MUBADOG - Bab 2

 

Dari Air Terjun Menuju Gunung

Udara pagi di kawasan Tretes masih dipenuhi kabut tipis ketika kami turun dari angkutan yang membawa kami dari sekolah. Aroma tanah basah bercampur wangi pepohonan pinus langsung menyambut kedatangan kami.

"Segar banget..." ucapku sambil menarik napas panjang.

Rina mengangkat kedua tangannya ke udara.

"Akhirnya bebas juga dari tugas, ujian, sama guru BK!"

Semua tertawa.

Hari itu benar-benar terasa seperti awal kehidupan baru. Tidak ada lagi seragam abu-abu putih. Tidak ada lagi bel masuk kelas. Yang ada hanyalah enam belas remaja yang ingin menikmati kebersamaan sebelum jalan hidup membawa kami ke arah masing-masing.

Carrier yang kami bawa sebenarnya jauh dari kata ideal. Ada yang memakai tas gunung pinjaman kakaknya, ada yang hanya menggunakan ransel sekolah. Bahkan Budi masih membawa kantong plastik berisi sandal jepit.

"Kamu yakin naik gunung pakai tas itu?" tanyaku.

"Yang penting semangat."

"Itu nanti putus di tengah jalan."

"Kalau putus ya tinggal dipikul."

Gelak tawa kembali pecah.

Rencana awal kami sangat sederhana. Mencari tempat datar di sekitar Air Terjun Kakek Bodo, mendirikan tenda, memasak mi instan, bercerita sampai malam, lalu pulang keesokan harinya.

Tidak ada yang membayangkan rencana itu akan berubah hanya karena satu kalimat.

Saat kami menikmati pemandangan pegunungan, Deni menunjuk puncak yang menjulang di kejauhan.

"Itu Welirang, kan?"

Andi mengangguk.

"Iya."

"Naiknya susah?"

"Lumayan."

"Kalau kita naik gimana?"

Semua spontan menoleh.

"Naik gunung?"

"Iya."

"Serius?"

Deni mengangguk mantap.

"Mumpung masih muda."

Usulan itu terdengar gila.

Aku menatap jalur yang tampak menghilang di balik hutan.

Jujur saja, aku takut.

Aku belum pernah mendaki gunung sebelumnya.

Namun satu demi satu teman mulai menyatakan setuju.

"Ayo!"

"Sayang kalau cuma sampai sini."

"Kesempatan belum tentu datang lagi."

Hitungan suara pun dilakukan secara spontan.

Sepuluh orang mengangkat tangan setuju.

Enam orang lainnya masih ragu.

Aku termasuk di dalamnya.

"Boleh nggak kita tetap kemah saja?" bisikku.

Rina tersenyum.

"Kalau dipikir-pikir, kapan lagi?"

Kalimat itu membuatku terdiam.

Benar juga.

Belum tentu setelah lulus kami bisa berkumpul lagi dengan jumlah lengkap.

Akhirnya aku mengangguk.

"Oke."

Yang lain pun ikut setuju.

Andi lalu berdiri di depan kami.

"Kalau memang naik, mulai sekarang jangan ada yang jalan sendiri."

Semua langsung diam.

"Aku pernah beberapa kali ke Welirang. Gunung ini indah, tapi jangan diremehkan."

Kami mendengarkan dengan serius.

"Yang capek bilang."

"Yang haus bilang."

"Yang sakit bilang."

"Jangan gengsi."

Kemudian wajah Andi berubah menjadi lebih santai.

"Tenang saja."

"Nanti di atas ada yang jualan."

"Wah!"

"Soto."

"Hah?"

"Terus ada nasi pecel."

Seketika wajah semua orang kembali berbinar.

Budi bahkan langsung memegang perutnya.

"Aku tahan lapar deh."

Aku ikut tertawa.

Dalam hati aku membayangkan semangkuk soto panas di tengah udara pegunungan.

Tidak ada yang sadar bahwa janji sederhana itu akan menjadi bahan lelucon sepanjang perjalanan.

Sebelum benar-benar memasuki jalur pendakian, Andi mengumpulkan kami membentuk lingkaran kecil.

"Teman-teman..."

"Kalau nanti kita berhasil sampai atas..."

"...jangan lupa."

"Kita naik bukan buat sombong."

"Tapi supaya kita belajar kalau puncak itu cuma bisa dicapai kalau semua saling menjaga."

Aku tidak tahu mengapa.

Kalimat itu terasa begitu dalam.

Saat itu aku hanya menganggapnya sebagai nasihat biasa.

Bertahun-tahun kemudian, aku baru sadar bahwa perjalanan hari itu memang bukan sekadar mendaki gunung.

Kami sedang belajar menjadi manusia.

Dengan langkah pertama memasuki jalur pendakian Welirang, enam belas anak muda memulai petualangan yang akan mengubah cara kami memandang persahabatan, keberanian, dan arti pulang.

Belum ada yang tahu bahwa beberapa jam lagi kami akan tertawa karena sepanci nasi yang berbau minyak tanah.

Belum ada yang tahu bahwa esok harinya aku akan tersesat sendirian di gunung.

Dan tentu saja...

Belum ada yang tahu bahwa seseorang bernama Andi akan mempertaruhkan dirinya demi menyelamatkan kami semua.

Komentar

populer

COUPLE JUARA - Bab 3

MENGEJAR SENJA YANG SAMA - BAB 1

MUBADOG - Bab 1