COUPLE JUARA - Bab 11
Jarak yang Mengajarkan Rindu
"Kadang kita baru menyadari betapa berharganya seseorang ketika ia tidak lagi hadir dalam rutinitas kita."
Hari pertama tanpa Arga terasa aneh bagi Alya.
Koridor sekolah masih sama.
Ruang pembinaan olimpiade masih berada di lantai tiga.
Bahkan kursi dekat jendela yang dulu sering ditempati Arga masih kosong.
Namun entah mengapa...
Suasana sekolah terasa berbeda.
Alya berdiri beberapa saat di depan pintu ruang pembinaan sebelum akhirnya masuk.
Bu Rina yang melihatnya hanya tersenyum.
"Masih terasa ya?"
Alya mengangguk pelan.
"Ruangannya jadi sepi."
Bu Rina menepuk bahunya.
"Itulah hidup."
"Suatu hari kita harus belajar berjalan sendiri."
Pembinaan sore itu berjalan seperti biasa.
Kini Alya menjadi pembimbing utama bagi adik-adik kelas.
Awalnya ia gugup.
Namun setiap kali rasa gugup datang, ia teringat bagaimana Arga dulu mengajarinya.
Ia tidak pernah langsung memberi jawaban.
Ia selalu bertanya.
"Coba pikirkan lagi."
"Ada cara lain?"
"Apa yang ingin disembunyikan pembuat soal?"
Kalimat-kalimat itu kini keluar dari mulut Alya tanpa ia sadari.
Bu Rina memperhatikannya dari belakang kelas.
Dalam hati beliau tersenyum.
"Arga tidak hanya mengajarkan matematika."
"Ia meninggalkan cara berpikir yang kini hidup di dalam Alya."
Sementara itu, kehidupan Arga di bangku kuliah dimulai.
Kampus yang besar, teman-teman baru, organisasi, dan jadwal kuliah yang padat membuat harinya terasa begitu sibuk.
Namun di sela-sela kesibukan itu, ada satu kebiasaan yang tidak pernah berubah.
Setiap Minggu malam, ponselnya berbunyi.
Alya:
"Kak... eh, Arga. Aku boleh tanya soal?"
Arga selalu tersenyum membaca pesan itu.
"Kirim saja."
Kadang soal itu selesai dibahas dalam lima menit.
Kadang mereka berdiskusi hingga larut malam.
Namun hampir selalu, percakapan berakhir dengan kalimat yang sama.
"Semangat belajarnya."
"Kamu juga."
Tidak lebih.
Tidak kurang.
Suatu malam, teman sekamar Arga melirik layar ponselnya.
"Lagi ngobrol sama siapa?"
"Teman."
Temannya menyeringai.
"Teman?"
"Iya."
"Yang tiap minggu chat?"
Arga tertawa kecil.
"Iya."
"Itu bukan teman."
"Lalu?"
"Itu calon."
Arga hanya menggeleng sambil menyimpan ponselnya.
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun membuatnya berpikir sepanjang malam.
Beberapa bulan berlalu.
Alya mengikuti berbagai perlombaan matematika tingkat kota.
Ia berhasil membawa pulang beberapa medali.
Setiap kali memperoleh prestasi, orang pertama yang menerima kabar itu bukanlah media sosial.
Melainkan Arga.
Alya:
"Aku juara dua."
Tak sampai semenit, balasan datang.
Arga:
"Selamat, Juara."
Bukan "selamat Alya".
Bukan "hebat".
Melainkan...
Juara.
Julukan itu selalu berhasil membuat Alya tersenyum.
Suatu hari, kampus Arga mengadakan libur singkat.
Tanpa memberi tahu siapa pun, ia memutuskan mampir ke sekolah.
Bu Rina menyambutnya hangat.
"Wah, alumni favorit datang."
Arga tertawa.
"Bagaimana kabarnya, Bu?"
"Baik."
"Kalau Alya?"
Bu Rina sengaja mengangkat alis.
"Baru datang lima menit sudah tanya Alya."
Arga hanya tersenyum malu.
Saat mereka berbincang, terdengar suara dari ruang pembinaan.
"Kalau kalian menemukan cara yang berbeda, jangan takut menyampaikan."
"Itu justru menarik."
Arga menoleh.
Di depan papan tulis berdiri Alya.
Dengan percaya diri ia menjelaskan penyelesaian soal.
Sesekali ia tersenyum kepada adik-adik kelas.
Persis seperti yang dulu dilakukan Arga.
Tanpa sadar, sudut bibir Arga terangkat.
"Dia berubah jauh sekali."
Bu Rina mengangguk.
"Dan perubahan itu tidak berhenti."
"Dia sekarang sering diminta menjadi pembicara saat kelas inspirasi."
"Benarkah?"
"Iya."
"Bahkan kemarin dia menjadi moderator seminar kecil."
Arga memandang Alya melalui kaca jendela.
Rasa bangga memenuhi dadanya.
Bukan rasa memiliki.
Melainkan rasa syukur karena gadis itu benar-benar menemukan dirinya.
Pembinaan selesai.
Anak-anak keluar satu per satu.
Saat Alya menutup pintu kelas, ia terkejut melihat seseorang berdiri di koridor.
"Arga?"
"Hai, Juara."
Alya tersenyum begitu lebar hingga matanya ikut menyipit.
"Kenapa nggak bilang mau datang?"
"Pengin kasih kejutan."
"Aku hampir nggak percaya."
Mereka duduk di bangku taman sekolah yang dulu sering menjadi tempat berdiskusi.
Tidak banyak yang berubah.
Hanya pohon ketapang di samping mereka yang kini tumbuh lebih rindang.
"Jadi mahasiswa ternyata capek ya."
Kata Arga sambil tertawa.
"Katanya kuliah enak."
"Siapa yang bilang?"
"Kakak sepupuku."
"Itu berarti dia kuliahnya santai."
Mereka tertawa bersama.
Suasana mengalir begitu alami.
Tidak canggung meski sudah berbulan-bulan tidak bertemu.
Menjelang sore, Arga mengeluarkan sebuah buku dari tasnya.
"Sebenarnya aku bawa ini buat kamu."
"Apa?"
"Buku logika matematika."
Alya membukanya perlahan.
Di halaman pertama terdapat tulisan tangan Arga.
Untuk Alya.
Aku pernah bilang kalau potensimu tidak punya batas.
Hari ini aku menambahkan satu kalimat.
Jangan pernah takut bermimpi lebih tinggi daripada yang orang lain bayangkan.
Karena kamu sudah berkali-kali membuktikan bahwa kerja keras selalu menemukan jalannya.
Alya membaca tulisan itu perlahan.
"Terima kasih."
"Masih suka kasih buku ya?"
Arga tersenyum.
"Karena buku lebih awet daripada bunga."
Alya tertawa.
"Romantis juga ternyata."
Kalimat itu keluar begitu saja.
Begitu menyadarinya, Alya langsung menutup mulut.
Pipinya memerah.
Arga ikut tertawa.
"Baru tahu?"
"Iya."
Suasana mendadak hening.
Entah mengapa, jantung keduanya berdetak lebih cepat.
Untuk pertama kalinya...
Percakapan mereka tidak lagi hanya tentang matematika.
Ada sesuatu yang mulai tumbuh di antara jeda-jeda kalimat.
Sesuatu yang belum berani mereka beri nama.
Sebelum pulang ke kampus, Arga berdiri di depan gerbang sekolah.
"Alya."
"Iya?"
"Tahun depan kamu lulus."
"Iya."
"Setelah itu..."
"Kamu mau kuliah di mana?"
"Aku ingin kuliah di jurusan Pendidikan Matematika."
Arga tersenyum bangga.
"Kenapa senyum begitu?"
"Karena dulu aku pernah bilang..."
"Kamu akan jadi guru yang hebat."
Alya menunduk malu.
"Semoga."
"Bukan semoga."
Arga menatapnya dengan keyakinan yang sama seperti bertahun-tahun lalu.
"Kamu pasti bisa."
Kalimat itu.
Kalimat yang pertama kali mengubah hidup Alya.
Kini kembali terdengar.
Dan seperti dulu...
Kalimat itu kembali menghangatkan hatinya.
Di dalam bus menuju kampus, Arga memandang keluar jendela.
Bayangan Alya yang tersenyum terus memenuhi pikirannya.
Ia menghela napas pelan.
"Tidak."
"Aku tidak bisa terus menyebut ini hanya rasa kagum."
"Aku benar-benar mencintainya."
"Dan sebelum dia lulus nanti..."
"Aku akan mengatakan semuanya."
Tanpa ia sadari, keputusan itu akan menjadi awal dari ujian terbesar dalam hubungan mereka.
Karena Arga belum mengetahui satu hal.
Di balik senyum Alya yang kini semakin cerah...
Masih ada luka lama yang belum benar-benar sembuh.
Luka yang membuat Alya percaya...
Bahwa dirinya mungkin pantas menjadi juara matematika.
Tetapi belum tentu pantas menjadi pendamping seseorang yang sangat ia kagumi.
Komentar
Posting Komentar