COUPLE JUARA - Bab 4

 

Rumah yang Tak Pernah Hangat

"Ada anak-anak yang tumbuh dengan pelukan. Ada pula yang tumbuh dengan air mata. Namun keduanya sama-sama berhak bermimpi."


Malam itu hujan turun lebih deras dari biasanya.

Alya masih duduk di meja belajarnya. Buku pemberian Arga terbuka di samping buku latihan olimpiade. Ia sedang mencoba menyelesaikan soal teori bilangan ketika suara kunci pintu berputar dari luar.

Ibunya pulang.

Jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam.

"Alya, sudah makan?" tanya sang ibu sambil melepas sepatu.

"Sudah, Bu."

Padahal belum.

Alya sudah terbiasa menjawab demikian. Ia tahu ibunya pasti lelah setelah bekerja seharian. Ia tidak ingin menambah beban dengan mengeluh atau meminta dibuatkan makan malam.

Ibunya mengusap kepala Alya sekilas.

"Maaf ya, Ibu pulang lagi-lagi kemalaman."

Alya hanya tersenyum.

"Tidak apa-apa, Bu."

Setelah ibunya masuk kamar, Alya menuju dapur. Di atas meja hanya ada sebungkus mi instan dan dua butir telur.

Ia merebus air, memasak mi, lalu duduk sendirian di meja makan.

Sunyi.

Begitulah hampir setiap malam di rumah itu.


Di sekolah, tak banyak yang tahu bahwa Alya hampir selalu belajar sendiri.

Tak ada ayah yang mengajari.

Tak ada ibu yang bisa menemani karena harus bekerja.

Semua ia lakukan sendiri.

Mengerjakan PR sendiri.

Belajar sendiri.

Menyemangati dirinya sendiri.

Karena itu, ketika ada seseorang yang berkata, "Aku percaya kamu bisa," kalimat itu terasa begitu istimewa.


Keesokan harinya, pembinaan olimpiade berlangsung lebih lama.

Bu Rina memberikan soal yang terkenal sulit.

"Siapa yang bisa menyelesaikan soal ini akan mendapat nilai tambahan."

Semua peserta langsung serius.

Satu jam berlalu.

Belum ada yang berhasil.

Alya menatap soal itu tanpa berkedip.

Ia mencoba berbagai cara.

Gagal.

Mencoba lagi.

Gagal.

Ia menarik napas panjang.

"Aku menyerah..."

Tiba-tiba sebuah suara pelan terdengar dari sampingnya.

"Kalau menyerah sekarang, nanti siapa yang akan jadi juara tahun depan?"

Arga tersenyum.

Alya terkekeh kecil.

"Kamu selalu punya cara membuatku mencoba lagi."

"Bukan aku."

"Lalu siapa?"

"Dirimu sendiri."

Arga menunjuk buku catatan Alya yang penuh coretan.

"Orang yang benar-benar menyerah tidak akan mencoret kertas sebanyak itu."

Alya ikut melihat catatannya.

Benar juga.

Hampir seluruh halaman dipenuhi percobaan-percobaan yang gagal.

Tanpa sadar ia tersenyum.

Beberapa menit kemudian...

"Aku dapat!"

Serunya spontan.

Seluruh ruangan menoleh.

Bu Rina menghampiri.

Setelah memeriksa langkah penyelesaiannya, beliau tersenyum bangga.

"Luar biasa."

"Kamu menemukan cara yang bahkan tidak Ibu pikirkan."

Arga ikut tersenyum.

Dalam hati ia berkata,

"Aku tahu kamu pasti bisa."


Sore itu, saat hendak pulang, langit kembali mendung.

Arga dan Alya berjalan menuju gerbang sekolah.

Tiba-tiba langkah Alya terhenti.

Di seberang jalan berdiri seorang pria paruh baya.

Wajahnya tampak lelah.

Matanya sembab.

Pria itu menatap Alya beberapa detik.

Alya langsung pucat.

"Ayah..."

Suara itu hampir tak terdengar.

Arga menoleh bingung.

"Ayahmu?"

Alya mengangguk pelan.

Pria itu melangkah mendekat.

"Hai, Alya."

Alya menggenggam erat tali tasnya.

"Sehat?"

"Iya."

Ayahnya tersenyum canggung.

"Ayah cuma mau lihat kamu."

Tak ada pelukan.

Tak ada sapaan hangat.

Hanya keheningan yang terasa begitu berat.

"Ayah... sudah pergi dulu."

Pria itu membalikkan badan.

Beberapa langkah kemudian ia berhenti.

"Belajarlah yang rajin."

"Ayah selalu bangga sama kamu."

Lalu ia pergi.

Begitu sosok itu menghilang, Alya masih berdiri mematung.

Air matanya perlahan jatuh.

Arga tidak berkata apa-apa.

Ia hanya berdiri di samping Alya.

Memberinya ruang.

Beberapa menit kemudian, Alya mengusap matanya sendiri.

"Maaf."

"Kenapa minta maaf?"

"Aku jadi merepotkan."

Arga menggeleng.

"Kamu tidak sedang merepotkan siapa pun."


Mereka duduk di bangku taman sekolah.

Hujan mulai turun rintik-rintik.

Untuk pertama kalinya...

Alya bercerita.

"Ayah dan Ibu bercerai waktu aku kelas enam SD."

"Aku sering berpikir... mungkin itu salahku."

Arga langsung menggeleng.

"Jangan pernah berpikir begitu."

"Tapi kalau aku anak yang lebih baik..."

"Alya."

Suara Arga terdengar tegas.

"Perceraian orang tua bukan kesalahan anak."

Alya menunduk.

"Aku takut."

"Takut apa?"

"Kalau suatu hari orang tahu tentang keluargaku..."

"Mereka akan menjauh."

Arga tersenyum tipis.

"Aku sudah tahu sekarang."

Alya perlahan mengangkat wajah.

"Terus?"

"Aku tetap melihat Alya yang sama."

"Gadis yang suka matematika."

"Gadis yang tidak pernah menyerah."

"Gadis yang diam-diam lebih kuat daripada banyak orang."

Air mata Alya kembali jatuh.

Namun kali ini...

Bukan karena sedih.

Melainkan karena akhirnya ada seseorang yang melihat dirinya...

Bukan dari luka keluarganya.

Melainkan dari siapa dirinya sebenarnya.


Sebelum mereka berpisah, Arga berkata pelan,

"Aku punya permintaan."

"Apa?"

"Mulai hari ini..."

"Kalau kamu merasa sedih..."

"Jangan dipendam sendirian."

Alya tersenyum samar.

"Aku akan mencoba."

"Itu sudah lebih dari cukup."


Malam itu, Alya membuka buku harian yang sudah berbulan-bulan kosong.

Ia menulis satu kalimat.

"Hari ini aku belajar bahwa aku bukan anak dari keluarga yang gagal."

"Aku hanya seorang gadis yang sedang belajar percaya bahwa masa laluku tidak menentukan masa depanku."

Ia menutup buku itu perlahan.

Di luar, hujan masih turun.

Namun entah mengapa, untuk pertama kalinya sejak perceraian kedua orang tuanya...

Rumah yang biasanya terasa dingin...

Malam itu terasa sedikit lebih hangat.

Bukan karena keadaan berubah.

Melainkan karena di luar sana, ada seseorang yang telah membuatnya percaya bahwa ia pantas memiliki masa depan yang indah.

Komentar

populer

COUPLE JUARA - Bab 3

MENGEJAR SENJA YANG SAMA - BAB 1

MUBADOG - Bab 1