COUPLE JUARA - Bab 13
Luka yang Masih Bernama Takut
"Ada luka yang tidak terlihat. Ia tidak berdarah, tetapi membuat seseorang merasa tidak layak dicintai selama bertahun-tahun."
Sejak pertemuan di taman itu, hubungan Alya dan Arga berubah.
Bukan menjadi jauh.
Tetapi menjadi lebih hati-hati.
Arga tetap mengirim pesan setiap beberapa hari.
Menanyakan kabar.
Mengucapkan semangat sebelum ujian.
Mengirim foto langit senja ketika tahu Alya sedang belajar hingga malam.
Namun ia tidak pernah lagi menanyakan jawaban atas perasaannya.
Ia menepati janjinya.
Memberikan waktu.
Sebanyak yang dibutuhkan Alya.
Sebaliknya, Alya justru semakin gelisah.
Ia mulai menghindari percakapan yang terlalu lama.
Beberapa kali ia mengetik pesan panjang, lalu menghapusnya.
Ia ingin berkata,
"Aku juga mencintaimu."
Namun setiap kali kalimat itu hampir terkirim, bayangan masa kecilnya kembali datang.
Suara piring pecah.
Tangisan ibunya.
Pintu yang dibanting.
Ayah yang pergi tanpa menoleh.
Dan bisikan-bisikan tetangga yang dulu pernah ia dengar.
"Kasihan ya... anak dari keluarga itu."
Kalimat itu terus hidup di kepalanya.
Seolah menjadi cap yang tidak bisa dihapus.
Suatu sore, Bu Rina memanggil Alya ke ruang guru.
"Kamu kelihatan murung akhir-akhir ini."
Alya tersenyum tipis.
"Nggak apa-apa, Bu."
"Alya."
Suara Bu Rina begitu lembut.
"Ibu mengenalmu cukup lama."
"Kalau kamu bilang tidak apa-apa sambil menunduk seperti itu..."
"...berarti ada sesuatu."
Air mata Alya hampir jatuh.
Namun ia menahannya.
"Bu..."
"Apa anak dari keluarga broken home..."
"...pantas dicintai?"
Pertanyaan itu membuat Bu Rina terdiam.
Beliau tidak langsung menjawab.
Sebaliknya, beliau menarik kursi dan duduk di samping Alya.
"Lihat Ibu."
Alya mengangkat wajah perlahan.
"Siapa yang membuatmu berpikir bahwa nilai seseorang ditentukan oleh keadaan orang tuanya?"
Alya menggigit bibir.
"Aku sendiri."
Bu Rina menghela napas pelan.
"Itulah luka."
"Luka selalu pandai berbohong."
"Ia membuatmu percaya bahwa kamu kurang."
"Padahal kenyataannya..."
"...kamu hanya sedang terluka."
Air mata Alya akhirnya jatuh.
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Alya memberanikan diri bertanya kepada ibunya.
"Bu..."
"Iya, Nak?"
"Ibu pernah malu punya Alya?"
Ibunya tampak terkejut.
"Maksudmu?"
"Karena keluarga kita..."
"...berbeda."
Sang ibu memegang kedua tangan Alya.
"Alya."
"Dengarkan Ibu baik-baik."
"Yang paling Ibu sesali bukan perceraian itu."
"Tapi karena tanpa sadar..."
"...Ibu membiarkan anak Ibu tumbuh sambil merasa dirinya tidak berharga."
Air mata ibunya ikut mengalir.
"Ibu terlalu sibuk bekerja."
"Terlalu sibuk bertahan hidup."
"Sampai lupa memelukmu."
Alya menangis dalam pelukan ibunya.
Sudah bertahun-tahun mereka tidak berbicara sedalam itu.
"Alya."
"Iya, Bu?"
"Kalau suatu hari ada laki-laki baik yang datang..."
"...jangan hukum dia karena kesalahan masa lalu Ayah dan Ibu."
Kalimat itu menancap dalam hati Alya.
Beberapa hari kemudian, Arga kembali menghubungi Alya.
Arga:
Besok aku ke kota. Mau ketemu sebentar?
Kali ini, Alya tidak menghindar.
Alya:
Iya.
Mereka bertemu di taman yang sama.
Bangku yang sama.
Bahkan pohon ketapang di samping mereka masih bergoyang pelan tertiup angin.
Beberapa menit berlalu tanpa ada yang berbicara.
Akhirnya Alya memulai.
"Arga."
"Iya."
"Aku mau cerita."
"Aku dengar."
Tidak ada kata "silakan".
Tidak ada kalimat yang memotong.
Hanya...
"Aku dengar."
Kalimat sederhana yang membuat Alya merasa aman.
"Aku dulu sering berpikir..."
"...perceraian Ayah dan Ibu terjadi karena aku."
Arga langsung menggeleng.
Namun ia memilih tetap diam.
Memberi Alya kesempatan menyelesaikan ceritanya.
"Waktu SD..."
"...teman-temanku pernah bertanya kenapa ayahku tidak pernah datang."
"Aku bohong."
"Aku bilang Ayah kerja di luar kota."
Padahal...
Alya menarik napas panjang.
"Padahal Ayah sudah tinggal di rumah lain."
Arga merasakan dadanya sesak.
Tetapi ia tetap mendengarkan.
"Aku malu."
"Malu kalau orang tahu."
"Malu kalau nanti keluarga orang yang dekat denganku berpikir..."
"'Anak ini pasti membawa masalah.'"
Air mata Alya kembali jatuh.
"Makanya..."
"Aku takut."
"Takut sama perasaanmu."
Arga memandang Alya dengan tenang.
"Aku boleh bicara sekarang?"
Alya mengangguk.
"Pertama."
"Aku sedih karena kamu memikul beban itu sendirian selama bertahun-tahun."
"Kedua."
"Aku marah."
Alya terkejut.
"Marah?"
"Iya."
"Marah sama kebohongan yang terus kamu percayai."
"Kebohongan?"
Arga mengangguk.
"Bahwa kamu tidak pantas dicintai."
"Itu bohong, Alya."
"Bahwa keluargamu menentukan nilai dirimu."
"Itu juga bohong."
"Bahwa masa lalu orang tuamu adalah kesalahanmu."
"Itu kebohongan paling besar."
Alya menatap Arga tanpa berkedip.
Belum pernah ada orang yang membela dirinya sekuat itu.
"Aku jatuh cinta sama siapa?"
Tanya Arga pelan.
Alya tidak menjawab.
"Aku jatuh cinta pada Alya."
"Bukan pada status keluargamu."
"Bukan pada nama ayahmu."
"Bukan pada cerita masa kecilmu."
"Aku jatuh cinta pada perempuan yang selalu sabar mengajari adik kelas."
"Perempuan yang menangis ketika ibunya bangga."
"Perempuan yang tetap baik meski hidup tidak selalu baik kepadanya."
Suara Arga mulai bergetar.
"Kalau suatu hari keluargaku bertanya tentangmu..."
"...aku ingin mereka mengenal Alya."
"Bukan mengenal luka yang selama ini kamu sembunyikan."
Air mata Alya mengalir semakin deras.
"Aku..."
Suara Alya nyaris tak terdengar.
"Aku juga..."
Ia menutup wajahnya.
Tangisnya pecah.
"Aku juga mencintaimu, Arga."
Kalimat itu akhirnya terucap.
Untuk pertama kalinya.
Arga memejamkan mata.
Bukan karena terkejut.
Melainkan karena bersyukur.
Namun sebelum sempat berkata apa-apa, Alya melanjutkan dengan suara bergetar.
"Tapi..."
Satu kata itu.
Membuat senyum Arga perlahan memudar.
"Aku belum bisa menjadi orang yang kamu inginkan."
"Bukan karena aku tidak mencintaimu."
"Tapi karena aku belum selesai berdamai dengan diriku sendiri."
"Aku takut."
"Kalau suatu hari keluargamu tidak menerimaku..."
"...aku tidak akan sanggup kehilanganmu."
Keheningan menyelimuti taman.
Angin sore bertiup pelan.
Daun-daun berguguran di sekitar bangku tempat mereka duduk.
Arga menundukkan kepala beberapa saat.
Lalu berkata dengan sangat lembut,
"Aku tidak akan memaksamu."
"Aku mencintaimu."
"Dan cinta seharusnya tidak membuatmu merasa terpojok."
Ia berdiri perlahan.
"Aku akan tetap mendoakanmu."
"Sampai kapan?"
Tanya Alya lirih.
Arga tersenyum, meski matanya mulai berkaca-kaca.
"Sampai kamu benar-benar percaya..."
"...bahwa kamu pantas dicintai."
Ia melangkah pergi.
Bukan karena menyerah.
Tetapi karena menghormati perempuan yang ia cintai.
Sementara Alya tetap duduk di bangku itu.
Menangis sejadi-jadinya.
Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa musuh terbesar dalam hidupnya bukanlah soal matematika yang paling sulit.
Bukan pula masa lalu keluarganya.
Melainkan rasa takut yang selama ini ia pelihara sendiri.
Dan rasa takut itu...
Baru saja mengambil kesempatan paling berharga dalam hidupnya.
Komentar
Posting Komentar