COUPLE JUARA - Bab 9

 

Couple Juara Matematika

"Prestasi membuat seseorang dikenal. Tetapi kerendahan hati membuat seseorang dikenang."


Hari Senin pagi, suasana sekolah terasa berbeda.

Begitu Alya memasuki gerbang, beberapa adik kelas yang bahkan tidak dikenalnya mulai menyapanya.

"Selamat ya, Kak Alya!"

"Keren banget jadi juara satu!"

"Semoga tahun depan aku juga bisa kayak Kakak."

Alya membalas dengan senyum yang masih canggung.

Ia belum terbiasa menjadi pusat perhatian.

Beberapa bulan yang lalu, ia justru berharap tidak ada seorang pun yang mengenal namanya.

Kini...

Semua orang memanggilnya.


Di depan ruang guru, sebuah papan pajangan baru dipasang.

Di bagian paling atas tertulis:

PRESTASI SISWA TAHUN INI

Di bawahnya terdapat dua foto berukuran besar.

Foto pertama menampilkan Arga yang sedang menerima piala.

Foto kedua menampilkan Alya dengan senyum malu-malu sambil menggenggam trofi juara.

Di tengah kedua foto itu tertulis sebuah kalimat:

"Prestasi lahir dari kerja keras, bukan dari keberuntungan."

Setiap siswa yang lewat berhenti sejenak untuk melihatnya.

"Wah... keren ya."

"Itu Kak Arga."

"Yang sebelah Kak Alya."

"Pas banget fotonya berdampingan."

Tak lama kemudian terdengar suara jahil dari belakang.

"Udah resmi nih..."

"...Couple Juara Matematika!"

Semua langsung tertawa.

Alya yang kebetulan lewat spontan menutup wajahnya dengan buku.

Pipinya memerah.

Arga yang berdiri tak jauh dari sana hanya tersenyum sambil menggeleng.

"Jangan didengerin."

"Mereka memang begitu."

Alya mengangguk pelan.

"Untung aku sudah mulai kebal."

"Kebal?"

"Iya."

"Dulu dipanggil ke depan kelas saja aku mau menangis."

"Sekarang..."

"...dijuluki macam-macam ternyata tidak semenakutkan yang kubayangkan."

Arga tersenyum bangga.

Perubahan Alya benar-benar luar biasa.


Prestasi mereka membawa tanggung jawab baru.

Bu Rina menunjuk Arga dan Alya menjadi tutor dalam program pembinaan matematika untuk adik kelas.

"Mulai minggu depan, kalian membantu kelas VII."

"Siap, Bu."

Jawab mereka hampir bersamaan.

Program itu ternyata sangat menyenangkan.

Setiap Selasa sore, ruang kelas dipenuhi belasan siswa yang antusias belajar.

Alya mengajarkan dengan sabar.

Tidak pernah memarahi jika ada jawaban yang salah.

Sebaliknya, ia selalu bertanya,

"Coba ceritakan cara berpikirmu."

Kalimat itu membuat anak-anak merasa dihargai.

Arga memperhatikan dari kejauhan.

Senyum tipis terukir di wajahnya.

"Dia benar-benar akan menjadi guru yang hebat suatu hari nanti."


Suatu hari, seorang siswa kelas VII bernama Dimas menghampiri Alya setelah pembinaan selesai.

"Kak."

"Iya?"

"Aku sebenarnya takut sama matematika."

Alya tersenyum.

"Dulu Kakak juga."

"Serius?"

"Iya."

"Tapi Kakak kan juara."

"Juara bukan berarti tidak pernah takut."

"Bedanya..."

"...Kakak tetap mencoba."

Dimas mengangguk pelan.

Ucapan itu sederhana.

Namun tanpa disadari, Alya sedang melakukan hal yang dulu dilakukan Arga kepadanya.

Menyalakan harapan.


Sore itu, Bu Rina menghampiri Arga.

"Bagaimana menurutmu tentang Alya?"

Arga tersenyum.

"Dia berkembang jauh sekali."

"Bukan hanya berkembang."

Bu Rina memperbaiki kalimatnya.

"Dia sedang menemukan jati dirinya."

Arga mengangguk.

"Iya, Bu."

"Lalu..."

Bu Rina tersenyum penuh arti.

"Kamu sendiri bagaimana?"

"Maksud Ibu?"

"Kamu selalu melihat Alya dengan tatapan yang berbeda."

Arga terdiam.

Pipinya memanas.

"Bu..."

"Ibu hanya bertanya."

Arga menghela napas pelan.

"Aku... belum tahu."

Bu Rina tersenyum kecil.

Sebagai guru, beliau bisa membaca banyak hal dari sorot mata murid-muridnya.

Tetapi beliau memilih tidak berkata apa-apa lagi.


Semakin hari, kedekatan Alya dan Arga menjadi hal yang biasa di sekolah.

Mereka belajar bersama.

Membimbing adik kelas bersama.

Mewakili sekolah dalam berbagai kegiatan akademik.

Namun di balik semua itu, mereka tetap menjaga batas.

Arga tidak pernah membuat Alya merasa tidak nyaman.

Ia tidak mengganggu jam belajar Alya.

Tidak mengirim pesan tanpa alasan.

Tidak mencari perhatian berlebihan.

Sebagian besar percakapan mereka masih dipenuhi soal-soal matematika.

Meski begitu, perhatian kecil selalu ada.

Jika Alya lupa membawa penggaris, Arga diam-diam meminjamkannya.

Jika Arga lupa makan karena sibuk membimbing, Alya meletakkan sepotong roti dan sebotol susu di mejanya tanpa banyak bicara.

Tak ada ucapan romantis.

Tak ada janji manis.

Hanya kepedulian yang tumbuh perlahan.


Menjelang akhir semester, sekolah mengadakan malam apresiasi prestasi.

Setiap siswa berprestasi diminta naik ke panggung.

Arga dan Alya kembali dipanggil bersamaan.

Saat mereka berdiri berdampingan, kepala sekolah berkata di depan seluruh siswa,

"Dua anak ini mengajarkan kepada kita bahwa prestasi bukanlah tentang siapa yang paling hebat."

"Prestasi adalah tentang saling mendukung agar sama-sama bertumbuh."

Tepuk tangan bergemuruh memenuhi aula.

Alya menoleh sekilas kepada Arga.

Arga membalas dengan senyum hangat.

Mereka sama-sama tahu...

Jika salah satu dari mereka menyerah setahun yang lalu, mungkin hari ini tidak akan pernah terjadi.


Acara selesai menjelang malam.

Saat hendak pulang, listrik sekolah tiba-tiba padam beberapa menit karena hujan deras.

Koridor menjadi remang-remang.

Alya berhenti di dekat jendela.

Lampu-lampu kota tampak berkilau di balik rintik hujan.

"Indah ya."

Suara Arga memecah keheningan.

"Iya."

"Dulu aku sering berpikir..."

Alya berkata pelan.

"...kalau hidupku akan terus gelap."

Arga mendengarkan tanpa menyela.

"Tapi ternyata..."

"...gelap bukan berarti matahari hilang."

"Kadang..."

"...kita hanya perlu menunggu pagi."

Arga menoleh.

Tatapannya tertuju pada Alya yang sedang tersenyum memandang hujan.

Untuk sesaat, ia tidak melihat lagi gadis yang dulu rapuh.

Yang berdiri di hadapannya kini adalah seseorang yang telah belajar berdamai dengan dirinya sendiri.

Dan di dalam hati Arga, sebuah keputusan mulai terbentuk.

"Aku tidak bisa terus menyimpan perasaan ini."

"Suatu hari nanti..."

"Aku akan mengatakan semuanya."

Namun ia juga tahu...

Alya masih sedang menyusun kembali kepingan hidupnya.

Ia tidak ingin tergesa-gesa.

Ia ingin cinta mereka dimulai pada waktu yang tepat.

Sementara itu, Alya sama sekali tidak menyadari pergulatan hati Arga.

Baginya, Arga adalah sahabat terbaik yang pernah diberikan kehidupan.

Seseorang yang mengajarkannya bahwa angka memang memiliki jawaban pasti.

Tetapi hati...

Membutuhkan waktu untuk menemukan jawabannya sendiri.


Malam itu, sebelum tidur, Alya membuka buku harian yang kini mulai sering ia isi.

Ia menulis:

"Dulu aku mengira keberhasilan adalah menjadi juara."

"Hari ini aku sadar..."

"Keberhasilan adalah ketika aku bisa tersenyum tanpa lagi merasa malu menjadi diriku sendiri."

"Dan untuk semua itu..."

"Terima kasih, Arga."

Ia menutup buku itu perlahan, tanpa menyadari bahwa di kamar yang berbeda, seseorang juga sedang menuliskan namanya dalam doa.

# tungguin bab berikutnya ya.... 

Komentar

populer

COUPLE JUARA - Bab 3

MENGEJAR SENJA YANG SAMA - BAB 1

MUBADOG - Bab 1