COUPLE JUARA - Bab 16

 

 Pertemuan Kedua

"Takdir terkadang mempertemukan kembali dua orang, bukan untuk mengulang masa lalu, melainkan untuk melihat apakah mereka telah menjadi versi terbaik dari diri mereka masing-masing."


Beberapa detik berlalu.

Namun bagi Arga dan Alya...

Rasanya seperti enam belas tahun sedang diputar ulang dalam diam.

Alya tersenyum lebih dulu.

"Halo... Arga."

Suara itu masih sama.

Lembut.

Tenang.

Hanya kini terdengar lebih yakin.

Arga membalas senyum itu.

"Halo, Alya."

Kalimat sederhana.

Tetapi cukup untuk membuat keduanya menyadari bahwa waktu memang telah mengubah banyak hal.

Namun tidak menghapus rasa hormat yang pernah mereka miliki.


"Sudah lama sekali."

Kata Arga.

"Enam belas tahun."

Jawab Alya sambil tertawa kecil.

"Ternyata kamu masih ingat."

"Aku menghitungnya."

Mereka sama-sama tersenyum.

Tak ada lagi kecanggungan seperti yang mereka bayangkan selama bertahun-tahun.

Yang tersisa hanyalah dua orang dewasa yang pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup masing-masing.


"Bagaimana kabarmu?"

Tanya Arga.

"Baik."

"Kamu?"

"Juga baik."

"Lihat kamu sekarang..."

Alya memandang kartu nama yang tergantung di leher Arga.

"Dosen."

"Selamat."

Arga tersenyum.

"Dan kamu..."

"...Guru Berprestasi Nasional."

"Aku baca namamu di buku seminar."

Alya tertawa pelan.

"Masih suka memperhatikan ya."

"Kebiasaan lama."

Jawaban itu membuat keduanya tersenyum.


Mereka memutuskan duduk di bangku taman hotel.

Di sekitar mereka, peserta seminar berlalu-lalang.

Namun bagi keduanya...

Dunia seolah memberi ruang kecil untuk berbicara.

"Aku masih ingat..."

Kata Alya.

"...dulu kamu bilang aku akan jadi guru yang hebat."

Arga mengangguk.

"Dan ternyata benar."

"Bukan karena aku."

"Tapi karena kamu memang bekerja keras."

Alya menggeleng.

"Kalau waktu itu tidak ada kamu..."

"...mungkin aku masih menjadi gadis yang takut mengangkat kepala."

Arga menatapnya lama.

"Lihat kamu sekarang."

"Kamu bahkan berani berbicara di depan guru-guru dari seluruh Indonesia."

Alya tertawa.

"Iya ya."

"Dulu presentasi di depan kelas saja hampir menangis."


Beberapa saat mereka hanya menikmati angin yang bertiup pelan.

Lalu Alya berkata,

"Arga."

"Iya?"

"Aku ingin meminta maaf."

Arga memandangnya.

"Untuk apa?"

"Untuk enam belas tahun yang lalu."

"Aku menyakitimu."

Arga menggeleng pelan.

"Kamu tidak perlu meminta maaf."

"Aku perlu."

Suara Alya mulai bergetar.

"Waktu itu..."

"...aku pikir aku sedang melindungimu."

"Padahal sebenarnya..."

"...aku sedang dikendalikan oleh rasa takutku sendiri."

Ia menunduk.

"Aku baru memahami itu setelah bertahun-tahun."


Arga tidak langsung menjawab.

Ia menunggu Alya melanjutkan.

"Aku menjalani terapi."

Kata Alya pelan.

Arga sedikit terkejut.

"Tiga tahun."

"Karena aku terus merasa bersalah."

"Aku selalu berpikir..."

"...aku tidak layak dicintai."

Air mata mulai memenuhi pelupuk matanya.

"Terapisku tidak mengajarkanku melupakan masa lalu."

"Tapi..."

"...mengajarkanku menerima bahwa masa lalu bukan identitasku."

Arga merasakan tenggorokannya tercekat.

Ia bangga.

Sangat bangga.

Perempuan yang dulu selalu memendam semuanya sendirian...

Kini berani menceritakan proses penyembuhannya.


"Aku juga akhirnya memaafkan Ayah."

Lanjut Alya.

"Meskipun kami tidak pernah kembali menjadi keluarga yang utuh."

"Aku belajar..."

"...bahwa memaafkan bukan berarti membenarkan."

"Tetapi membebaskan diriku sendiri."

Arga mengangguk pelan.

"Itu pasti tidak mudah."

"Tidak."

"Butuh waktu bertahun-tahun."

"Tapi sekarang..."

Alya menarik napas panjang.

"...aku sudah tidak lagi malu mengatakan bahwa aku berasal dari keluarga broken home."

Kalimat itu terdengar sederhana.

Namun bagi Arga...

Itu adalah kemenangan terbesar Alya.

Jauh lebih besar daripada semua piala matematika yang pernah mereka raih.


Kini giliran Alya bertanya.

"Kalau kamu?"

"Apa kabar hidupmu selama ini?"

Arga tersenyum.

"Cukup baik."

"Kuliah selesai."

"Lanjut S2."

"Jadi dosen."

"Meneliti."

"Mengajar."

"Lalu?"

"Lalu..."

Arga tertawa kecil.

"Ya begitu."

Alya mengernyit.

"Menikah?"

Pertanyaan itu keluar begitu saja.

Entah mengapa, setelah mengucapkannya Alya justru merasa gugup.

Arga terdiam beberapa detik.

Kemudian menggeleng pelan.

"Belum."

Alya memandangnya.

"Belum?"

"Iya."

"Kenapa?"

Arga tersenyum tipis.

"Banyak yang bertanya seperti itu."

"Jawabanmu?"

"Aku belum bertemu orang yang membuatku yakin."

Keheningan kembali hadir.

Alya tidak berani bertanya lebih jauh.

Namun dalam hatinya muncul sebuah harapan kecil yang selama ini ia paksa padam.


"Kalau kamu?"

Tanya Arga balik.

Alya tersenyum sambil menggeleng.

"Aku juga belum."

"Kenapa?"

Kini Alya tertawa.

"Ternyata pertanyaannya sama."

"Jawabanmu?"

"Aku..."

Ia memandang langit.

"Dulu aku menolak banyak orang."

"Karena masih takut."

"Lalu..."

"Setelah aku sembuh..."

"...aku sadar."

"Sadar apa?"

"Hatiku ternyata belum benar-benar pindah."

Kalimat itu diucapkan sangat pelan.

Hampir seperti bisikan.

Namun cukup jelas untuk didengar Arga.

Jantungnya berdegup lebih cepat.


Mereka saling berpandangan.

Tatapan itu tidak lagi seperti dua remaja SMA.

Tatapan itu milik dua orang dewasa yang telah sama-sama kehilangan banyak waktu.

Tetapi tidak kehilangan ketulusan.

Arga tersenyum.

"Ternyata..."

"...kita sama-sama keras kepala."

Alya tertawa.

"Iya."

"Mungkin."

"Mungkin?"

"Baiklah."

"Iya."

"Keras kepala."

Mereka tertawa bersama.

Sudah lama sekali mereka tidak tertawa sebebas itu.


Bel seminar kembali berbunyi.

Peserta diminta masuk ke aula.

Arga berdiri lebih dulu.

"Ayo."

"Kita terlambat."

Saat mereka berjalan berdampingan menuju aula, seorang guru dari Jawa Barat menghampiri.

"Maaf."

"Bapak Arga?"

"Iya."

"Lalu ini Bu Alya?"

"Iya."

Guru itu tersenyum lebar.

"Wah."

"Akhirnya bertemu juga."

Arga dan Alya saling berpandangan.

"Maksud Bapak?"

Tanya Alya.

"Saya sering membaca tulisan Bapak Arga."

"Beliau sering sekali bercerita tentang seorang murid yang mengubah cara pandangnya menjadi pendidik."

"Namanya juga Alya."

"Kirain cuma kebetulan."

"Ternyata benar orangnya."

Alya menoleh perlahan ke arah Arga.

Arga hanya tersenyum malu.

Guru itu melanjutkan,

"Kalau tidak salah..."

"...kisahnya pernah ditulis di salah satu buku beliau."

"Sangat menginspirasi."

Setelah guru itu pergi, Alya masih memandang Arga.

"Kamu..."

"...menulis tentang aku?"

Arga menggaruk tengkuknya.

"Sedikit."

"Sedikit?"

"Ya..."

"...tanpa menyebut nama lengkap."

"Aku hanya menulis tentang seorang murid yang mengajarkanku bahwa seorang guru tidak hanya mengubah muridnya."

"Tetapi..."

"...murid juga bisa mengubah gurunya."

Mata Alya mulai berkaca-kaca.

Selama enam belas tahun...

Ternyata ia tidak pernah benar-benar hilang dari perjalanan hidup Arga.

Dan mungkin...

Arga juga tidak pernah benar-benar pergi dari hatinya.

Di antara langkah mereka menuju aula seminar...

Takdir seolah berbisik pelan.

"Kalian sudah sama-sama sembuh."

"Sekarang..."

"Apakah kalian berani memulai lagi?"

Komentar

populer

COUPLE JUARA - Bab 3

MENGEJAR SENJA YANG SAMA - BAB 1

MUBADOG - Bab 1