COUPLE JUARA - Bab 8

 

Hari Penentuan

"Ada hari-hari yang mengubah hidup seseorang. Bukan karena keberuntungan, melainkan karena semua air mata dan kerja keras akhirnya menemukan jawabannya."


Sabtu pagi.

Langit cerah seolah ikut menyambut hari yang telah mereka tunggu selama setahun.

Halaman sekolah sudah dipenuhi peserta Olimpiade Matematika dari berbagai kelas. Beberapa tampak membaca catatan terakhir, sebagian lagi berjalan mondar-mandir mengusir rasa gugup.

Di antara keramaian itu, Alya berdiri memegang map biru berisi kartu peserta.

Tangannya terasa dingin.

Jantungnya kembali berdetak cepat.

Persis seperti setahun yang lalu.

Bedanya, kali ini ia tidak sendirian.

"Masih gugup?"

Suara Arga terdengar dari belakang.

Alya menoleh dan tersenyum kecil.

"Sedikit."

Arga mengangguk pelan.

"Aku juga."

Alya mengernyit.

"Kamu juga bisa gugup?"

"Kenapa tidak?"

Arga tertawa kecil.

"Orang yang tidak gugup biasanya justru tidak peduli."

Kalimat itu membuat Alya ikut tersenyum.

Ia menarik napas panjang.

"Baiklah."

"Ayo kita berjuang."

"Bukan."

Arga mengulurkan tangan.

"Ayo kita menikmati prosesnya."

Alya membalas uluran tangan itu dengan senyum tipis.

"Habis ini, kita bertemu lagi di depan papan pengumuman."

"Deal."


Bel berbunyi.

Seluruh peserta memasuki ruang lomba masing-masing.

Karena berbeda jenjang kelas, Arga dan Alya berada di ruangan yang berbeda.

Sebelum masuk, mereka sempat saling mengangguk.

Tidak ada kata-kata.

Namun keduanya memahami arti tatapan itu.

"Semangat."


Lembar soal dibagikan.

Alya memejamkan mata beberapa detik.

Ia mengingat semua latihan selama setahun terakhir.

Suara Bu Rina.

Petunjuk-petunjuk Arga.

Malam-malam panjang di meja belajar.

Pelukan ibunya.

Pin berbentuk π yang kini terselip di saku seragamnya.

Ketika membuka lembar pertama, ia tersenyum.

Soal pertama dapat ia kerjakan dengan lancar.

Soal kedua sedikit lebih sulit.

Soal ketiga membuat beberapa peserta mulai gelisah.

Alya mengingat pesan Arga.

"Kalau buntu, kembali ke konsep paling dasar."

Ia menghapus jawabannya.

Mencoba cara lain.

Lima menit kemudian...

Senyumnya mengembang.

"Ketemu."


Di ruangan lain, Arga juga sedang berpacu dengan waktu.

Ia sempat terhenti pada soal geometri.

Namun kemudian ia tersenyum sendiri.

"Kalau Alya melihat soal ini, pasti dia bilang..."

"'Cari polanya dulu.'"

Tanpa sadar, ia menggunakan cara berpikir yang sering dipakai Alya.

Dan ternyata berhasil.

Ia terkekeh pelan.

Rupanya mereka saling belajar, meski tidak selalu menyadarinya.


Tiga jam berlalu.

Bel tanda waktu habis berbunyi.

Seluruh peserta mengumpulkan lembar jawaban.

Begitu keluar ruangan, Alya mengembuskan napas panjang.

"Bagaimana?"

Tanya Arga yang sudah menunggu di koridor.

"Ada dua soal yang aku ragu."

"Kamu?"

"Satu."

Alya tertawa.

"Berarti aku masih kalah."

Arga menggeleng.

"Kita lihat nanti."


Sore harinya, aula sekolah dipenuhi peserta dan guru.

Papan pengumuman masih ditutup kain putih.

Suasana begitu tegang.

Bu Rina berdiri di samping kepala sekolah.

Beliau tampak sama gugupnya dengan para peserta.

"Baik."

Suara kepala sekolah terdengar melalui mikrofon.

"Kita akan mulai dari kategori kelas VIII."

Alya menundukkan kepala.

Tangannya saling menggenggam erat.

"Juara Harapan Tiga..."

Bukan namanya.

"Juara Harapan Dua..."

Bukan.

"Juara Harapan Satu..."

Masih bukan.

Jantung Alya semakin cepat.

"Juara Tiga..."

Bukan.

"Juara Dua..."

Bukan juga.

Ia mulai tersenyum pahit.

"Mungkin belum rezeki."

Kemudian terdengar suara yang membuat seluruh aula hening.

"Juara Satu..."

"...Alya Rahma Putri."

Alya membeku.

Ia merasa salah dengar.

Teman-teman sekelasnya langsung bersorak.

"Itu Alya!"

"Selamat!"

"Juara satu!"

Bu Rina menoleh sambil berkaca-kaca.

"Naik, Alya."

Namun Alya masih berdiri mematung.

Barulah setelah Arga bertepuk tangan paling keras sambil tersenyum lebar, Alya tersadar.

Perlahan ia melangkah ke atas panggung.

Air matanya jatuh.

Setahun lalu...

Ia pulang tanpa membawa piala.

Hari ini...

Ia berdiri di podium tertinggi.


Beberapa saat kemudian, pengumuman kategori kelas IX dimulai.

Alya kini duduk di kursi peserta sambil menggenggam pialanya.

Hatinya masih berdebar.

"Juara Satu kategori kelas IX..."

"...Arga Pratama."

Seluruh aula kembali bergemuruh.

Alya berdiri spontan.

Ia menjadi orang pertama yang bertepuk tangan.

Arga menoleh ke arahnya.

Tatapan mereka bertemu.

Tanpa sepatah kata pun, keduanya saling tersenyum.

Senyum yang berkata,

"Kita berhasil."


Setelah acara selesai, seluruh peserta berkumpul di halaman sekolah.

Bu Rina meminta Arga dan Alya berdiri berdampingan untuk berfoto.

"Tersenyum."

Klik.

Beberapa guru ikut mendekat.

"Bu, fotonya kirim ya."

"Tentu."

Tak lama kemudian, beberapa siswa berteriak dari belakang.

"Woi!"

"Couple Juara Matematika!"

Semua langsung tertawa.

Alya spontan menunduk malu.

Pipinya memerah.

Arga hanya tersenyum sambil menggeleng.

"Itu cuma julukan."

Namun sejak hari itu, julukan itu menyebar ke seluruh sekolah.

Jika ada yang menyebut "Couple Juara", semua orang tahu siapa yang dimaksud.

Arga dan Alya.

Dua siswa yang sama-sama berdiri di podium tertinggi.

Dua sosok yang selalu terlihat belajar bersama.

Dua orang yang saling mendukung tanpa pernah saling menjatuhkan.


Sore menjelang.

Sebelum pulang, Arga menghampiri Alya yang sedang duduk di taman sekolah sambil memandangi pialanya.

"Masih percaya kalau kamu nggak bisa jadi juara?"

Alya menggeleng pelan.

"Sudah tidak."

"Bagus."

"Tapi..."

"Apa?"

Alya menatap Arga dengan mata yang berkaca-kaca.

"Aku baru sadar..."

"Yang paling sulit ternyata bukan mengerjakan soal olimpiade."

"Lalu?"

"Percaya pada diriku sendiri."

Arga tersenyum hangat.

"Itulah kemenanganmu yang sebenarnya."

Alya memandangi piala itu sekali lagi.

Kemudian ia berkata pelan,

"Terima kasih."

"Untuk apa?"

"Karena setahun yang lalu..."

"...kamu melihat seorang juara dalam diriku, bahkan ketika aku sendiri belum bisa melihatnya."

Arga terdiam.

Dadanya dipenuhi rasa haru.

Di hadapannya bukan lagi gadis pendiam yang selalu menyembunyikan wajah.

Melainkan seorang perempuan muda yang mulai percaya pada dirinya sendiri.

Dan pada detik itulah...

Arga menyadari sesuatu.

Perasaan yang selama ini ia simpan diam-diam telah tumbuh begitu besar.

Ia tidak lagi sekadar ingin melihat Alya berhasil.

Ia ingin menjadi orang yang selalu ada untuk menyaksikan setiap keberhasilan, setiap air mata, dan setiap langkah gadis itu.

Namun Arga memilih menyimpannya rapat-rapat.

Karena ia tahu...

Ada waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaan.

Dan hari ini...

Bukan tentang cinta.

Hari ini adalah tentang kemenangan Alya.

Kemenangan atas rasa takut yang selama bertahun-tahun membelenggunya.

#tungguin berikutnya ya..... 

Komentar

populer

COUPLE JUARA - Bab 3

MENGEJAR SENJA YANG SAMA - BAB 1

MUBADOG - Bab 1