COUPLE JUARA - Bab 18 ( penutup )
"Pada akhirnya, kemenangan terbesar bukanlah menjadi juara olimpiade. Melainkan menemukan seseorang yang tetap memilihmu setelah mengetahui seluruh cerita hidupmu."
Tiga bulan telah berlalu sejak seminar nasional itu.
Hubungan Arga dan Alya berjalan begitu tenang.
Tidak lagi dipenuhi keraguan.
Tidak lagi dikejar rasa takut.
Mereka tidak berusaha mengejar waktu yang telah hilang selama enam belas tahun.
Sebaliknya...
Mereka menikmati setiap percakapan, setiap pertemuan, dan setiap kesempatan untuk saling mengenal kembali.
Mereka berbicara tentang banyak hal.
Tentang murid-murid mereka.
Tentang cara mengajar.
Tentang orang tua.
Tentang masa kecil.
Tentang impian yang belum sempat diwujudkan.
Dan sesekali...
Tentang masa SMA yang kini terasa begitu jauh.
Suatu hari, Arga menghubungi Bu Rina.
"Bu..."
"Ada waktu?"
"Tentu."
"Saya ingin meminta bantuan."
Bu Rina tertawa kecil.
"Jangan bilang..."
"...akhirnya kamu mau melamar Alya?"
Arga terdiam beberapa detik.
"Lho, kok Ibu tahu?"
"Karena Ibu gurumu."
"Dulu waktu kamu jatuh cinta saja Ibu sudah tahu."
"Apalagi sekarang."
Mereka tertawa bersama.
Seminggu kemudian, Bu Rina menghubungi Alya.
"Alya."
"Iya, Bu?"
"Ibu butuh bantuanmu."
"Bisa datang ke sekolah hari Sabtu?"
"Tentu."
"Ada pelatihan guru baru."
"Boleh sekalian berbagi pengalaman."
"Baik, Bu."
Alya sama sekali tidak curiga.
Sabtu pagi.
Sekolah itu masih sama.
Gerbang hijau.
Pohon ketapang yang kini jauh lebih besar.
Lapangan tempat upacara.
Dan ruang pembinaan matematika di lantai tiga.
Tempat yang menyimpan begitu banyak kenangan.
Saat membuka pintu ruangan...
Alya tertegun.
Ruangan itu dihias sederhana dengan bunga-bunga putih dan biru.
Di papan tulis tertulis dengan spidol hitam:
"Selamat Datang Kembali, Couple Juara Matematika."
Di sudut ruangan berdiri Bu Rina.
Ibunya.
Beberapa guru lama.
Serta murid-murid yang pernah mereka bimbing.
Semua tersenyum.
Lalu...
Dari balik meja guru...
Arga melangkah keluar.
Mengenakan kemeja putih sederhana.
Di tangannya terdapat sebuah kotak kecil berwarna biru tua.
Alya menutup mulutnya.
Air matanya langsung jatuh.
"Selamat pagi, Bu Guru."
Sapa Arga sambil tersenyum.
Alya hanya mampu mengangguk.
"Ternyata..."
"...aku masih gugup kalau berdiri di depanmu."
Ucapan itu membuat semua orang tertawa kecil.
Arga menarik napas panjang.
Lalu memandang Alya dengan penuh ketulusan.
"Alya."
"Dulu..."
"...aku mengenalmu sebagai gadis yang takut berbicara."
"Lalu aku melihatmu menjadi juara."
"Setelah itu..."
"...aku melihatmu menjadi guru yang luar biasa."
"Tapi ada satu hal yang paling membuatku bangga."
"Apa?"
Tanya Alya dengan suara bergetar.
"Kamu berhasil memenangkan pertarungan melawan dirimu sendiri."
Ruangan mendadak hening.
Semua mata mulai berkaca-kaca.
Arga melanjutkan.
"Dulu kamu pernah berkata..."
"...bahwa keluargamu mungkin membuatmu tidak pantas dicintai."
"Hari ini..."
"...aku ingin membuktikan bahwa keyakinan itu salah."
Ia mengeluarkan sebuah benda dari saku jasnya.
Bukan cincin.
Melainkan...
Sebuah pensil mekanik berwarna biru.
Pensil yang sama seperti hadiah pertama yang pernah ia berikan kepada Alya saat masih SMA.
"Aku sengaja menyimpannya."
"Kamu ingat?"
Alya mengangguk sambil menangis.
"Ingat."
"Dulu pensil ini kuberikan supaya kamu percaya..."
"...bahwa kamu bisa menjadi juara."
Arga tersenyum hangat.
"Hari ini..."
"...aku membawanya kembali."
"Bukan untuk mengingatkanmu tentang matematika."
"Tapi untuk mengingatkan bahwa sejak hari pertama..."
"...aku selalu percaya padamu."
Perlahan...
Arga berlutut di hadapan Alya.
Ia membuka kotak kecil berwarna biru itu.
Di dalamnya kini terdapat sebuah cincin sederhana.
Tidak mewah.
Namun elegan.
Seperti kisah mereka.
"Alya Rahma Putri."
"Terima kasih..."
"...karena sudah mengajariku bahwa cinta bukan tentang menyelamatkan seseorang."
"Tetapi menemani seseorang bertumbuh."
"Maukah kamu..."
"...berjalan bersamaku."
"Bukan hanya sampai garis akhir."
"Tetapi sepanjang hidup kita."
Ruangan menjadi sangat sunyi.
Yang terdengar hanya isak tangis haru.
Alya menatap Arga.
Kemudian melihat ibunya.
Ibunya mengangguk pelan sambil tersenyum.
"Pergilah."
"Jangan takut lagi."
Kalimat itu menjadi jawaban atas seluruh perjalanan hidup Alya.
Ia kembali menatap Arga.
Enam belas tahun lalu...
Ia memilih mundur.
Hari ini...
Ia memilih maju.
Dengan tangan yang sedikit gemetar...
Alya mengulurkan tangan kirinya.
"Iya."
Satu kata.
Namun kali ini tidak hanya menghapus penantian.
Ia juga menyembuhkan luka yang telah hidup begitu lama.
Arga menyematkan cincin itu perlahan.
Semua orang bertepuk tangan.
Bu Rina mengusap air matanya.
Sementara ibu Alya memeluk putrinya dengan penuh haru.
"Ayahmu pasti bangga melihatmu hari ini."
Bisiknya.
Alya tersenyum.
Untuk pertama kalinya...
Ia mendengar kalimat itu tanpa rasa sakit.
Beberapa bulan kemudian...
Mereka menikah dengan sederhana.
Tidak ada pesta yang berlebihan.
Hanya keluarga.
Sahabat.
Guru.
Dan murid-murid yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan mereka.
Di meja tamu, terpajang sebuah foto lama.
Foto dua remaja yang memegang piala olimpiade matematika.
Di bawahnya tertulis sebuah kalimat.
"Juara pertama membawa kami bertemu.
Keberanian menerima diri sendiri membawa kami pulang."
Lima tahun kemudian...
Di sekolah yang sama...
Seorang siswi kelas delapan menangis karena gagal dalam seleksi olimpiade matematika.
Ia duduk sendirian di depan ruang pembinaan.
Tak lama kemudian, seorang guru perempuan menghampirinya.
"Boleh duduk di sini?"
Siswi itu mengangguk.
"Aku gagal, Bu."
Guru itu tersenyum.
"Dulu..."
"...Ibu juga pernah gagal."
Siswi itu menatap tidak percaya.
"Ibu?"
"Iya."
"Lalu bagaimana Ibu bisa jadi guru hebat?"
Guru itu tertawa kecil.
"Dulu ada seseorang yang berkata..."
"...percaya pada dirimu dulu."
"...baru kemenangan akan datang."
Siswi itu mengangguk pelan.
"Kalimatnya bagus."
"Iya."
"Siapa yang bilang begitu?"
Guru itu menoleh ke arah pintu kelas.
Di sana...
Seorang guru laki-laki sedang menghapus papan tulis sambil tersenyum kepada mereka.
"Itu."
Suaminya.
Arga.
Mereka saling berpandangan.
Masih dengan senyum yang sama seperti bertahun-tahun lalu.
Tanpa perlu banyak kata.
Karena mereka tahu...
Semua perjuangan.
Semua air mata.
Semua penantian.
Telah mengantarkan mereka ke tempat yang seharusnya.
Rumah.
Bukan rumah yang terbuat dari dinding dan atap.
Melainkan rumah yang dibangun oleh kepercayaan, penerimaan, dan cinta.
Tamat
Catatan Penulis
Setiap orang memiliki masa lalu.
Ada yang dibesarkan dalam keluarga yang utuh.
Ada pula yang tumbuh di tengah luka dan perpisahan.
Namun masa lalu tidak pernah menentukan nilai seseorang.
Seperti Alya, kita mungkin membutuhkan waktu yang berbeda-beda untuk menerima diri sendiri.
Dan seperti Arga, semoga kita belajar bahwa mencintai bukan berarti memaksa seseorang untuk segera siap.
Cinta yang dewasa adalah cinta yang memberi ruang untuk bertumbuh.
Karena pada akhirnya...
Orang yang tepat tidak datang untuk memperbaiki luka kita.
Ia datang untuk berjalan bersama, setelah kita berani menyembuhkan luka itu sendiri.
Dan ketika dua orang yang telah berdamai dengan dirinya bertemu, cinta bukan lagi tentang saling melengkapi kekurangan, melainkan saling menguatkan kelebihan.
— Selesai —
Komentar
Posting Komentar