COUPLE JUARA - Bab 6
Gadis yang Mulai Tersenyum
"Seseorang tidak berubah karena dipaksa. Ia berubah karena akhirnya bertemu dengan orang yang membuatnya percaya bahwa dirinya berharga."
"Selamat pagi."
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun bagi teman-teman sekelas Alya, sapaan itu terasa seperti sebuah keajaiban.
"Eh... Alya tadi nyapa aku?"
"Iya! Aku sampai nengok ke belakang."
"Kayaknya bukan Alya yang dulu deh."
Alya sendiri hanya tersenyum malu sambil berjalan menuju bangkunya.
Perubahan itu memang tidak terjadi dalam semalam.
Sedikit demi sedikit.
Satu langkah kecil setiap hari.
Ia mulai menjawab ketika guru bertanya.
Mulai berdiskusi dengan teman sekelompok.
Mulai berani menyampaikan pendapat.
Semua berawal dari satu keyakinan yang perlahan tumbuh di dalam dirinya.
"Kalau aku salah, aku masih bisa belajar."
Siang itu, pelajaran Matematika berlangsung berbeda.
Bu Rina membawa sebuah soal yang cukup rumit.
"Siapa yang mau menjelaskan cara penyelesaiannya di depan?"
Ruangan langsung sunyi.
Beberapa siswa menunduk.
Beberapa pura-pura membuka buku.
Bu Rina tersenyum.
"Alya?"
Seluruh kelas kembali menoleh.
Dulu, Alya pasti akan panik.
Namun kali ini ia menarik napas panjang, lalu berdiri.
"Baik, Bu."
Langkahnya memang masih pelan.
Tangannya masih sedikit gemetar saat memegang spidol.
Tetapi suaranya jauh lebih jelas daripada beberapa bulan yang lalu.
"Pertama, kita cari pola dari bilangan ini..."
Teman-temannya memperhatikan.
Tak sedikit yang mengangguk.
Ketika Alya selesai menjelaskan, kelas hening beberapa detik.
Lalu...
Tepuk tangan terdengar.
Bahkan datang dari teman-teman yang dulu menganggapnya terlalu pendiam.
Bu Rina tersenyum bangga.
"Luar biasa."
"Bukan hanya jawabannya yang benar."
"Tapi cara menjelaskannya juga mudah dipahami."
Alya menunduk sambil tersenyum.
Kalimat pujian itu tidak lagi membuatnya ingin menghilang.
Sebaliknya...
Ia mulai belajar menerimanya.
Sore harinya, ruang pembinaan olimpiade kembali ramai.
Hari itu Arga datang membawa sebuah kotak kecil.
"Ini apa, Kak?" tanya salah satu peserta.
"Hadiah."
"Hadiah?"
"Siapa pun yang berhasil menyelesaikan soal tercepat hari ini."
Mata semua peserta langsung berbinar.
"Lumayan nih."
"Ternyata latihan sekarang ada hadiahnya."
Perlombaan kecil pun dimulai.
Semua sibuk mencoret-coret kertas.
Lima belas menit berlalu.
Belum ada yang selesai.
Dua puluh menit.
Baru terdengar suara pelan dari ujung ruangan.
"Selesai..."
Alya mengangkat tangannya.
Arga memeriksa jawabannya dengan teliti.
Kemudian tersenyum.
"Benar."
Peserta lain langsung bersorak kecil.
"Wah... lagi-lagi Alya."
Arga menyerahkan kotak kecil itu.
Alya membukanya perlahan.
Di dalamnya hanya ada sebuah pensil mekanik berwarna biru.
"Aku kira hadiahnya apa."
Salah satu peserta tertawa.
Arga ikut tersenyum.
"Pensil ini dulu menemaniku waktu jadi juara."
Ruangan mendadak sunyi.
Semua baru sadar bahwa benda itu bukan sekadar alat tulis.
Melainkan kenangan.
Alya menatap pensil itu lama.
"Aku... nggak enak nerimanya."
"Kenapa?"
"Itu kan berharga."
Arga menggeleng.
"Justru karena berharga."
"Aku ingin orang yang tepat yang memakainya."
Mata Alya mulai berkaca-kaca.
"Terima kasih."
"Nanti saat kamu jadi juara..."
Arga tersenyum.
"...pensil itu akan punya cerita baru."
Beberapa minggu kemudian, sekolah mengadakan acara pameran prestasi.
Setiap ekstrakurikuler diminta menampilkan karya terbaik mereka.
Bu Rina mengusulkan sesuatu.
"Bagaimana kalau tim olimpiade membuat pojok matematika?"
Semua setuju.
Mereka menyiapkan teka-teki logika, permainan angka, dan tantangan berhitung cepat.
Tanpa disangka, stan mereka menjadi salah satu yang paling ramai.
Alya bertugas menjelaskan permainan kepada pengunjung.
Awalnya ia gugup.
Namun melihat anak-anak kelas VII yang antusias, rasa gugup itu perlahan hilang.
"Kak, kalau salah boleh coba lagi?"
"Boleh."
"Serius?"
"Iya."
"Di sini nggak ada yang dimarahin karena salah."
Anak itu tersenyum lebar.
Arga yang berdiri beberapa langkah dari sana memperhatikan Alya.
Ia tersenyum tanpa sadar.
Dulu gadis itu bahkan takut berbicara dengan teman sekelasnya.
Kini...
Ia mampu membuat anak-anak lain merasa percaya diri.
"Aku boleh jujur?"
Suara Arga terdengar saat mereka sedang merapikan stan.
"Boleh."
"Aku bangga sama kamu."
Alya menghentikan tangannya.
"Bangga?"
"Iya."
"Bukan karena kamu pintar."
"Lalu?"
"Karena sekarang kamu berani menunjukkan siapa dirimu."
Alya tersenyum tipis.
"Semua ini..."
"...karena banyak orang baik di sekitarku."
Arga menggeleng pelan.
"Bukan."
"Orang lain cuma membuka pintu."
"Yang melangkah keluar..."
"...tetap kamu."
Sejak hari itu, nama Alya mulai dikenal di sekolah.
Bukan lagi sebagai gadis pendiam.
Melainkan sebagai siswi yang cerdas, ramah, dan rendah hati.
Jika ada teman yang kesulitan mengerjakan soal, mereka mulai mendatangi Alya.
Yang mengejutkan, Alya tidak pernah menolak.
Ia mengajari dengan sabar.
Persis seperti cara Arga mengajarinya dulu.
Melihat itu, Bu Rina pernah berkata pelan kepada Arga,
"Ilmu memang begitu."
"Kalau diberikan dengan tulus, akan tumbuh berkali-kali lipat."
Arga hanya tersenyum.
Namun dalam hatinya ia tahu...
Yang bertumbuh bukan hanya kemampuan Alya.
Melainkan juga perasaannya sendiri.
Suatu sore setelah pembinaan selesai, Arga dan Alya duduk di bangku taman sekolah.
Langit berwarna jingga.
Angin bertiup pelan.
"Alya."
"Hm?"
"Kalau nanti kamu benar-benar jadi juara..."
"Apa yang pertama kali ingin kamu lakukan?"
Alya berpikir cukup lama.
Kemudian menjawab pelan,
"Aku ingin pulang."
Arga tersenyum bingung.
"Hanya itu?"
"Iya."
"Aku ingin memeluk Ibu."
"Aku ingin bilang..."
"'Bu, ternyata anak yang dulu selalu merasa kurang ini... akhirnya bisa membuat Ibu bangga.'"
Suara Alya bergetar.
Arga memandang gadis itu tanpa berkedip.
Tidak ada kata-kata yang terdengar luar biasa.
Tetapi ketulusan dalam setiap ucapannya membuat hati Arga menghangat.
Di dalam hatinya, sebuah keyakinan tumbuh semakin jelas.
Yang ia kagumi dari Alya bukan hanya kecerdasannya.
Bukan hanya semangatnya.
Melainkan cara gadis itu tetap memiliki hati yang lembut, meski hidup berkali-kali mengajarinya tentang luka.
Untuk pertama kalinya, Arga tidak lagi menyangkal perasaannya.
Ia tersenyum sendiri sambil memandang langit senja.
"Sepertinya..."
"Aku benar-benar jatuh cinta."
Sementara itu, Alya masih sibuk memandangi langit yang mulai berubah gelap.
Ia sama sekali tidak menyadari...
Bahwa sejak lama, ada sepasang mata yang selalu memandangnya dengan rasa bangga.
Dan kini...
Tatapan itu perlahan berubah menjadi cinta
#tungguin bab berikutnya ya...☺.
Komentar
Posting Komentar