kalian semua masih hidup."
Hening.
Tak seorang pun mengerti maksudnya.
Andi perlahan menunjuk ke arah depan.
"Coba lihat baik-baik."
Kami menoleh.
Kabut saat itu mulai bergerak perlahan, tertiup angin.
Sedikit demi sedikit...
Pandangan di depan menjadi lebih jelas.
Dan saat itulah...
Darahku serasa berhenti mengalir.
Jalan yang sejak tadi kami lihat lurus...
Ternyata bukan jalan.
Melainkan bibir jurang.
Kabut tebal yang menutupi bagian bawah jurang membuat permukaannya tampak seperti tanah datar.
Padahal...
Hanya tinggal beberapa langkah lagi...
Kami akan berjalan lurus menuju tepi jurang.
Budi terduduk lemas.
"Ya Allah..."
Rina menutup mulutnya.
Air mata mulai mengalir di pipinya.
Deni mematung.
Tak mampu berkata apa-apa.
Aku sendiri merasakan lututku gemetar.
Kalau Andi terlambat beberapa detik saja...
Kalau ia tidak berlari...
Kalau ia memilih berteriak tanpa menghentikan kami...
Entah apa yang akan terjadi.
Mungkin kami sudah melangkah ke ruang kosong.
Mungkin cerita ini tak akan pernah bisa kuceritakan.
Andi menarik napas panjang.
"Aku dari belakang lihat bentuk jalurnya berbeda."
"Makanya aku lari."
"Tapi kalian sudah terlalu dekat."
"Itu sebabnya aku dorong."
Tak ada lagi yang berbicara.
Kabut benar-benar terbuka.
Kini jurang itu terlihat jelas.
Dalam.
Gelap.
Dan menakutkan.
Budi berjalan mendekati Andi.
Perlahan ia menundukkan kepala.
"Di..."
"Maaf."
Deni menyusul.
"Maaf."
Satu per satu teman menghampiri.
Tak ada lagi amarah.
Yang ada hanya rasa bersalah.
Aku melihat mata Andi mulai berkaca-kaca.
Namun ia tetap tersenyum.
"Nggak apa-apa."
"Aku lebih senang dipukul..."
"...daripada kehilangan satu saja dari kalian."
Kalimat itu membuat kami semua terdiam.
Aku menatap wajah teman-temanku satu per satu.
Baru kali itu aku benar-benar memahami arti seorang pemimpin.
Pemimpin bukan orang yang selalu dipuji.
Bukan pula orang yang selalu benar.
Kadang...
Pemimpin adalah orang yang rela disalahkan.
Rela dimarahi.
Bahkan rela disakiti.
Asalkan orang-orang yang dipimpinnya tetap selamat.
Sore itu...
Di lereng Gunung Welirang...
Kami bukan hanya belajar tentang pendakian.
Kami belajar tentang pengorbanan.
Tentang keberanian.
Dan tentang ketulusan seorang sahabat yang memilih menanggung amarah demi menyelamatkan enam belas nyawa.
Aku memandang Andi yang kembali berjalan di barisan paling depan.
Langkahnya tetap tenang.
Seolah kejadian beberapa menit yang lalu bukanlah sesuatu yang besar.
Padahal bagi kami...
Hari itu, Andi bukan sekadar kepala rombongan.
Ia adalah alasan mengapa kami semua bisa pulang.
Komentar
Posting Komentar