Melodi Musim Ketujuh Belas

 Bab 1: Lingkaran Kecil di Ujung Gang

Bagi Ida, masa remajanya di usia 16 tahun sebenarnya dimulai dengan sangat sederhana. Ia hanyalah gadis biasa dengan rambut dikuncir kuda dan tas ransel lusuh yang lebih suka menghabiskan waktu di perpustakaan. Kehidupannya yang tenang berubah warna sejak ia bertetangga dengan Adit.

Adit adalah tipe pria yang santai, sedikit berantakan, tapi memiliki kehangatan alami. Karena rumah mereka berhadapan dan ibu mereka bersahabat, Ida dan Adit tumbuh seperti saudara kandung. Adit selalu memastikan Ida tidak terlambat naik bus sekolah, dan Ida selalu menyimpan camilan ekstra di tasnya untuk Adit.

Suatu sore di kantin sekolah yang riuh, Adit menarik tangan Ida dan memperkenalkannya ke meja paling pojok—meja yang selama ini disegani seluruh siswa. Di sanalah Ida pertama kali masuk ke dalam lingkaran lima pria dengan kepribadian yang bertolak belakang.

Bab 2: Lima Bintang dan Satu Poros

Tidak butuh waktu lama bagi Ida untuk memahami dinamika kelima pria itu. Di mata murid-murid lain, mereka adalah jajaran siswa populer. Namun di mata Ida, mereka hanyalah lima anak laki-laki dengan segala keunikan dan kebaikannya.

Ada Gaza, kapten tim basket yang selalu bersikap dingin dan irit bicara, namun secara ajaib selalu tahu kapan Ida membutuhkan kotak minum dingin setelah pelajaran olahraga. Lalu ada Dion, si jenius berkacamata yang kaku dan serba logis, tapi tanpa ragu meluangkan waktu berjam-jam menjelang ujian untuk mengajari Ida matematika hingga gadis itu paham.

Ada pula Leo, si humoris yang energik dan tak pernah habis akal untuk membuat Ida tertawa bahkan saat gadis itu sedang murung. Dan yang terakhir adalah Arka, yang tertua di antara mereka, sosok pelindung yang tenang dan selalu memastikan Ida pulang ke rumah dengan aman setiap kali ada kegiatan ekstra kurikuler hingga malam.

Ida tidak pernah dipandang sebagai objek asmara. Ia menjadi adik, sahabat, sekaligus "poros" lembut yang menyatukan kelima kepala batu tersebut.

Bab 3: Riuh Putih-Abu-Abu

Hari-hari di SMA diwarnai gelak tawa dan kenangan manis. Ida ingat betul momen ketika Leo tertangkap guru karena menyembunyikan sepatu Gaza di atas atap kantin, atau saat Dion frustrasi karena Ida lebih memilih menghafal rumus dengan lagu buatan Leo daripada metode logisnya.

Kasih sayang keempat sahabat Adit kepada Ida tumbuh secara alami karena mereka melihat ketulusan dan kepolosan gadis itu. Ida adalah pendengar yang baik ketika Gaza lelah dengan tekanan latihan basket, dan Ida adalah orang pertama yang menyemangati Arka saat pria itu ragu mengambil jurusan kedokteran.

Kehadiran Ida membuat kelompok yang tadinya terkesan eksklusif itu menjadi lebih hangat dan ramah. Ida merasa sangat dilindungi dan disayangi dalam persahabatan murni tanpa drama romansa yang rumit.

Bab 4: Pelindung Tanpa Syarat

Kehangatan persahabatan mereka diuji saat Ida mengalami perundungan kecil dari senior yang iri melihatnya selalu dikelilingi lima pria populer tersebut. Suatu sore, buku tugas Ida disembunyikan dan ia ditahan di ruang seni.

Ketika tahu Ida menghilang, kelima pria itu bergerak tanpa komando. Arka yang biasanya tenang adalah orang pertama yang mendobrak pintu ruang seni, sementara Gaza dan Adit memastikan senior-senior itu mendapat teguran keras dari pihak sekolah. Dion mengumpulkan kembali lembar tugas Ida yang berserakan, dan Leo sibuk membuat lelucon konyol sepanjang jalan pulang untuk menghapus air mata Ida.

Sore itu, di bangku taman depan rumah Ida, mereka berlima berjanji akan selalu menjadi benteng bagi Ida, apa pun yang terjadi.

Bab 5: Hadiah Bintang dan Tangis di Ujung Seragam

Musim kelulusan tiba saat mereka menginjak usia 18 tahun. Pada hari perayaan ulang tahun Ida yang ke-18 sekaligus kelulusan SMA, kelima pria itu memberikan sebuah kotak beludru kecil. Di dalamnya terdapat sebuah gelang perak sederhana dengan lima ukiran bintang kecil.

"Lima bintang ini adalah kami," ujar Arka sambil memasangkan gelang itu di pergelangan tangan Ida. "Di mana pun kamu berada, kamu tidak pernah sendiri."

Namun, kelulusan juga membawa aroma perpisahan yang nyata. Cita-cita dan jalan hidup memanggil mereka ke arah yang berbeda-beda. Suasana haru menyeruak saat mereka saling berpelukan di hari terakhir corat-coret seragam, menyadari bahwa musim terbaik dalam masa muda mereka telah usai.

Bab 6: Persimpangan Kelulusan dan Janji yang Meredup

Perpisahan terjadi begitu cepat. Dion berangkat ke Jerman untuk melanjutkan studi teknik. Gaza direkrut oleh klub basket profesional dan pindah ke luar kota. Arka memulai perjalanan panjang dan padat di fakultas kedokteran. Leo mengejar mimpinya di dunia hiburan yang serba sibuk, dan Adit harus ikut keluarganya pindah ke luar pulau untuk mengurus bisnis keluarga.

Pada tahun-tahun awal, grup obrolan mereka masih ramai. Namun perlahan, seiring bertambahnya usia dan beban hidup di awal usia 20-an, kesibukan mulai mengambil alih. Pesan balasan menjadi makin singkat, telepon menjadi makin jarang, hingga akhirnya komunikasi meredup dengan sendirinya.

Meski begitu, gelang perak lima bintang itu tetap tersimpan rapi di dalam kotak perhiasan Ida.

Bab 7: Meniti Jalan Masing-Masing

Memasuki usia 20-an akhir, Ida tumbuh menjadi wanita dewasa yang mandiri. Ia bekerja sebagai editor di sebuah perusahaan penerbitan buku di Jakarta. Kehidupannya berjalan tenang dan sederhana.

Beberapa kali Ida mendengar kabar sahabat-sahabat lamanya dari media sosial atau berita: Gaza yang berhasil membawa timnya menjuarai liga, Leo yang wajahnya sering muncul di acara televisi, Dion yang mempublikasikan jurnal ilmiah di Eropa, Arka yang menjadi dokter spesialis handal, serta Adit yang sukses memperluas bisnis keluarganya.

Ida tersenyum bangga dari jauh. Tidak ada rasa sakit hati atau kekecewaan karena komunikasi yang terputus, hanya rasa syukur mendalam pernah menjadi bagian dari perjalanan masa muda mereka.

Bab 8: Pelabuhan Bernama Danuar

Di usianya yang ke-31, saat Ida menikmati ritme hidupnya yang tenang dan stabil, takdir mempertemukannya dengan Danuar, seorang arsitek berusia 33 tahun yang hangat, berprinsip, dan penyabar.

Pertemuan mereka terjadi secara tidak sengaja dalam sebuah proyek pembuatan buku arsitektur. Tidak ada kembang api yang dramatis, tapi cinta Danuar terasa seperti rumah yang kokoh dan aman. Danuar menghargai masa lalu Ida dan mendengarkan kisah kelima sahabat remajanya dengan rasa hormat yang tulus.

Setahun kemudian, Ida dan Danuar menikah dalam perayaan yang hangat dan penuh khidmat. Bahagia Ida makin lengkap ketika di usia 33 tahun, ia melahirkan putri cantik yang diberi nama Aira.

Bab 9: Undangan dari Masa Lalu

Dua tahun berlalu. Di usia Ida yang ke-35, sebuah pesan masuk ke ponselnya dari nomor yang sangat ia kenali—Adit. Rupanya, angkatan SMA mereka berencana mengadakan reuni akbar 17 tahun setelah kelulusan.

Ida menatap layar ponselnya dengan dada yang berdesir hangat. Kenangan usia 16 tahun kembali berputar bagai rol film tua. Ia membicarakan hal ini kepada Danuar, dan suaminya dengan penuh kasih mendukung Ida untuk hadir.

"Pergilah, temui sahabat-sahabatmu. Bawa Aira, biar mereka tahu betapa bahagianya kamu sekarang," kata Danuar lembut sambil tersenyum.

Bab 10: Kembali Bersinar di Bawah Langit Usia 35

Sebuah kafe berkonsep taman terbuka menjadi saksi bisu pertemuan kembali itu. Ida duduk di salah satu meja bersama Danuar, sementara Aira kecil yang berusia dua tahun sibuk memegang mainannya.

Satu per satu, lima pria itu melangkah masuk.

Waktu telah mengubah penampilan mereka secara fisik—mereka kini adalah pria-pria dewasa berusia 37 dan 35 tahun yang matang, tampak sukses dan berwibawa. Namun begitu mata mereka bertemu dengan Ida, raut wajah mereka seketika kembali seperti anak laki-laki usia 16 tahun di kantin sekolah dulu.

Pekikan kegembiraan tak terelakkan. Leo langsung memeluk Adit, Dion tersenyum lebar melepaskan kacamata bacanya, Gaza menepuk bahu Arka, dan mereka semua berkumpul memutari meja Ida.

Tidak ada rasa canggung. Tidak ada penyesalan atau cinta yang terpendam secara keliru. Yang ada hanyalah rasa bangga dan kasih sayang tulus yang tak pernah lekang oleh waktu.

"Jadi ini arsitek hebat yang menyalin tugas kami menjaga Ida?" goda Leo sambil menyalami Danuar dengan hangat.

Danuar tertawa dan membalas jabat tangan mereka satu per satu. "Terima kasih sudah menjadi benteng yang baik untuk Ida sewaktu SMA. Saya mendengar banyak cerita hebat tentang kalian berlima."

Gaza berlutut kecil untuk menyapa Aira, sementara Dion memberikan sebuah boneka beruang kecil yang sengaja ia beli dari Jerman. Arka dan Adit memandangi Ida dengan tatapan haru seorang kakak dan sahabat sejati.

Saat malam makin larut dan gelak tawa memenuhi udara, Ida menyentuh pergelangan tangannya. Di sana, gelang perak lima bintang itu kembali ia kenakan. Ida menyadari satu hal: takdir memang tidak menyatukan dirinya secara romantis dengan salah satu dari mereka, karena takdir telah menyiapkan peran yang jauh lebih indah—menjadi sahabat seumur hidup yang saling mendoakan dari kejauhan, dan bermuara pada kebahagiaan keluarga kecil yang sempurna.

 


Komentar

populer

COUPLE JUARA - Bab 3

MENGEJAR SENJA YANG SAMA - BAB 1

MUBADOG - Bab 1