COUPLE JUARA - Bab 12

 

 Pengakuan yang Tertunda

"Yang paling menyakitkan bukan ketika cinta ditolak. Tetapi ketika seseorang memilih menjauh bukan karena tidak mencintai, melainkan karena merasa dirinya tidak pantas dicintai."


Semester terakhir Alya dimulai.

Kesibukannya semakin padat. Selain mempersiapkan ujian akhir sekolah, ia juga dipercaya menjadi ketua tim Olimpiade Matematika untuk melatih adik-adik kelas yang akan mengikuti perlombaan berikutnya.

Suatu sore, Bu Rina memperhatikannya dari balik pintu kelas.

"Alya."

"Iya, Bu?"

"Kamu capek?"

Alya tersenyum.

"Sedikit."

"Tapi bahagia."

Bu Rina mengangguk.

"Ibu punya satu pertanyaan."

"Apa?"

"Kalau nanti lulus..."

"...apa yang paling akan kamu rindukan dari sekolah ini?"

Alya tidak langsung menjawab.

Matanya berkeliling ruangan.

Papan tulis.

Bangku-bangku.

Rak buku yang dulu sering menjadi tempat Arga menyembunyikan soal-soal latihan.

Lalu ia tersenyum.

"Semuanya."

Namun jauh di dalam hatinya, ia tahu ada satu jawaban yang tidak berani ia ucapkan.

"Aku akan merindukan seseorang yang membuatku percaya pada diriku sendiri."


Di kampus, Arga sedang sibuk menyusun proposal kegiatan organisasi ketika ponselnya bergetar.

Pesan dari Bu Rina.

Bu Rina:
Alya lolos seleksi masuk Pendidikan Matematika melalui jalur prestasi.

Arga spontan tersenyum lebar.

Tanpa berpikir panjang, ia langsung menghubungi Alya.

"Halo?"

Suara di seberang terdengar sedikit gugup.

"Halo, Arga."

"Selamat, Guru Matematika."

Alya tertawa.

"Belum jadi guru."

"Calon guru."

"Masih lama."

"Yang penting mimpinya sudah selangkah lebih dekat."

Beberapa detik mereka sama-sama diam.

Arga ingin mengatakan sesuatu.

Namun urung.

"Selamat ya."

"Terima kasih."

Percakapan berakhir.

Tetapi hati Arga justru semakin yakin.

"Aku tidak ingin hanya menjadi orang yang mengucapkan selamat dari kejauhan."


Beberapa minggu kemudian, Arga kembali datang ke sekolah.

Kali ini bukan karena libur kuliah.

Melainkan karena memenuhi undangan sebagai alumni berprestasi.

Setelah seminar selesai, Bu Rina menghampirinya.

"Masih mau pura-pura?"

"Maksud Ibu?"

"Perasaanmu."

Arga tertawa kecil.

"Ternyata ketahuan."

"Ibu sudah tahu sejak dua tahun lalu."

Arga menggaruk tengkuknya.

"Sebegitu jelas ya?"

"Di mata guru, murid yang sedang jatuh cinta itu sulit menyembunyikan tatapannya."

Mereka sama-sama tertawa.

Bu Rina kemudian berkata dengan lembut,

"Kalau memang serius..."

"...jangan tunggu terlalu lama."

"Perempuan juga butuh kepastian."

Kalimat itu terus terngiang di kepala Arga.


Malam itu, Arga membuka sebuah kotak kayu kecil di kamarnya.

Di dalamnya tersimpan benda-benda yang selalu mengingatkannya pada Alya.

Pensil mekanik berwarna biru yang dulu ia hadiahkan.

Foto "Couple Juara Matematika" yang dicetak kecil.

Secarik kertas berisi tulisan tangan Alya.

Dan gantungan kunci berbentuk simbol π.

Ia memegang gantungan itu erat.

"Aku rasa..."

"...sudah waktunya."


Beberapa hari kemudian, Arga menghubungi Alya.

Arga:
Besok sore ada waktu?

Beberapa menit berlalu.

Barulah balasan datang.

Alya:
Ada. Ada apa?

Arga:
Aku mau traktir calon mahasiswa.

Alya tersenyum membaca pesan itu.

Alya:
Baik.


Keesokan sore, mereka bertemu di sebuah taman kota yang tak jauh dari sekolah.

Tempat itu sederhana.

Banyak pohon rindang.

Beberapa anak kecil bermain layang-layang.

Arga datang lebih dulu.

Tangannya berkeringat.

Padahal ia sudah berkali-kali berbicara di depan ratusan orang.

Namun sore itu...

Menghadapi satu orang justru terasa jauh lebih sulit.

"Aku terlambat?"

Suara Alya membuatnya menoleh.

"Tidak."

"Kamu tepat waktu."

Mereka berjalan pelan menyusuri taman.

Awalnya mereka membicarakan kuliah.

Tentang guru.

Tentang matematika.

Tentang cita-cita.

Seperti biasa.

Namun kali ini Arga tahu...

Ia tidak boleh pulang tanpa mengatakan isi hatinya.


Matahari mulai tenggelam.

Langit berubah jingga keemasan.

Mereka berhenti di dekat sebuah bangku kayu.

"Alya."

"Iya?"

"Aku mau jujur."

Alya menatapnya.

Entah mengapa, jantungnya mulai berdebar.

"Aku sudah mengenalmu hampir tiga tahun."

Alya mengangguk pelan.

"Dulu..."

"...aku mengagumimu karena kamu tidak menyerah."

"Lalu aku bangga melihatmu menjadi juara."

"Sekarang..."

Arga menarik napas panjang.

"Aku menyayangimu."

Keheningan menyelimuti taman.

Burung-burung yang pulang ke sarang terdengar samar di kejauhan.

Alya membeku.

Ia sudah menduga percakapan ini akan datang.

Namun ketika benar-benar mendengarnya...

Hatinya tetap bergetar.

Arga melanjutkan,

"Aku tidak meminta jawaban hari ini."

"Aku hanya ingin kamu tahu."

"Perasaanku bukan muncul karena kita sering bersama."

"Bukan juga karena kita sama-sama suka matematika."

"Aku mencintaimu..."

"...karena aku melihat siapa dirimu."

"Gadis yang kuat."

"Gadis yang baik."

"Gadis yang selalu memikirkan orang lain sebelum dirinya sendiri."

"Aku ingin mengenalmu lebih jauh."

"Kalau kamu mengizinkan."

Air mata Alya perlahan memenuhi pelupuk matanya.

Bukan karena terharu.

Melainkan karena kata-kata itu menghantam tembok yang selama ini ia bangun sendiri.

Tembok bernama...

"Aku tidak pantas."


"Alya..."

Suara Arga terdengar pelan.

"Aku tidak memaksamu."

"Aku hanya ingin jujur."

Alya menundukkan kepala.

Tangannya saling menggenggam erat.

Lalu, dengan suara yang hampir berbisik, ia berkata,

"Arga..."

"Aku boleh minta waktu?"

"Tentu."

"Aku... belum bisa menjawab."

Arga tersenyum tipis.

"Tidak apa-apa."

"Aku bisa menunggu."

Namun Arga tidak tahu...

Yang diminta Alya bukanlah waktu untuk memilih.

Melainkan waktu untuk melawan ketakutan yang telah hidup bersamanya sejak kecil.


Malam itu, Alya duduk sendirian di kamar.

Di depannya tergeletak foto "Couple Juara Matematika" yang dulu diberikan Bu Rina.

Ia mengusap foto itu perlahan.

Kemudian berbisik pada dirinya sendiri,

"Aku juga..."

"...menyukaimu."

Kalimat itu akhirnya keluar.

Untuk pertama kalinya.

Tetapi hanya dinding kamar yang mendengarnya.

Air matanya jatuh satu per satu.

Bukan karena ia tidak ingin menerima cinta Arga.

Justru sebaliknya.

Ia terlalu mencintai Arga.

Dan karena itulah...

Ia takut.

Takut suatu hari keluarga Arga mengetahui bahwa dirinya berasal dari keluarga yang tidak utuh.

Takut dianggap membawa luka.

Takut dibandingkan.

Takut ditolak.

Ketakutan yang selama bertahun-tahun berhasil ia sembunyikan...

Kini kembali hidup.

Dan tanpa disadarinya...

Ketakutan itulah yang akan menentukan keputusan terbesar dalam hidup mereka berdua.

Komentar

populer

COUPLE JUARA - Bab 3

MENGEJAR SENJA YANG SAMA - BAB 1

MUBADOG - Bab 1