MENGEJAR SENJA YANG SAMA - BAB 7
Rahasia yang Selama Ini Disimpan Kayna
Sejak pertemuan di hotel itu, komunikasi Aldi dan Kayna kembali terjalin.
Awalnya hanya saling mengirim pesan beberapa hari sekali.
Lalu menjadi hampir setiap malam.
Mereka saling bertukar cerita tentang pekerjaan, keluarga, dan kehidupan setelah lulus sekolah.
Tak ada rayuan.
Tak ada kata-kata romantis.
Semuanya mengalir dengan sederhana, seperti dua sahabat lama yang dipertemukan kembali oleh waktu.
Suatu malam.
Kayna:
"Lagi apa?"
Aldi:
"Baru pulang kerja. Capek sedikit, tapi Alhamdulillah."
Kayna:
"Jangan lupa makan."
Aldi:
"Siap, Bu Dokter."
Kayna:
"Hahaha... emang aku dokter?"
Aldi:
"Bukan. Tapi nasihatmu lengkap."
Kayna hanya membalas dengan emoji tertawa.
Percakapan sederhana seperti itu membuat hari-hari Aldi terasa lebih ringan.
Dua minggu kemudian, Kayna mengajak Aldi bertemu di sebuah taman kota pada hari Minggu sore.
Aldi datang lebih awal.
Ia mengenakan kemeja biru muda yang baru dibelinya dari gaji bulan lalu.
Tak lama kemudian, Kayna datang.
"Hai, nunggu lama?"
"Baru lima menit."
"Maaf ya."
"Gak apa-apa."
Mereka berjalan mengelilingi taman sambil menikmati udara sore.
Anak-anak berlarian, beberapa keluarga duduk di atas tikar, dan para pedagang menjajakan makanan.
Suasana terasa hangat.
Namun Aldi menyadari, sejak tadi Kayna tampak ingin mengatakan sesuatu.
"Kay..."
"Hm?"
"Kamu lagi kepikiran apa?"
Kayna berhenti melangkah.
Ia menarik napas panjang.
"Ldi..."
"Aku mau jujur."
Aldi mulai merasa gugup.
"Aku ingat waktu SMP."
Aldi tersenyum.
"Aku juga."
"Aku tahu... dulu kamu suka sama aku."
Jantung Aldi seolah berhenti berdetak.
Ia membeku.
"Kamu... tahu?"
Kayna mengangguk pelan.
"Aku tahu."
"Sejak kapan?"
"Sejak kelas delapan."
Aldi menatap Kayna dengan wajah tak percaya.
"Tapi... aku gak pernah bilang."
"Memang."
"Tapi caramu memperlakukan aku berbeda."
"Kamu selalu membantu tanpa pernah meminta balasan."
"Kamu selalu ada kalau aku kesulitan."
"Dan setiap kali teman-teman menggoda kita..."
Kayna tersenyum kecil.
"...kamu pasti langsung salah tingkah."
Aldi menundukkan kepala sambil tertawa malu.
"Jadi... selama ini kamu tahu."
"Iya."
"Aku pernah menunggu."
Ucapan Kayna membuat Aldi kembali menatapnya.
"Apa?"
"Aku pernah berharap kamu mengatakan semuanya."
Aldi terdiam.
"Tapi kamu tidak pernah mengatakannya."
"Aku takut."
"Takut apa?"
"Aku takut kehilangan kamu."
"Aku juga merasa belum pantas."
Kayna mengangguk pelan.
"Aku mengerti."
Beberapa saat mereka hanya diam.
Angin sore berembus pelan.
Daun-daun berguguran di sekitar bangku tempat mereka duduk.
Kemudian Kayna berkata pelan,
"Ada satu rahasia lagi."
"Apa?"
"Waktu SMA..."
"Aku sempat didekati beberapa orang."
Aldi hanya mendengarkan.
"Termasuk Dimas."
Aldi sedikit terkejut.
"Dimas?"
"Iya."
"Dia pernah menyatakan perasaannya."
"Lalu?"
"Aku menolak."
Aldi benar-benar tidak menyangka.
"Kenapa?"
Kayna tersenyum tipis.
"Karena aku belum ingin pacaran."
"Aku ingin fokus sekolah."
"Dan..."
Ia berhenti sejenak.
"...ada seseorang yang belum benar-benar hilang dari pikiranku."
Aldi menatap Kayna tanpa berkedip.
"Siapa?"
Kayna justru tersenyum.
"Rahasia."
Aldi tidak berani menebak.
Ia takut berharap terlalu tinggi.
Mereka kembali berjalan.
Di dekat pintu keluar taman, Kayna berhenti.
"Ldi."
"Iya?"
"Aku senang kita dipertemukan lagi."
"Aku juga."
"Tapi..."
"Aku ingin kita mengenal satu sama lain lagi."
"Bukan sebagai anak SMP."
"Bukan karena kenangan."
"Tapi sebagai dua orang dewasa."
Aldi mengangguk mantap.
"Aku setuju."
Tidak ada pernyataan cinta hari itu.
Tidak ada kata "aku suka kamu" atau "maukah kamu menjadi pacarku?"
Yang ada hanyalah sebuah kesempatan baru.
Kesempatan untuk memulai dari awal.
Dengan hati yang lebih dewasa.
Saat mengantar Kayna menuju tempat parkir, ponsel Kayna berdering.
Nama Arga muncul di layar.
Kayna mengangkat telepon itu.
"Halo, Ga."
"Iya."
"Oh... baik."
"Nanti aku kabari."
Telepon ditutup.
Aldi tidak bertanya apa-apa.
Namun dalam hati, ia mulai bertanya-tanya.
Siapa sebenarnya Arga bagi Kayna?
Dan mengapa, setiap kali mereka mulai semakin dekat, selalu ada seseorang yang seolah hadir menguji keteguhan hati Aldi?
Di sisi lain, Kayna menatap Aldi diam-diam.
Ia tahu, waktu telah memberi mereka kesempatan kedua.
Tetapi kesempatan itu tidak akan berarti jika tidak ada keberanian untuk memperjuangkannya.
Sementara itu, Arga ternyata juga mulai menyimpan perasaan kepada Kayna—perasaan yang kelak akan menjadi ujian terbesar bagi Aldi.
Bersambung ke Bab 8: "Persaingan yang Dewasa, Bukan Permusuhan."
Komentar
Posting Komentar