MUBADOG - Bab 4
Nasi Minyak Tanah
Sore mulai turun ketika kami tiba di Pos Pet Bocor.
Kabut perlahan merayap di sela-sela pepohonan. Udara yang sejak tadi terasa sejuk kini berubah menjadi dingin menusuk kulit. Matahari mulai bersembunyi di balik lereng Gunung Welirang, meninggalkan semburat jingga yang memantul di langit.
Satu per satu kami menjatuhkan carrier.
"Aku nggak kuat..."
Budi langsung terlentang di atas tanah sambil memeluk tasnya.
"Ada yang punya tandu?" katanya sambil meringis.
"Tandu buat apa?" tanya Rina.
"Buat ngangkat aku pulang."
Semua tertawa.
Aku sendiri duduk bersandar pada batang pohon pinus. Kedua kakiku terasa berdenyut. Baru kali itu aku menyadari bahwa berjalan lima jam tanpa henti benar-benar menguras tenaga.
Namun rasa lapar jauh lebih menyiksa daripada rasa lelah.
Perut kami sejak tadi hanya diisi roti dan beberapa bungkus biskuit.
Kini semua mata mulai mencari-cari bahan makanan yang kami bawa.
"Ayo masak..." kata Deni lirih.
"Iya... kalau nggak makan, nanti masuk angin."
Andi mengangguk.
"Oke, kita dirikan tenda dulu. Setelah itu masak."
Semua bergerak sesuai tugas.
Anak-anak laki-laki memasang tenda.
Yang perempuan menata perlengkapan memasak.
Karena sejak sekolah aku memang paling sering membantu ibu di dapur, tanpa sadar semua orang menyerahkan urusan memasak kepadaku.
"Far, kamu yang masak ya."
"Iya."
Aku mengeluarkan panci aluminium yang sudah penyok di beberapa bagian.
Kompor minyak tanah diletakkan di atas tanah yang rata.
Beras kami keluarkan dari kantong plastik.
"Masak yang banyak ya."
"Enam belas orang ini."
Aku tertawa.
"Iya, Bos."
Sambil bercanda, aku mulai mencuci beras menggunakan air yang kami bawa.
Setelah bersih, beras kumasukkan ke dalam panci.
"Airnya kurang sedikit, Far."
"Iya bentar."
Aku berdiri mengambil botol air di dekat carrier.
Saat itulah salah satu temanku—yang terkenal paling usil—tersenyum jahil.
Ia melirik jeriken kecil berwarna biru yang berisi minyak tanah untuk kompor.
Tanpa diketahui siapa pun, ia menuangkan minyak tanah ke dalam panci menggantikan air yang seharusnya kutambahkan.
Teman-teman lain yang melihat hanya menahan tawa.
"Jangan..."
"Udah... diem aja."
Mereka mengira aku akan segera menyadarinya.
Namun karena hari mulai gelap dan aku terburu-buru, aku sama sekali tidak curiga.
Panci langsung kututup.
Kompor dinyalakan.
Api biru mulai menjilat dasar panci.
Kami pun menunggu nasi matang sambil mengobrol.
Sekitar tiga puluh menit kemudian...
"Hmmm..."
"Aromanya kok aneh ya?"
Aku mengernyitkan dahi.
"Kayak ada yang gosong."
Budi mengendus-endus udara.
"Eh..."
"Itu bau apa?"
Semua ikut mencium.
Lalu...
"Bau minyak tanah!"
Aku buru-buru membuka tutup panci.
Asap putih mengepul.
Nasinya memang matang.
Tetapi aroma minyak tanah langsung menusuk hidung.
Aku terdiam.
"Ya Allah..."
Perlahan aku mengangkat nasi menggunakan centong.
Semakin diaduk, semakin kuat baunya.
"Far..."
"Itu kenapa?"
Aku hanya menggeleng.
"Nggak tahu..."
Suasana yang semula ramai mendadak hening.
Perut kami keroncongan.
Persediaan beras tinggal sedikit.
Kalau nasi ini dibuang...
Kami tidak punya makanan lagi.
Mataku mulai berkaca-kaca.
"Aku gagal..."
Padahal teman-teman sudah sangat lapar.
Saat itulah terdengar suara tawa kecil dari belakang.
Salah satu temanku akhirnya mengaku.
"Far..."
"Sebenarnya..."
"Aku tadi iseng..."
Semua langsung menoleh.
"Kamu apain?"
"Aku... ngganti airnya..."
"Pakai..."
Ia menelan ludah.
"...minyak tanah."
Suasana langsung pecah.
"Apa?!"
"Kamu gila!"
"Iseng kok kebangetan!"
Budi sampai mengejar temanku itu sambil membawa centong.
"Ke sini kamu!"
Yang lain ikut tertawa meski sebenarnya kesal.
Aku sendiri hanya bisa menghela napas panjang.
Kesal memang.
Tapi melihat wajahnya yang benar-benar menyesal, amarahku perlahan hilang.
Masalahnya sekarang bukan lagi siapa yang salah.
Masalahnya...
Kami harus makan apa malam ini?
Saat semua masih kebingungan, rombongan pendaki lain yang mendirikan tenda tak jauh dari kami menghampiri.
"Mohon maaf..."
"Kami dari tadi dengar ribut-ribut."
Seorang bapak berusia sekitar empat puluh tahun tersenyum ramah.
"Ada apa?"
Andi menceritakan semuanya.
Mulai dari nasi yang tercampur minyak tanah hingga persediaan makanan yang hampir habis.
Bapak itu tersenyum kecil.
"Wah..."
"Baru kali ini saya dengar nasi dimasak pakai minyak tanah."
Kami hanya bisa tersipu malu.
Lalu beliau berkata,
"Masih bisa diselamatkan."
"Hah?"
"Cuci saja nasinya."
Aku mengangguk.
"Pakai air?"
Beliau menggeleng.
"Pakai sabun mandi batangan."
Semua langsung saling pandang.
"Sabun?"
"Iya."
"Sabun mandi?"
Aku bahkan sempat mengira beliau sedang bercanda.
Namun beliau menjelaskan bahwa sabun dapat membantu menghilangkan sisa minyak di permukaan nasi, kemudian nasi harus dibilas berkali-kali menggunakan air yang mengalir hingga tidak ada lagi busa ataupun bau.
Meski terdengar aneh, kami tidak punya pilihan lain.
Akhirnya aku, Andi, dan beberapa teman membawa panci itu ke aliran sungai kecil di dekat Pos Per Bocor.
Dengan hati-hati kami mencuci nasi.
Disabuni.
Dibilas.
Disabuni lagi.
Lalu dibilas berkali-kali hingga air benar-benar jernih.
Semua orang yang lewat memandang kami dengan wajah heran.
"Mereka lagi ngapain?"
"Mencuci... nasi?"
Kami sendiri tak kuasa menahan tawa.
Belum pernah seumur hidup kami melihat orang mencuci nasi yang sudah matang.
Setelah berkali-kali dibilas, bau minyak tanah mulai menghilang.
Kami kembali ke tenda.
Nasi itu dipanaskan sebentar.
Lalu dibagikan.
Semua saling menatap.
"Siapa yang mau nyoba dulu?"
Budi mengangkat tangan.
"Kalau aku pingsan, bilang ibuku aku meninggal dalam keadaan kenyang."
Gelak tawa langsung pecah.
Ia mengambil satu suap.
Mengunyah pelan.
Semua menunggu dengan tegang.
"Gimana?"
Budi mengangguk.
"Enak."
"Serius?"
"Iya..."
"Cuma..."
"Apa?"
"Rasanya kayak... pengalaman hidup."
Kami tertawa sampai perut sakit.
Malam itu, sepanci nasi yang hampir dibuang justru habis tak bersisa.
Tak ada lagi yang mempermasalahkan siapa yang salah.
Yang tersisa hanyalah tawa.
Dan sebuah cerita yang kelak akan kami ulang berkali-kali setiap kali bertemu.
Tak seorang pun menyangka...
Dari kejadian konyol itulah lahir nama yang akan melekat pada kami seumur hidup.
MUBADOG.
Komentar
Posting Komentar