COUPLE JUARA - Bab 5

 

Mentor Tanpa Diminta

"Cinta yang paling indah sering kali dimulai bukan dari kata 'aku mencintaimu', tetapi dari kalimat sederhana, 'Ayo, kita belajar bersama.'"


Semester baru dimulai.

Suasana sekolah kembali ramai setelah libur panjang. Koridor dipenuhi siswa yang saling bercerita tentang liburan mereka.

Alya berjalan seperti biasa, memeluk buku matematikanya. Namun ada satu hal yang berbeda.

Ia tidak lagi selalu menundukkan kepala.

Sesekali ia tersenyum ketika berpapasan dengan teman sekelas.

Meski kecil, perubahan itu disadari banyak orang.

"Eh, Alya sekarang sering senyum ya."

"Iya, beda banget sama dulu."

"Bahkan tadi dia nyapa aku."

Komentar-komentar itu sampai juga ke telinga Bu Rina.

Beliau hanya tersenyum bangga.

"Akhirnya gadis itu mulai menemukan dirinya."


Pembinaan olimpiade kembali dimulai.

Kali ini pesertanya lebih sedikit. Hanya delapan siswa yang lolos seleksi awal.

Bu Rina masuk sambil membawa setumpuk modul.

"Tahun ini target kita lebih tinggi."

Beliau menatap seluruh peserta satu per satu.

"Kalian bukan hanya belajar mencari jawaban."

"Kalian belajar menjadi pemecah masalah."

Semua mengangguk.

"Dan seperti tahun lalu, Arga akan membantu membimbing kalian."

Beberapa siswa langsung bertepuk tangan.

Arga yang duduk di pojok ruangan hanya tersenyum malu.

"Aduh, Bu... saya juga masih belajar."

"Justru karena itu kamu cocok menjadi mentor."


Hari-hari berikutnya menjadi rutinitas yang menyenangkan.

Setelah jam pelajaran selesai, mereka berkumpul di ruang pembinaan.

Arga sering datang lebih awal untuk menyiapkan soal.

Ia sengaja memilih soal yang menantang, tetapi tetap bisa diselesaikan jika berpikir kreatif.

Suatu sore, ia membagikan selembar kertas kepada setiap peserta.

"Hari ini tidak ada rumus."

Seluruh siswa saling berpandangan.

"Lho?"

"Terus bagaimana?"

Arga tersenyum.

"Coba selesaikan hanya dengan logika."

Beberapa peserta langsung mengeluh.

"Ini susah."

Alya justru terlihat antusias.

Ia memandangi soal itu cukup lama.

Lima belas menit kemudian, ia mengangkat tangan.

"Aku... eh... saya sudah selesai."

Arga mendekat.

Ia membaca jawaban Alya perlahan.

Kemudian tersenyum lebar.

"Kenapa?"

Alya mulai khawatir.

"Salah ya?"

Arga menggeleng.

"Bukan."

"Jawabanmu benar."

"Tapi bukan itu yang membuatku tersenyum."

"Lalu?"

"Kamu tadi bilang 'aku'."

Alya langsung tersipu.

Baru ia sadar.

Selama ini ia selalu berbicara sangat formal kepada Arga.

Hari itu, tanpa sadar, ia mulai merasa nyaman.

"Aku... maaf."

"Jangan minta maaf."

"Aku lebih senang."

Sejak saat itu, jarak di antara mereka terasa sedikit lebih dekat.


Beberapa minggu kemudian, sekolah mengadakan kegiatan belajar bersama pada hari Sabtu.

Perpustakaan menjadi tempat favorit peserta olimpiade.

Di sudut ruangan, Alya sedang sibuk mengerjakan soal geometri.

Ia menggambar lingkaran berkali-kali, lalu menghapusnya lagi.

"Masih mentok?"

Suara Arga membuatnya menoleh.

"Iya."

Arga duduk di sampingnya.

Bukan untuk memberi jawaban.

Melainkan ikut mencoba mengerjakan di kertas lain.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Lima belas menit.

Keduanya sama-sama belum menemukan solusi.

Alya tertawa kecil.

"Kirain cuma aku yang bingung."

Arga ikut tertawa.

"Mentor juga manusia."

"Itu baru adil."

Mereka saling berpandangan, lalu tertawa bersama.

Dari balik rak buku, dua siswi yang sedang mencari novel memperhatikan mereka.

"Itu Arga, kan?"

"Iya."

"Jarang banget lihat dia ketawa begitu."

"Kayaknya cuma sama Alya."

Mereka saling tersenyum penuh arti.

Benih gosip mulai tumbuh.


Sore harinya, hujan turun.

Perpustakaan mulai sepi.

Listrik sempat padam beberapa menit.

Suasana menjadi temaram.

Alya memandangi halaman buku yang belum selesai.

"Aku iri sama kamu."

Arga menoleh.

"Iri?"

"Iya."

"Kamu kelihatannya selalu percaya diri."

Arga tersenyum kecil.

"Itu cuma kelihatannya."

Alya mengernyit.

"Dulu aku juga pernah gagal."

"Bahkan pernah dapat nilai paling rendah saat seleksi olimpiade."

"Serius?"

"Iya."

"Aku pulang sambil nangis."

Alya tertawa tidak percaya.

"Kamu?"

"Iya."

"Aku juga manusia."

Alya kembali tersenyum.

Baru kali ini ia tahu bahwa orang yang selama ini dikaguminya ternyata juga pernah merasa takut dan gagal.

"Terus kenapa sekarang bisa sehebat ini?"

Arga menatap hujan di balik jendela.

"Karena ada guru yang bilang..."

Ia berhenti sejenak.

"'Kegagalan itu bukan lawanmu. Yang menjadi lawanmu adalah berhenti mencoba.'"

Alya terdiam.

Kalimat itu mengingatkannya pada dirinya sendiri.


Hari-hari berlalu begitu cepat.

Kini mereka sering berdiskusi setelah pembinaan selesai.

Kadang tentang matematika.

Kadang tentang buku.

Kadang tentang cita-cita.

"Aku ingin jadi guru."

Kata Alya suatu sore.

Arga tersenyum.

"Kenapa?"

"Karena aku ingin ada anak yang merasakan hal yang sama sepertiku."

"Maksudnya?"

"Punya guru yang percaya kalau dia bisa."

Arga menatap Alya cukup lama.

Entah mengapa, dadanya terasa hangat mendengar jawaban itu.

Bukan karena cita-cita Alya luar biasa.

Melainkan karena gadis itu mulai berani berbicara tentang mimpinya.


Malam harinya, Arga sedang belajar di kamarnya.

Namun pikirannya terus kembali kepada satu sosok.

Gadis berkuncir yang kini semakin sering tertawa.

Gadis yang dulu selalu menunduk, tetapi sekarang mulai berani menatap lawan bicaranya.

Tanpa sadar ia tersenyum sendiri.

Adiknya yang sedang lewat menghentikan langkah.

"Kak."

"Hm?"

"Kakak senyum-senyum sendiri."

"Hah?"

"Lagi mikirin siapa?"

Arga buru-buru menutup buku.

"Nggak ada."

"Bohong."

Adiknya tertawa kecil.

"Sejak kapan Kak Arga rajin lihat HP terus?"

Arga mengambil bantal dan melemparkannya pelan.

"Udah sana!"

Adiknya berlari sambil tertawa.

Namun setelah kamar kembali sunyi, Arga memandang langit-langit kamarnya.

Ia menghela napas pelan.

Untuk pertama kalinya...

Ia mulai bertanya pada dirinya sendiri.

"Kenapa aku selalu ingin melihat Alya tersenyum?"

"Kenapa setiap dia berhasil menyelesaikan soal, aku ikut merasa bangga?"

"Dan kenapa setiap dia pulang dengan wajah sedih... aku ingin menjadi orang pertama yang membuatnya tersenyum lagi?"

Arga menutup matanya perlahan.

Ia belum menemukan jawabannya.

Tetapi satu hal mulai ia sadari.

Perasaan yang tumbuh di hatinya...

Sudah bukan sekadar rasa kagum kepada adik kelas yang berbakat.

Tanpa ia sadari, benih cinta mulai tumbuh.

Pelan.

Tenang.

Dan diam-diam.

# Tungguin lanjutannya ya... 😉

Komentar

populer

COUPLE JUARA - Bab 3

MENGEJAR SENJA YANG SAMA - BAB 1

MUBADOG - Bab 1