MUBADOG - Bab 3

 

Lima Jam yang Menguras Tenaga

"Baru mulai saja sudah ngos-ngosan."

Suara Budi membuat semua orang tertawa.

Kami baru berjalan sekitar lima belas menit dari gerbang pendakian, tetapi beberapa teman sudah mulai membuka jaket karena kepanasan. Carrier yang semula terasa ringan kini perlahan berubah seperti beban berisi batu.

Aku sendiri baru menyadari bahwa mendaki gunung sama sekali berbeda dengan berjalan kaki ke sekolah.

Jalurnya terus menanjak.

Tak ada jalan datar.

Akar-akar pohon menjulur di sepanjang jalur, sesekali batu besar memaksa kami mengangkat kaki lebih tinggi. Di kanan kiri hanya pepohonan pinus yang menjulang, membuat sinar matahari sulit menembus rimbunnya hutan.

Di depan, Andi berjalan dengan langkah yang tenang.

Ia sesekali berhenti untuk memastikan semua anggota rombongan masih lengkap.

"Jangan terlalu cepat," katanya.

"Gunung bukan lomba lari."

Kami mengangguk.

Meski napas mulai memburu, tak seorang pun ingin terlihat lemah.

"Masih jauh, Di?" tanya Rina.

Andi menoleh sambil tersenyum.

"Sedikit lagi."

Kalimat itu langsung membuat kami kembali bersemangat.

Namun, lima belas menit kemudian...

"Masih sedikit lagi?"

Andi hanya tertawa.

"Di gunung, sedikit itu bisa satu jam."

"Yah... ketipu lagi!"

Suasana kembali dipenuhi tawa.

Begitulah cara Andi menjaga semangat kami. Ia selalu menemukan cara agar perjalanan yang berat terasa lebih ringan.

Setiap beberapa puluh menit kami berhenti sejenak untuk minum.

Ada yang langsung duduk di atas batu.

Ada yang merebahkan badan di atas tanah.

Ada pula yang hanya memandang langit sambil mengatur napas.

"Aku baru tahu capek itu ada suaranya," celetuk Deni.

"Suaranya gimana?"

"Huuufff... huuufff..."

Semua kembali tertawa.

Candaan-candaan sederhana itulah yang membuat perjalanan terasa menyenangkan.

Semakin tinggi kami mendaki, udara mulai berubah.

Angin terasa lebih dingin.

Kabut tipis perlahan turun menyelimuti jalur.

Pepohonan besar mulai berganti dengan vegetasi yang lebih rendah.

Sesekali terdengar suara burung hutan yang tak pernah kami dengar sebelumnya.

Aku menghentikan langkah sejenak.

Di balik pepohonan tampak hamparan lembah yang begitu luas.

Rumah-rumah di bawah terlihat sekecil titik-titik putih.

"Masya Allah..."

Tanpa sadar aku mengucapkannya pelan.

Pemandangan itu seperti hadiah kecil dari alam.

Semua rasa lelah seakan menghilang sesaat.

Andi menghampiriku.

"Indah, kan?"

Aku mengangguk.

"Kalau capek, lihat sekeliling. Gunung selalu memberi alasan untuk terus melangkah."

Aku mengingat kalimat itu.

Bahkan hingga bertahun-tahun kemudian.


Jam terus berjalan.

Satu jam.

Dua jam.

Tiga jam.

Tawa kami mulai berkurang.

Kini yang terdengar hanyalah suara langkah kaki, embusan napas, dan sesekali keluhan.

"Masih jauh?"

"Masih."

"Masih ada soto?"

"Masih."

"Kalau nggak ada?"

"Nanti aku traktir."

Ucapan Andi langsung disambut sorakan.

"Janji ya!"

"Iya!"

Entah mengapa, bayangan semangkuk soto hangat menjadi penyemangat terbesar kami.

Tidak ada yang sadar bahwa sampai sekarang kami belum melihat satu pun warung.

Empat jam berlalu.

Kaki mulai terasa berat.

Bahu pegal.

Air minum semakin sedikit.

Perut mulai berbunyi.

Aku menatap jam tanganku.

Sudah hampir lima jam kami berjalan.

"Di..."

"Sebentar lagi kita sampai Pos Pet Bocor 1."

Kalimat itu seperti suntikan tenaga terakhir.

Benar saja.

Tak lama kemudian jalur mulai sedikit terbuka.

Ada tanah yang cukup datar.

Beberapa pendaki lain tampak mendirikan tenda.

Sebagian sedang memasak.

Sebagian lagi beristirahat sambil menikmati kopi panas.

"Alhamdulillah..."

Hampir semua anggota rombongan langsung menjatuhkan carrier begitu tiba di lokasi.

Budi bahkan langsung merebahkan diri.

"Aku nggak mau jalan lagi."

"Aku juga."

"Kalau ada yang nyuruh naik lagi, tinggalin aku di sini."

Semua tertawa lemah.

Aku duduk sambil memijat kedua kakiku.

Rasanya seperti bukan kakiku sendiri.

Andi menghitung anggota rombongan.

"Satu..."

"Dua..."

"..."

"Enam belas."

Lengkap.

Tak ada yang tertinggal.

Ia tersenyum lega.

"Kita istirahat dulu."

Aku memandang wajah teman-temanku.

Semua terlihat kelelahan.

Namun di balik wajah-wajah lelah itu, ada kebanggaan yang sulit dijelaskan.

Tak seorang pun menyangka bahwa kami—enam belas anak SMK yang bahkan awalnya hanya ingin berkemah di Air Terjun Kakek Bodo—berhasil mencapai Pos Pet Bocor 1.

Aku mengira tantangan terbesar hari itu telah selesai.

Ternyata aku salah.

Karena beberapa jam lagi...

Kami akan membuat sepanci nasi yang baunya cukup untuk dikenang seumur hidup.

Dan dari sepanci nasi itulah, nama MUBADOG akan lahir.

Komentar

populer

COUPLE JUARA - Bab 3

MENGEJAR SENJA YANG SAMA - BAB 1

MUBADOG - Bab 1