COUPLE JUARA - Bab 2
Bab 2 – Sebuah Kalimat yang Mengubah Segalanya
"Ada orang yang datang bukan untuk mengubah hidupmu secara instan. Mereka hanya mengucapkan satu kalimat yang membuatmu mulai percaya pada dirimu sendiri."
Sejak hari perlombaan itu, nama Arga terus terlintas di pikiran Alya.
Bukan karena ia menyukai kakak kelas itu.
Melainkan karena satu kalimat sederhana yang diucapkannya.
"Kamu pasti bisa jadi juara."
Kalimat itu terdengar biasa.
Namun bagi Alya, itu adalah pertama kalinya ada seseorang yang begitu yakin pada dirinya tanpa mengenal latar belakang keluarganya.
Hari Senin kembali seperti biasa.
Bel masuk berbunyi.
Alya duduk di bangku paling dekat jendela. Seperti biasa, ia datang lebih pagi agar tidak perlu berpapasan dengan banyak orang.
Matematika adalah pelajaran pertama.
Bu Rina memasuki kelas sambil membawa beberapa lembar hasil evaluasi lomba.
"Anak-anak, meskipun sekolah kita belum membawa pulang juara, Ibu bangga dengan usaha kalian."
Beliau berhenti sejenak.
"Lomba bukan hanya tentang menang. Yang lebih penting adalah keberanian mencoba."
Pandangan Bu Rina berhenti pada Alya.
"Khusus kamu, Alya."
Jantung Alya berdegup.
"Ibu melihat caramu mengerjakan soal. Beberapa penyelesaianmu bahkan lebih rapi daripada peserta yang akhirnya menjadi juara."
Seketika seluruh kelas menoleh.
Alya menunduk.
Pujian justru membuatnya tidak nyaman.
"Sayangnya kamu terlalu lama di soal terakhir."
Alya mengangguk pelan.
"Iya, Bu."
"Mulai minggu depan, Ibu ingin kamu ikut kelas pembinaan olimpiade."
Ruangan langsung ramai.
"Wah... pembinaan khusus."
"Pasti capek."
"Yang ikut cuma anak pintar."
Alya menggenggam ujung seragamnya.
Dalam hati ia ingin menolak.
Namun ia teringat senyum Arga.
"Kamu pasti bisa jadi juara."
Untuk pertama kalinya ia memberanikan diri menjawab,
"Baik, Bu."
Sore itu hujan turun deras.
Alya berdiri di depan gerbang sekolah sambil memeluk tas.
Ia tidak membawa payung.
Ibunya belum pulang kerja.
Ia memutuskan menunggu hujan reda.
Tiba-tiba sebuah payung biru berhenti di sampingnya.
"Kalau kehujanan nanti sakit."
Alya menoleh.
Arga.
Masih dengan senyum yang sama.
"Kak..."
"Boleh nebeng payung?"
Alya mengangguk pelan.
Mereka berjalan berdampingan menuju halte.
Selama beberapa menit tidak ada yang berbicara.
Hanya suara hujan yang menemani.
"Aku dengar Bu Rina memilih kamu ikut pembinaan."
Alya tersenyum tipis.
"Iya."
"Senang?"
Alya terdiam.
"Aku... takut."
"Takut apa?"
"Takut mengecewakan."
Arga menggeleng pelan.
"Kamu tahu bedanya orang pintar dan orang hebat?"
Alya mengangkat wajah.
"Orang pintar bisa menjawab soal."
"Orang hebat tetap mencoba meski takut salah."
Alya memandang jalan yang mulai dipenuhi genangan air.
"Aku tidak sehebat itu."
Arga tersenyum.
"Itu karena kamu melihat dirimu dari kaca yang salah."
Alya menatapnya bingung.
"Kalau kamu terus melihat dirimu dari omongan orang, kamu akan selalu merasa kurang."
"Lalu harus bagaimana?"
"Lihat dirimu dari usahamu."
Kalimat itu kembali menancap dalam hati Alya.
Setelah mengantar Alya sampai halte, Arga berpamitan.
"Besok latihan ya."
"Iya, Kak."
"Oh iya."
Arga berbalik.
"Mulai sekarang jangan panggil aku 'Kak Arga' saat latihan."
"Lho?"
"Kita sama-sama pejuang matematika."
"Panggil saja Arga."
Alya tertawa kecil.
Itu adalah tawa pertamanya di depan Arga.
Dan entah mengapa...
Arga merasa hujan sore itu menjadi lebih indah.
Di rumah, suasana kembali sunyi.
Ibunya belum pulang.
Alya meletakkan tas di ruang tamu.
Saat hendak masuk kamar, suara pertengkaran dari rumah sebelah terdengar jelas.
Ia spontan menutup kedua telinganya.
Suara itu mengingatkannya pada masa kecil.
Malam-malam ketika ayah dan ibunya saling berteriak.
Piring pecah.
Tangisan.
Pintu dibanting.
Lalu...
keheningan.
Alya memejamkan mata.
"Aku tidak ingin mengingatnya."
Ia membuka buku matematika.
Namun angka-angka malam itu terasa kabur.
Tanpa sadar air matanya menetes di atas halaman.
Ia buru-buru menghapusnya.
"Tidak boleh menangis."
"Tidak boleh lemah."
Tiba-tiba ponselnya berbunyi.
Nomor tidak dikenal.
"Semangat belajar."
"Tahun depan kita sama-sama berdiri di podium."
– Arga.
Alya tertegun.
Ia tidak tahu dari mana Arga mendapatkan nomor teleponnya. Mungkin dari Bu Rina yang menjadi pembina olimpiade.
Jarinya ragu-ragu membalas.
Beberapa menit kemudian ia mengetik singkat.
"Terima kasih."
Tak sampai semenit, balasan datang.
"Jangan cuma terima kasih."
"Buktikan."
Alya tersenyum.
Untuk pertama kalinya sejak kedua orang tuanya berpisah...
Ia merasa ada seseorang yang percaya bahwa dirinya mampu menjadi lebih baik.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya pula, ia belajar bukan karena ingin lari dari kenyataan.
Melainkan karena mulai memiliki sebuah harapan.
Harapan yang sederhana.
Suatu hari nanti...
Ia ingin membuktikan bahwa Arga tidak salah memilih untuk percaya padanya.
#hari ini sampai sini dulu ya....... nantikan di bab berikutnya 😊😉
Komentar
Posting Komentar