COUPLE JUARA - Bab 14
Melepaskan dengan Cinta
"Melepaskan bukan selalu berarti berhenti mencintai. Kadang, seseorang melepaskan karena ia merasa orang yang dicintainya pantas mendapatkan kebahagiaan yang lebih baik."
Sudah dua minggu berlalu sejak percakapan di taman itu.
Arga menepati janjinya.
Ia tidak menghubungi Alya lebih dulu.
Bukan karena marah.
Bukan karena kecewa.
Melainkan karena ia ingin memberi ruang bagi Alya untuk berdamai dengan dirinya sendiri.
Sementara itu, Alya justru semakin sering membuka percakapan mereka.
Membaca ulang setiap pesan.
Setiap ucapan semangat.
Setiap candaan sederhana tentang matematika.
Ia tersenyum.
Lalu menangis.
Begitu berulang setiap malam.
Di kampus, Arga mulai tenggelam dalam kesibukan.
Ia mengikuti penelitian dosen, menjadi asisten praktikum, dan aktif dalam organisasi mahasiswa.
Teman-temannya mulai menyadari satu hal.
Arga memang selalu tersenyum.
Tetapi senyumnya kini terasa berbeda.
Suatu sore, sahabatnya, Fajar, menepuk bahunya.
"Masih soal perempuan itu?"
Arga tersenyum kecil.
"Iya."
"Ditolak?"
Arga menggeleng.
"Tidak juga."
"Terus?"
"Dia bilang mencintaiku."
Fajar mengernyit.
"Lalu masalahnya apa?"
Arga menatap langit senja.
"Dia belum bisa mencintai dirinya sendiri."
Fajar terdiam.
Ia baru memahami bahwa ada luka yang tidak bisa disembuhkan hanya dengan perasaan.
Di sisi lain, Alya mulai menjalani masa orientasi sebagai mahasiswa Pendidikan Matematika.
Lingkungan baru.
Teman-teman baru.
Dosen-dosen baru.
Namun setiap kali melihat seseorang memakai jaket almamater berwarna biru tua—warna yang sama dengan kampus Arga—dadanya selalu berdebar.
Ia segera mengalihkan pandangan.
Seolah dengan begitu, rindunya akan ikut menghilang.
Padahal...
Semakin dihindari, semakin terasa.
Suatu hari, Alya bertemu kembali dengan sahabat lamanya semasa SMA, Nisa.
Nisa adalah teman sekelas yang ceria, berasal dari keluarga yang hangat, dan diam-diam pernah mengagumi Arga sejak masih sekolah.
Hanya saja, Nisa tidak pernah mendekat karena melihat kedekatan Arga dan Alya.
Mereka makan siang bersama di sebuah warung sederhana dekat kampus.
Di tengah obrolan, Nisa tersenyum sambil berkata,
"Ngomong-ngomong..."
"Kamu sama Kak Arga gimana?"
Senyum Alya perlahan menghilang.
"Nggak gimana-gimana."
"Lho?"
"Kalian kan dulu dekat banget."
Alya menunduk.
"Nisa..."
"Aku mau jujur."
Untuk pertama kalinya, Alya menceritakan semuanya.
Tentang pengakuan cinta Arga.
Tentang keluarganya.
Tentang rasa takutnya.
Tentang keyakinannya bahwa Arga pantas mendapatkan seseorang yang lebih baik.
Nisa mendengarkan tanpa memotong.
Setelah Alya selesai, Nisa menghela napas panjang.
"Kamu tahu nggak..."
"Apa?"
"Kamu keras kepala."
Alya tersenyum pahit.
"Mungkin."
"Bukan mungkin."
"Iya."
Nisa menggenggam tangan Alya.
"Kamu mengambil keputusan sendirian."
"Tanpa memberi kesempatan Arga memilih."
Kalimat itu membuat Alya terdiam.
Benarkah?
Selama ini...
Apakah ia sedang melindungi Arga?
Atau justru sedang memutuskan sesuatu yang menjadi hak Arga?
Beberapa hari kemudian, Alya mengirim pesan kepada Arga.
Alya:
Kalau ada waktu, aku ingin bertemu.
Arga membalas singkat.
Arga:
Baik.
Mereka bertemu di sebuah perpustakaan kota.
Tempat yang tenang.
Dipenuhi aroma buku-buku lama.
Alya datang dengan membawa sebuah amplop putih.
"Apa kabar?"
Tanya Arga.
"Baik."
"Kamu?"
"Baik."
Jawaban itu terdengar terlalu singkat.
Karena keduanya tahu...
Tidak ada yang benar-benar baik.
"Aku memanggilmu..."
Kata Alya pelan.
"...karena aku sudah mengambil keputusan."
Arga memperhatikan wajahnya.
"Aku ingin kamu berhenti menungguku."
Jantung Arga seakan berhenti sesaat.
"Alya..."
"Dengarkan dulu."
Alya menahan air matanya.
"Kamu pantas bahagia."
"Kamu pantas punya pasangan yang bisa berjalan tanpa dihantui masa lalu."
"Kamu pantas diterima oleh keluarga yang utuh."
Arga menggeleng pelan.
Namun Alya melanjutkan.
"Aku tidak bisa memberimu itu."
Suasana perpustakaan terasa semakin sunyi.
Hanya suara lembaran buku yang sesekali dibalik pengunjung lain.
Lalu Alya menyerahkan amplop putih itu.
"Ini apa?"
"Buka saja."
Di dalamnya terdapat sebuah foto lama.
Foto saat mereka menerima piala sebagai Couple Juara Matematika.
Di bagian belakang foto tertulis:
Terima kasih sudah menjadi alasan aku percaya pada diriku sendiri.
Sekarang izinkan aku belajar berdiri tanpa bergantung padamu.
Arga memegang foto itu cukup lama.
Tangannya sedikit bergetar.
"Aku juga ingin meminta satu hal."
Kata Alya.
"Apa?"
"Nisa."
Arga mengernyit.
"Nisa?"
"Iya."
"Dia perempuan baik."
"Dia berasal dari keluarga yang hangat."
"Dia diam-diam pernah menyukaimu."
"Aku yakin..."
"...dia bisa membahagiakanmu."
Arga memandang Alya seolah tidak percaya dengan apa yang baru didengarnya.
"Kamu sedang... menjodohkanku?"
Alya tersenyum pahit.
"Aku hanya..."
"...ingin kamu bahagia."
Arga menarik napas panjang.
Kemudian ia tersenyum.
Senyum yang sangat tenang.
"Alya."
"Iya?"
"Aku menghargai niatmu."
"Tapi ada satu hal yang harus kamu pahami."
"Apa?"
"Aku tidak memilihmu karena kamu berasal dari keluarga yang sempurna."
"Aku memilihmu karena kamu adalah Alya."
Ia mengembalikan foto itu ke dalam amplop.
"Lalu soal Nisa..."
Arga menggeleng pelan.
"Dia mungkin perempuan yang sangat baik."
"Tapi..."
"Hati tidak bekerja dengan logika matematika."
Alya menunduk.
Ia tahu.
Kalimat itu benar.
Arga berdiri.
"Sebelum aku pergi..."
"...izinkan aku mengatakan satu hal terakhir."
Alya mengangguk perlahan.
"Aku tidak akan memaksamu."
"Aku juga tidak akan terus mengejarmu."
"Tapi bukan berarti aku akan menggantikanmu dengan orang lain hanya karena aku lelah menunggu."
Air mata Alya jatuh.
Arga melanjutkan dengan suara yang tetap lembut.
"Kalau suatu hari nanti aku benar-benar harus melepaskanmu..."
"...biarlah itu karena perasaanku memang berubah."
"Bukan karena kamu menyuruhku mencintai orang lain."
Alya menutup wajahnya.
Tangisnya pecah.
Ia baru menyadari bahwa mencintai seseorang tidak memberinya hak untuk menentukan kepada siapa orang itu harus mencintai.
Arga melangkah keluar dari perpustakaan.
Di depan pintu, ia berhenti sejenak.
Tanpa menoleh ke belakang, ia berkata,
"Terima kasih..."
"...karena pernah menjadi pasangan juaraku."
Lalu ia pergi.
Alya hanya mampu memandang punggungnya hingga menghilang di balik keramaian kota.
Hari itu...
Tidak ada kata putus.
Tidak ada pertengkaran.
Tidak ada kebencian.
Yang ada hanyalah dua orang yang saling mencintai.
Namun dipisahkan oleh ketakutan yang belum selesai.
Dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu...
Jarak di antara mereka terasa lebih jauh daripada ribuan kilometer.
Karena yang memisahkan bukanlah kota.
Melainkan hati yang belum benar-benar sembuh.
Komentar
Posting Komentar