MUBADOG - Bab 5

 

Sebuah Nama Bernama MUBADOG

Malam benar-benar turun.

Suhu di Pos Pet Bocor 1 semakin dingin. Angin gunung berembus pelan, menggoyangkan pucuk-pucuk cemara yang berdiri kokoh di sekitar tenda. Langit malam begitu bersih. Ribuan bintang bertaburan seolah bisa kugapai hanya dengan mengangkat tangan.

Aku duduk di depan tenda sambil memeluk lutut.

Di hadapanku, api kecil dari kompor yang mulai padam masih menyisakan kehangatan. Teman-teman duduk melingkar, sebagian masih tertawa mengingat kejadian nasi yang hampir menjadi "korban" keisengan.

Budi memegang piring kosongnya tinggi-tinggi.

"Saudara-saudara..."

Semua langsung menoleh.

"Saya masih hidup."

Gelak tawa kembali memenuhi malam.

"Kupikir habis makan nasi itu kamu langsung berubah jadi kompor minyak," celetuk Deni.

"Atau kentutnya bau minyak tanah," sahut Rina.

Tawa semakin pecah.

Bahkan Andi yang sejak tadi dikenal paling serius pun ikut tertawa sampai menundukkan kepala.

Aku menggeleng sambil tersenyum.

"Kalau dipikir-pikir, kita ini nekat juga."

Andi mengangguk pelan.

"Namanya juga pengalaman pertama."

"Kalau orang lain punya cerita jatuh atau kehujanan..."

"...kita punya cerita makan nasi minyak tanah."

Semua kembali tertawa.


Tak lama kemudian, Deni tiba-tiba berkata,

"Eh..."

"Untung nasi tadi nggak jadi dibuang."

"Iya ya."

"Kalau dibuang sayang banget."

Budi mengangguk setuju.

"Itu namanya mubazir."

"Mubazir..."

Deni mengulang pelan.

Lalu entah dari mana datangnya ide itu.

"Gimana kalau nama kelompok kita..."

"...Mubadog?"

"Mubadog?"

"Iya."

"Plesetan dari mubazir."

Semua saling berpandangan.

Sesaat kemudian...

"Hahaha..."

"Bagus juga!"

"Unik!"

"Nggak ada yang punya!"

Andi mengangkat tangan.

"Mulai malam ini..."

"...rombongan kita resmi bernama..."

Ia berhenti sejenak.

"MUBADOG!"

"Hidup Mubadog!"

"Hidup!"

Sorakan kami memecah kesunyian hutan.

Beberapa pendaki di tenda sebelah sampai menoleh sambil tersenyum melihat tingkah kami.

Tak ada spanduk.

Tak ada bendera.

Tak ada logo.

Hanya enam belas anak muda yang tertawa di tengah dinginnya gunung.

Siapa sangka...

Nama yang lahir dari sepanci nasi itu justru bertahan puluhan tahun dalam ingatan kami.


Malam semakin larut.

Satu per satu teman mulai masuk ke dalam tenda.

Ada yang langsung tertidur begitu kepala menyentuh sleeping bag.

Ada yang masih mengobrol pelan.

Aku sendiri belum bisa memejamkan mata.

Entah mengapa, pikiranku terus tertuju pada puncak.

Aku membuka sedikit resleting tenda.

Di kejauhan, langit terlihat begitu dekat.

Bintang-bintang berkilauan di atas siluet pepohonan.

"Masih belum tidur?"

Suara Andi membuatku menoleh.

Ia duduk di luar tenda sambil menyeruput kopi panas dari gelas logam.

Aku keluar dan duduk di sampingnya.

"Nggak bisa tidur."

"Kenapa?"

Aku mengangkat bahu.

"Pengen lihat puncak."

Andi tersenyum.

"Besok lihat saja."

"Kalau teman-teman kuat."

Aku terdiam.

"Apa memang jauh?"

"Cukup."

"Lelah?"

"Pasti."

Aku menatap langit.

"Kalau capek gimana?"

Andi meletakkan gelasnya.

"Far..."

"Kalau seseorang sudah benar-benar punya niat..."

"...rasa lelah itu kadang kalah sama rasa penasaran."

Aku menoleh.

"Maksudnya?"

"Dalam hidup..."

"Yang paling berat bukan mendaki gunung."

"Tapi melawan keinginan untuk menyerah."

Aku memandangi wajah Andi.

Tatapannya lurus ke arah puncak yang tertutup gelap malam.

"Besok kalau kamu memang ingin naik..."

"...naiklah."

"Pelan-pelan."

"Nggak usah memikirkan seberapa jauh."

"Cukup pikirkan satu langkah berikutnya."

Kalimat itu sederhana.

Namun entah mengapa, tersimpan rapi di dalam kepalaku.


Udara semakin dingin.

Kabut mulai turun.

Kami memutuskan masuk ke tenda.

Sebelum memejamkan mata, aku masih sempat melihat jam tangan.

Pukul sembilan malam.

Seharusnya aku sudah tidur.

Namun bayangan puncak terus memenuhi pikiranku.

Aku ingin melihat dunia dari tempat tertinggi.

Aku ingin membuktikan kepada diriku sendiri bahwa aku mampu.

Aku tak tahu...

Keinginan sederhana itu akan membawaku pada pengalaman paling menegangkan dalam hidupku.

Sebuah pengalaman yang membuatku sadar bahwa keberanian tanpa kewaspadaan bisa berubah menjadi bahaya.

Dan besok...

Tanpa kusadari...

Aku akan berjalan sendirian menuju puncak Gunung Welirang.

Komentar

populer

COUPLE JUARA - Bab 3

MENGEJAR SENJA YANG SAMA - BAB 1

MUBADOG - Bab 1