COUPLE JUARA - Bab 7
Setahun Penuh Perjuangan
"Kesuksesan tidak datang pada hari perlombaan. Ia datang dari ratusan hari ketika seseorang memilih bangkit, meski tidak ada yang melihat."
Musim hujan kembali datang.
Tanpa terasa, hampir satu tahun telah berlalu sejak Alya berdiri dengan wajah kecewa di depan papan pengumuman lomba matematika.
Banyak hal telah berubah.
Jika dulu ia selalu duduk di pojok kelas sambil menghindari perhatian, kini ia beberapa kali dipercaya menjadi ketua kelompok saat pelajaran berlangsung.
Jika dulu ia takut bertanya, sekarang ia justru sering diminta guru membantu menjelaskan materi kepada teman-temannya.
Dan jika dulu ia belajar hanya untuk melupakan luka di rumah...
Kini ia belajar karena memiliki mimpi.
Mimpi yang dulu terasa mustahil.
Menjadi juara.
Pembinaan olimpiade memasuki tahap terakhir.
Bu Rina meletakkan setumpuk soal nasional di atas meja.
"Mulai minggu ini, tidak ada lagi soal tingkat sekolah."
"Kita naik level."
Semua peserta saling berpandangan.
Arga tersenyum tipis.
"Siap?"
Alya mengangguk mantap.
"Siap."
Bu Rina memperhatikan keduanya dengan bangga.
Dalam hati ia berkata,
"Tahun lalu Arga datang sendiri membawa piala. Tahun ini... mungkin sekolah akan memiliki dua juara."
Latihan menjadi semakin berat.
Sepulang sekolah, mereka baru pulang menjelang Magrib.
Sabtu digunakan untuk simulasi lomba.
Minggu pagi kadang dipakai untuk membahas soal-soal yang belum terpecahkan.
Suatu hari, Alya terlihat memijat pelipisnya.
"Aku buntu."
Arga yang sedang memeriksa jawaban peserta lain menghampiri.
"Soal nomor berapa?"
"Nomor lima."
Arga membaca sekilas.
Lalu tersenyum.
"Kamu terlalu jauh berpikir."
"Maksudnya?"
"Coba kembali ke definisi paling dasar."
Alya memandangi soal itu lagi.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Tiba-tiba matanya berbinar.
"Oh..."
"Ketemu?"
Alya mengangguk cepat.
"Sesulit apa pun soal, kadang jawabannya memang ada di konsep paling sederhana."
Arga tersenyum.
"Persis."
"Lalu kenapa aku selalu lupa?"
"Karena kamu terlalu ingin cepat sampai."
Alya tertawa pelan.
"Sepertinya itu bukan cuma tentang matematika."
Arga ikut tertawa.
"Iya."
"Kadang hidup juga begitu."
Hubungan mereka semakin akrab.
Namun tetap dalam batas yang wajar.
Mereka lebih sering berbicara tentang soal daripada hal-hal pribadi.
Meski begitu, ada kebiasaan kecil yang mulai terbentuk.
Jika Alya berhasil menyelesaikan soal sulit, Arga akan mengacungkan jempol dari kejauhan.
Jika Arga terlihat lelah setelah mengajar, Alya diam-diam membelikan air mineral dari kantin.
Tak ada ucapan khusus.
Tak ada perhatian yang berlebihan.
Semuanya mengalir begitu saja.
Suatu sore, Bu Rina memanggil mereka berdua ke ruang guru.
"Ada kabar baik."
Beliau menyerahkan dua amplop.
"Ini surat resmi."
Alya membukanya dengan tangan gemetar.
Peserta Olimpiade Matematika Tahun Ini.
Namanya tercantum di sana.
Ia menatap surat itu lama.
"Bu..."
"Iya?"
"Saya benar-benar terpilih?"
Bu Rina tersenyum hangat.
"Kamu mendapat nilai seleksi tertinggi di angkatanmu."
Air mata Alya langsung memenuhi pelupuk matanya.
Bukan karena sedih.
Melainkan karena teringat gadis yang setahun lalu pulang sambil menahan kecewa.
Kini...
Ia mendapat kesempatan kedua.
Arga ikut membuka suratnya.
Ia juga kembali menjadi wakil sekolah untuk tingkat kelasnya.
Bu Rina menatap keduanya bergantian.
"Tahun ini kalian membawa harapan sekolah."
"Tapi ingat..."
"Jangan jadikan harapan itu sebagai beban."
"Jadikan sebagai alasan untuk memberikan yang terbaik."
Mereka mengangguk bersamaan.
Di perjalanan pulang, Alya memandangi surat itu berulang kali.
"Aku masih nggak percaya."
Arga tersenyum.
"Aku percaya."
"Kamu selalu bilang begitu."
"Soalnya memang begitu."
Alya tertawa kecil.
"Kalau nanti aku gagal lagi?"
Arga menghentikan langkahnya.
Ia menatap Alya dengan sungguh-sungguh.
"Alya."
"Kamu tahu bedanya kamu yang sekarang dengan kamu setahun lalu?"
"Apa?"
"Dulu kamu takut gagal."
"Sekarang kamu hanya takut belum memberikan yang terbaik."
"Itu berbeda."
Alya terdiam.
"Kalau nanti hasilnya belum sesuai harapan..."
"Itu bukan berarti perjuanganmu sia-sia."
"Karena orang yang sudah berani berjuang..."
"...sebenarnya sudah menang."
Kata-kata itu kembali tersimpan di hati Alya.
Ia sadar, Arga tidak pernah menjanjikan kemenangan.
Tetapi selalu mengajarkannya untuk menghargai proses.
Malam itu, Alya pulang lebih awal.
Ibunya sudah berada di rumah.
Jarang sekali hal itu terjadi.
"Alya."
"Iya, Bu?"
"Katanya Bu Rina menelepon."
Alya mengangguk.
"Ibu..."
"Alya terpilih lagi mewakili sekolah."
Wajah ibunya langsung berbinar.
"Benarkah?"
Alya mengangguk.
Tanpa diduga, ibunya memeluknya erat.
"Ibu bangga."
Kalimat itu sederhana.
Namun bagi Alya, pelukan itu terasa seperti hadiah terbesar.
Ia memejamkan mata.
Sudah lama ia merindukan pelukan seperti ini.
"Terima kasih sudah berjuang, Nak."
Alya menggeleng pelan.
"Aku berjuang bukan sendirian, Bu."
"Bu Rina selalu membimbingku."
"Dan..."
Ia berhenti sejenak.
"Arga juga banyak membantu."
Ibunya tersenyum penuh arti.
"Kalau begitu, suatu hari Ibu ingin berterima kasih padanya."
Alya hanya tersenyum malu.
Seminggu menjelang perlombaan, latihan dihentikan lebih cepat.
"Besok tidak usah belajar terlalu keras," pesan Bu Rina.
"Istirahat juga bagian dari persiapan."
Semua peserta pulang.
Namun Arga masih berdiri di depan ruang pembinaan.
"Alya."
"Iya?"
"Ada sesuatu."
Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tasnya.
"Ini buat kamu."
"Apa lagi?"
Alya membukanya perlahan.
Di dalamnya terdapat sebuah pin berbentuk simbol π (pi) dari logam berwarna perak.
"Aku membuatnya waktu kelas sepuluh."
"Kenapa dikasih ke aku?"
Arga tersenyum.
"Supaya kamu ingat."
"Ingat apa?"
"Bahwa seperti π..."
"...potensimu tidak punya batas."
Alya menatap pin kecil itu.
Matanya kembali berkaca-kaca.
"Arga..."
"Terima kasih."
Untuk pertama kalinya, Alya memanggil namanya tanpa rasa canggung.
Arga tersenyum.
Dan entah mengapa...
Satu panggilan sederhana itu sudah cukup membuat harinya terasa sangat indah.
Malam sebelum lomba, Alya menempelkan pin berbentuk π itu di sampul buku catatannya.
Ia membuka halaman pertama.
Di sana masih tertulis kalimat yang pernah ditulis Arga setahun lalu.
"Jangan takut pada soal yang sulit. Takutlah jika berhenti mencoba."
Alya mengusap tulisan itu perlahan.
Kemudian menulis satu kalimat tepat di bawahnya.
"Besok aku tidak mengejar piala."
"Aku hanya ingin membuktikan bahwa gadis yang dulu tidak percaya diri... akhirnya berhasil mengalahkan rasa takutnya sendiri."
Ia menutup buku itu sambil tersenyum.
Esok pagi...
Bukan hanya sebuah perlombaan yang menunggu.
Melainkan awal dari kisah yang akan membuat seluruh sekolah mengenal dua nama yang selalu disebut bersamaan.
Arga dan Alya.
Komentar
Posting Komentar