COUPLE JUARA - Bab 15

 

 Enam Belas Tahun Kemudian

"Waktu mampu mengubah wajah seseorang. Namun waktu tidak selalu mampu menghapus nama yang pernah menetap di hati."


Enam belas tahun kemudian...

Hujan tipis membasahi Kota Yogyakarta pada suatu pagi di bulan Juli.

Di sebuah hotel tempat berlangsung Seminar Nasional Pendidikan Matematika, ratusan guru dan dosen dari berbagai daerah mulai memenuhi ruang registrasi.

Di antara keramaian itu, seorang perempuan berusia tiga puluh enam tahun berjalan sambil membawa map berwarna biru tua.

Rambutnya kini tergerai rapi sebahu.

Tatapannya tenang.

Senyumnya hangat.

Di dada kirinya tersemat sebuah kartu peserta bertuliskan:

Alya Rahma Putri, S.Pd., M.Pd.

Guru Matematika Berprestasi Nasional.

Tidak ada lagi jejak gadis pendiam yang selalu menundukkan kepala.

Bertahun-tahun menjadi guru telah mengubahnya.

Kini ia terbiasa berdiri di depan ratusan siswa.

Menjadi pembicara seminar.

Membimbing guru-guru muda.

Dan setiap kali bertemu murid yang kehilangan kepercayaan diri...

Ia selalu berkata,

"Jangan takut salah."

"Karena keberanian mencoba adalah awal dari keberhasilan."

Kalimat yang dulu pernah ia dengar dari seseorang.


Perjalanan hidup Alya tidak pernah benar-benar mudah.

Setelah lulus kuliah, ia memilih mengajar di sebuah sekolah negeri di kota kecil.

Ia mencintai pekerjaannya.

Setiap melihat murid yang mulai percaya diri, ia merasa seperti sedang melihat dirinya sendiri bertahun-tahun yang lalu.

Namun ada satu hal yang tidak pernah berubah.

Ia tidak pernah menjalin hubungan dengan siapa pun.

Banyak yang datang.

Banyak yang memperkenalkan diri.

Bahkan beberapa rekan guru sempat mencoba mendekatinya.

Namun Alya selalu menolak dengan halus.

Bukan karena ia masih hidup di masa lalu.

Melainkan karena ia belum selesai memaafkan dirinya sendiri.

Butuh waktu yang sangat panjang.

Terapi.

Percakapan yang jujur dengan ibunya.

Memaafkan ayahnya.

Menerima bahwa perceraian kedua orang tuanya bukanlah kesalahannya.

Dan yang paling sulit...

Belajar percaya bahwa ia pantas dicintai.

Proses itu memakan waktu bertahun-tahun.

Bahkan hampir enam belas tahun.


Di sisi lain...

Di sebuah kota yang berbeda, seorang pria turun dari taksi sambil membawa tas kerja berisi laptop dan beberapa buku.

Wajahnya tampak lebih dewasa.

Tatapannya tetap teduh.

Senyumnya masih sama.

Di kartu peserta tertulis:

Arga Pratama, S.Pd., M.Sc.

Dosen Pendidikan Matematika.

Setelah lulus kuliah, Arga melanjutkan studi hingga jenjang magister.

Ia kemudian menjadi dosen sekaligus peneliti di bidang pembelajaran matematika.

Namanya cukup dikenal karena berbagai penelitian tentang metode belajar yang menyenangkan.

Mahasiswa menyukainya.

Bukan karena beliau dosen yang mudah.

Melainkan karena selalu berkata,

"Tidak apa-apa salah."

"Yang penting kalian berani berpikir."

Tanpa disadari...

Kalimat itu diwariskan dari seseorang yang pernah sangat berarti baginya.


"Pak Arga!"

Seorang panitia menghampiri.

"Selamat datang."

"Terima kasih."

"Bapak menjadi pemateri sesi kedua."

"Baik."

Arga tersenyum.

"Peserta dari seluruh Indonesia sudah hadir."

Arga mengangguk.

Ia sama sekali tidak tahu...

Bahwa seseorang yang selama enam belas tahun hanya hidup di dalam kenangannya...

Sedang berada di gedung yang sama.


Sesi pertama seminar dimulai.

Alya duduk di barisan tengah sambil mencatat materi.

Pikirannya benar-benar fokus.

Hingga pembawa acara mengumumkan,

"Selanjutnya kita akan mendengarkan materi dari..."

"...Bapak Arga Pratama."

Pulpen di tangan Alya terjatuh.

Jantungnya berdetak begitu keras.

Tidak...

Pasti hanya namanya yang sama.

Ia mencoba menenangkan diri.

Namun ketika sosok pria itu berjalan menuju panggung...

Dunia seolah berhenti beberapa detik.

Masih senyum yang sama.

Masih langkah yang tenang.

Hanya kini rambutnya sedikit lebih pendek dan wajahnya tampak lebih matang.

Alya menatap panggung tanpa berkedip.

"Arga..."

Enam belas tahun.

Enam belas tahun ia tidak pernah melihat wajah itu secara langsung.


Di atas panggung, Arga mulai menyampaikan materi.

"Matematika bukan sekadar tentang angka."

"Tetapi tentang membangun keberanian untuk mencoba."

Kalimat itu membuat Alya menutup mulutnya.

Air matanya hampir jatuh.

Kalimat itu...

Persis seperti yang dulu selalu ia dengar.

Arga masih mengajar dengan cara yang sama.

Masih tersenyum ketika peserta menjawab salah.

Masih memberi semangat sebelum memberi jawaban.

Tanpa sadar...

Alya ikut tersenyum.


Seminar selesai menjelang siang.

Peserta mulai berdiri dan mengantre untuk berbincang dengan pemateri.

Alya justru memilih keluar menuju taman belakang hotel.

Ia membutuhkan udara segar.

Tangannya masih gemetar.

"Enam belas tahun..."

Bisiknya pelan.

"Aku akhirnya melihatnya lagi."

Ia memandang kolam kecil di depan taman.

Bayangan masa SMA datang silih berganti.

Ruang pembinaan.

Pensil mekanik.

Pin berbentuk π.

Foto Couple Juara.

Bangku taman.

Dan perpisahan di perpustakaan.

Semua terasa begitu dekat.

Padahal telah berlalu begitu lama.


Di waktu yang hampir bersamaan, Arga keluar dari aula melalui pintu samping.

Ia ingin menghindari keramaian sejenak sebelum sesi berikutnya.

Saat melewati taman, langkahnya terhenti.

Beberapa meter di depannya...

Seorang perempuan sedang berdiri membelakanginya.

Entah mengapa...

Siluet itu terasa sangat familiar.

Rambut sebahu.

Cara berdiri.

Cara menggenggam map.

Bahkan kebiasaan kecil memainkan ujung jilbabnya.

Jantung Arga berdegup lebih cepat.

"Tidak mungkin..."

Namun sebelum ia sempat memanggil...

Perempuan itu perlahan berbalik.

Mata mereka bertemu.

Tidak ada suara.

Tidak ada sapaan.

Hanya dua pasang mata yang sama-sama membesar karena terkejut.

Enam belas tahun.

Waktu yang begitu panjang.

Namun pada detik itu...

Rasa hangat yang dulu pernah ada seolah kembali memenuhi hati mereka.

Alya tersenyum lebih dulu.

Senyum yang kali ini tidak lagi dipenuhi rasa malu.

Melainkan ketenangan.

Arga membalas senyum itu.

Untuk pertama kalinya setelah enam belas tahun...

Tidak ada lagi gadis yang menundukkan kepala karena merasa dirinya kurang.

Yang berdiri di hadapannya kini adalah seorang perempuan yang akhirnya berhasil berdamai dengan masa lalunya.

Dan di dalam hati Arga, sebuah doa yang pernah ia ucapkan bertahun-tahun lalu kembali teringat.

"Semoga suatu hari nanti..."

"Kamu benar-benar percaya bahwa kamu pantas dicintai."

Kini...

Melihat senyum Alya yang begitu tenang...

Ia merasa doa itu mungkin telah dikabulkan.

Namun...

Apakah waktu masih memberi mereka kesempatan kedua?

Pertanyaan itu menggantung di antara keduanya.

Dan takdir...

Baru saja membuka lembaran baru yang telah menunggu selama enam belas tahun.

Komentar

populer

COUPLE JUARA - Bab 3

MENGEJAR SENJA YANG SAMA - BAB 1

MUBADOG - Bab 1