MENGEJAR SENJA YANG SAMA - BAB 8
Persaingan yang Dewasa, Bukan Permusuhan
Sejak pertemuan di taman, hubungan Aldi dan Kayna semakin dekat.
Mereka tidak pernah berjanji untuk saling memiliki, tetapi hampir setiap akhir pekan mereka menyempatkan diri bertemu. Terkadang hanya menikmati secangkir kopi, berjalan di taman kota, atau sekadar berbincang tentang pekerjaan dan keluarga.
Yang paling membuat Aldi nyaman adalah satu hal.
Kayna selalu menjadi pendengar yang baik.
Suatu malam, setelah pulang kerja, Aldi mengirim pesan.
Aldi:
"Hari ini capek banget. Dari pagi sampai sore ada kendaraan yang harus diperbaiki."
Tak lama kemudian, balasan datang.
Kayna:"Kalau capek, istirahat ya. Jangan terlalu memaksa diri."
Aldi tersenyum.
Perhatian sederhana seperti itu sudah cukup membuatnya merasa dihargai.
Di kantor Kayna, Arga mulai menyadari perubahan sikap rekan kerjanya itu.
Kayna kini lebih sering tersenyum saat melihat layar ponselnya.
Suatu siang, saat jam makan siang, Arga duduk di hadapan Kayna.
"Kay."
"Iya?"
"Boleh tanya sesuatu?"
"Boleh."
"Kamu lagi dekat sama seseorang?"
Kayna terdiam beberapa saat.
"Lagi mengenal seseorang."
Arga mengangguk pelan.
"Orang yang waktu itu ketemu di hotel?"
"Iya."
"Namanya Aldi?"
Kayna tersenyum.
"Iya."
Arga menundukkan kepala sejenak.
Kemudian ia tersenyum, meski ada sedikit rasa kecewa di wajahnya.
"Dia orang yang baik, ya?"
"Menurutku... iya."
Beberapa hari kemudian, Arga menghubungi Aldi melalui media sosial.
Awalnya Aldi heran.
Mereka hanya pernah bertemu sekali.
Namun Aldi tetap membalas dengan ramah.
Arga:
"Mas Aldi, kalau berkenan, saya ingin ngobrol."
Aldi membalas.
Aldi:
"Boleh. Ada apa?"
Mereka sepakat bertemu di sebuah kedai kopi.
Saat bertemu, Arga langsung mengulurkan tangan.
"Terima kasih sudah mau datang."
"Sama-sama."
Setelah beberapa menit berbincang tentang pekerjaan, Arga akhirnya masuk ke inti pembicaraan.
"Saya suka sama Kayna."
Aldi terdiam.
"Saya sudah mengenalnya hampir dua tahun."
"Tapi... saya merasa belakangan ini dia berubah."
Aldi hanya mendengarkan.
"Saya tahu dia dekat sama Mas."
Aldi mengangguk pelan.
"Iya."
"Saya tidak datang untuk mengajak bersaing secara tidak sehat."
"Lalu?"
"Saya cuma ingin tahu."
"Apakah Mas serius mengenalnya?"
Pertanyaan itu membuat Aldi terdiam cukup lama.
Kemudian ia menjawab dengan tenang.
"Kalau saya hanya ingin bermain-main, saya tidak akan menunggu selama ini."
Arga menatap Aldi.
"Sudah berapa lama?"
"Hampir sejak SMP."
Arga membelalakkan mata.
"SMP?"
Aldi tersenyum kecil.
"Iya."
"Saya tidak pernah memaksakan perasaan saya."
"Saya hanya berusaha menjadi orang yang lebih baik."
Arga menghela napas panjang.
"Saya kalah jauh."
Aldi segera menggeleng.
"Tidak ada yang kalah."
"Perasaan tidak bisa dipaksa."
"Dan Kayna berhak memilih siapa pun yang membuatnya bahagia."
Arga tersenyum tipis.
"Terima kasih."
"Kenapa?"
"Karena Mas tidak menganggap saya musuh."
Aldi menjawab dengan tulus.
"Kita sama-sama laki-laki."
"Kalau memang mencintai seseorang, caranya bukan menjatuhkan orang lain."
"Tapi menunjukkan versi terbaik dari diri kita."
Arga mengangguk pelan.
Hari itu, mereka berpisah dengan saling menghormati.
Sementara itu, tanpa sepengetahuan keduanya, Kayna mengetahui bahwa Aldi dan Arga bertemu.
Ia sempat khawatir akan terjadi kesalahpahaman.
Namun ketika Arga kembali ke kantor, ia hanya berkata singkat,
"Kay."
"Iya?"
"Aldi orang baik."
Kayna menatap Arga dengan heran.
"Kamu ketemu dia?"
"Iya."
"Lalu?"
"Aku sekarang paham kenapa kamu nyaman sama dia."
Kayna tersenyum kecil.
"Terima kasih sudah mengerti."
Arga mengangguk.
"Aku tetap menghargai keputusanmu."
Malam harinya, Kayna menghubungi Aldi.
"Kamu ketemu Arga?"
"Iya."
"Kenapa nggak cerita?"
Aldi tertawa kecil.
"Gak ada yang penting."
"Dia cuma ngobrol."
"Marah nggak?"
"Nggak."
Kayna terdiam beberapa saat.
"Ldi..."
"Iya?"
"Terima kasih."
"Untuk apa?"
"Karena kamu selalu menyelesaikan sesuatu dengan kepala dingin."
Aldi tersenyum.
"Ayahku pernah bilang, laki-laki itu bukan diukur dari seberapa keras suaranya."
"Tapi dari seberapa tenang dia saat menghadapi masalah."
Di ujung telepon, Kayna tersenyum haru.
Semakin hari, ia semakin yakin bahwa Aldi telah tumbuh menjadi pribadi yang berbeda dari anak laki-laki pemalu yang dikenalnya di SMP.
Kini, Aldi adalah pria yang matang, bertanggung jawab, dan mampu menghargai orang lain, bahkan mereka yang dianggap sebagai "saingan".
Namun di balik semua ketenangan itu, Aldi masih menyimpan satu pertanyaan besar.
Apakah sudah waktunya mengungkapkan perasaan yang ia pendam selama hampir sepuluh tahun?
Jawaban atas pertanyaan itu akan hadir dalam sebuah perjalanan yang tak pernah ia rencanakan—perjalanan yang akan mengubah hubungan mereka untuk selamanya.
Bersambung ke Bab 9: "Pengakuan di Bawah Langit Senja."
Komentar
Posting Komentar