COUPLE JUARA - Bab 17

 

 Kesempatan Kedua

"Cinta yang dewasa tidak terburu-buru memiliki. Ia memberi waktu untuk bertumbuh, lalu kembali ketika keduanya telah siap berjalan berdampingan."


Seminar hari itu akhirnya selesai.

Para peserta mulai berpamitan satu sama lain.

Sebagian berfoto bersama pemateri, sebagian lagi bertukar kartu nama.

Namun Arga dan Alya memilih berjalan keluar melalui taman belakang hotel.

Tempat itu jauh lebih tenang.

Angin sore berembus pelan.

Langit mulai berubah jingga.

Entah mengapa...

Pemandangan itu mengingatkan mereka pada bangku taman sekolah enam belas tahun yang lalu.

"Masih suka senja?"

tanya Arga sambil menatap langit.

Alya tersenyum.

"Masih."

"Soalnya?"

"Karena dulu ada seseorang yang sering mengajakku melihat langit setelah selesai belajar."

Arga tertawa kecil.

"Aku kira kamu sudah lupa."

"Ada beberapa kenangan yang tidak bisa dilupakan."


Mereka berhenti di sebuah bangku kayu.

Tak ada lagi rasa canggung.

Tak ada lagi keinginan untuk saling menyembunyikan sesuatu.

Alya memandang kedua tangannya cukup lama.

Lalu menarik napas dalam.

"Arga..."

"Iya?"

"Aku membawa sesuatu."

Ia mengeluarkan sebuah buku kecil berwarna cokelat dari dalam tas.

Buku harian.

Sudut-sudutnya mulai usang.

"Aku menulis ini sejak kita SMA."

Arga menerima buku itu dengan hati-hati.

"Boleh kubaca?"

Alya mengangguk.

"Halaman terakhir saja."

Arga membuka perlahan.

Tulisan tangan Alya masih sama seperti dulu.

Rapi.

Pelan.

Namun penuh perasaan.

22 Agustus

Hari ini Arga menyatakan perasaannya.

Aku ingin sekali mengatakan bahwa aku juga mencintainya.

Tetapi aku terlalu takut.

Aku memilih melukainya daripada melihat keluarganya kecewa karena memilih perempuan sepertiku.

Kalau suatu hari nanti aku berhasil menerima diriku sendiri...

Aku ingin menjadi orang pertama yang meminta maaf kepadanya.

Arga menutup buku itu perlahan.

Matanya mulai berkaca-kaca.

"Alya..."

"Aku sudah berhasil."

"Apa?"

"Menerima diriku sendiri."


Alya menatap Arga.

Tatapannya kini jauh lebih mantap dibandingkan enam belas tahun lalu.

"Tahu nggak..."

"Butuh waktu bertahun-tahun sampai aku bisa bercermin tanpa merasa malu."

"Butuh waktu lama sampai aku berhenti menyalahkan diriku sendiri."

"Butuh waktu lebih lama lagi..."

"...untuk percaya bahwa aku layak dicintai."

Air matanya jatuh.

Namun kali ini bukan air mata kesedihan.

Melainkan kelegaan.

"Hari ini..."

"...aku sudah sampai di titik itu."


Arga menggenggam buku kecil itu.

"Tidak ada satu hari pun..."

"...aku pernah menyalahkanmu."

"Aku tahu."

Jawab Alya sambil tersenyum.

"Dulu justru itu yang membuatku semakin merasa bersalah."

Keduanya tertawa pelan.

Tawa yang lahir dari luka yang akhirnya sembuh.


Beberapa saat mereka kembali diam.

Kali ini Alya yang memecah keheningan.

"Arga."

"Iya."

"Enam belas tahun lalu..."

"...aku meminta waktu."

"Aku ingat."

"Lalu aku menghabiskan enam belas tahun untuk menjawab pertanyaan itu."

Jantung Arga mulai berdegup lebih cepat.

Alya berdiri.

Menghadap Arga.

Lalu tersenyum.

Senyum yang dulu selalu disembunyikannya.

Senyum penuh keyakinan.

"Kalau..."

"...hari ini..."

"...kamu masih menginginkanku..."

Alya menarik napas panjang.

"...aku tidak ingin lari lagi."

Keheningan memenuhi taman.

Bahkan suara angin seolah ikut berhenti.

Arga memandang perempuan di hadapannya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

Selama bertahun-tahun...

Ia membayangkan seperti apa rasanya mendengar kalimat itu.

Namun ketika benar-benar terjadi...

Semuanya terasa jauh lebih indah daripada yang pernah ia bayangkan.


Arga berdiri perlahan.

"Alya."

"Iya."

"Aku pernah bilang..."

"...aku akan kembali."

Alya mengangguk.

"Kali ini..."

"...aku datang bukan sebagai mentor."

"Bukan sebagai kakak kelas."

"Bukan sebagai pasangan juara matematika."

Arga mengambil satu langkah mendekat.

"Aku datang sebagai laki-laki..."

"...yang masih mencintaimu."

Air mata Alya kembali jatuh.

Namun kali ini ia tidak menundukkan kepala.

Ia menatap Arga dengan penuh keberanian.


"Aku tidak ingin mengulang masa lalu."

Lanjut Arga.

"Aku juga tidak ingin berpura-pura seolah enam belas tahun itu tidak pernah ada."

"Karena justru waktu itulah..."

"...yang membentuk kita menjadi seperti sekarang."

Ia tersenyum hangat.

"Jadi..."

"...bolehkah kita memulai dari awal?"

"Bukan sebagai dua remaja."

"Tetapi sebagai dua orang dewasa..."

"...yang sudah sama-sama belajar tentang kehilangan, memaafkan, dan bertumbuh."

Tanpa ragu sedikit pun...

Alya mengangguk.

"Iya."

Satu kata.

Tetapi cukup untuk menghapus penantian selama enam belas tahun.


Mereka tidak saling berpelukan.

Tidak ada adegan dramatis.

Tidak ada janji-janji berlebihan.

Hanya dua orang yang berjalan berdampingan meninggalkan taman.

Langkah mereka pelan.

Sesekali saling tersenyum.

Sesekali saling bercerita tentang kehidupan yang telah mereka jalani.

Dan untuk pertama kalinya...

Alya tidak lagi berjalan beberapa langkah di belakang Arga.

Ia berjalan sejajar.

Karena kini ia tahu...

Hubungan yang sehat bukan tentang siapa yang lebih hebat.

Melainkan tentang dua orang yang saling menguatkan.


Sebelum berpisah sore itu, Arga berhenti di depan mobilnya.

"Ada satu pertanyaan terakhir."

"Apa?"

Arga tersenyum jahil.

"Masih ingat siapa yang juara satu olimpiade matematika kelas sembilan?"

Alya tertawa.

"Masih."

"Siapa?"

"Kak Arga."

"Kalau juara satu kelas delapan?"

"Aku."

"Kalau Couple Juara Matematika?"

Alya tersenyum lebar.

"Itu..."

"...kita."

Arga mengulurkan tangannya.

"Boleh kita mulai lagi?"

Alya menyambut uluran tangan itu tanpa ragu.

"Boleh."

Kedua tangan itu akhirnya bertaut.

Bukan lagi karena takut kehilangan.

Tetapi karena keduanya telah menemukan rumah yang sama.

Rumah bernama...

Penerimaan.

Dan di langit sore yang berwarna jingga...

Seolah waktu ikut tersenyum.

Karena akhirnya...

Dua anak muda yang dulu dipisahkan oleh rasa takut...

Dipertemukan kembali oleh keberanian.

Bukan keberanian untuk mencintai.

Melainkan keberanian untuk menerima diri sendiri.

Komentar

populer

COUPLE JUARA - Bab 3

MENGEJAR SENJA YANG SAMA - BAB 1

MUBADOG - Bab 1