COUPLE JUARA - Bab 10
Perasaan yang Tak Lagi Bisa Disembunyikan
"Cinta tidak selalu datang dengan debar yang keras. Kadang ia hadir diam-diam, lalu suatu hari kita sadar, ada satu nama yang selalu kita sebut dalam setiap doa."
Waktu berjalan begitu cepat.
Tak terasa, Arga kini berada di semester terakhirnya di sekolah. Sementara Alya masih memiliki satu tahun lagi untuk menyelesaikan pendidikannya.
Meski kesibukan semakin bertambah, pembinaan olimpiade tidak pernah benar-benar berhenti.
Kini justru Arga lebih banyak mengamati daripada mengajar.
Karena tanpa ia sadari...
Alya sudah mampu berdiri sendiri.
Suatu sore, Bu Rina meminta Alya membimbing simulasi olimpiade tanpa bantuan siapa pun.
"Alya, hari ini Ibu ingin melihat caramu mengajar."
"Iya, Bu."
Ruangan dipenuhi lima belas siswa.
Alya berdiri di depan papan tulis.
Tangannya tidak lagi gemetar.
Suaranya terdengar tenang.
"Coba kita lihat soal ini bersama-sama."
"Menurut kalian, bagian mana yang paling sulit?"
Anak-anak mulai mengangkat tangan.
Diskusi berlangsung hidup.
Tak ada yang takut menjawab.
Tak ada yang malu bertanya.
Di sudut ruangan, Arga memperhatikan semuanya dalam diam.
Sesekali ia tersenyum sendiri.
Bu Rina berdiri di sampingnya.
"Bagaimana?"
Arga menjawab lirih,
"Dia sudah tidak membutuhkanku lagi."
Bu Rina tersenyum.
"Kamu salah."
Arga menoleh.
"Yang tidak lagi dibutuhkan adalah bantuanmu mengerjakan soal."
"Tapi kehadiranmu..."
"...masih sangat berarti untuknya."
Kalimat itu membuat Arga terdiam cukup lama.
Sore itu mereka pulang lebih lambat dari biasanya.
Langit mulai berubah jingga.
Arga dan Alya berjalan melewati taman belakang sekolah yang hampir kosong.
"Alya."
"Hm?"
"Aku mau tanya sesuatu."
"Apa?"
"Kalau nanti aku lulus..."
"...apa yang paling kamu khawatirkan?"
Langkah Alya terhenti.
Ia menatap jalan setapak di depannya.
"Sepi."
"Sepi?"
"Iya."
"Biasanya kalau aku mentok mengerjakan soal..."
"...aku tinggal bertanya sama kamu."
Arga tertawa kecil.
"Telepon juga bisa."
"Beda."
"Apa bedanya?"
Alya berpikir sejenak.
"Lihat kamu menjelaskan langsung itu..."
"...lebih menenangkan."
Arga menundukkan wajah agar Alya tidak melihat senyumnya yang semakin lebar.
Jawaban sederhana itu membuat dadanya terasa hangat.
Beberapa hari kemudian, sekolah mengadakan acara perpisahan untuk siswa kelas akhir.
Arga mendapat penghargaan sebagai Siswa Berprestasi Bidang Akademik.
Saat namanya dipanggil ke panggung, seluruh aula memberikan tepuk tangan.
Namun yang paling keras bertepuk tangan adalah Alya.
Ia bahkan berdiri tanpa sadar.
Teman-temannya langsung menggoda.
"Wah..."
"Semangat banget tepuk tangannya."
Alya hanya tersenyum malu.
Baginya, Arga memang pantas mendapatkan penghargaan itu.
Bukan hanya karena pintar.
Tetapi karena telah membantu banyak orang berkembang.
Setelah acara selesai, para siswa saling menuliskan pesan di buku kenangan.
Alya duduk sendirian di bawah pohon ketapang sambil membaca pesan dari teman-temannya.
Tiba-tiba seseorang duduk di sampingnya.
"Boleh pinjam bukumu?"
Arga.
"Tentu."
Arga membuka halaman kosong.
Ia berpikir cukup lama sebelum mulai menulis.
Setelah selesai, ia menutup buku itu dan mengembalikannya.
"Nanti bacanya di rumah."
"Kenapa?"
"Biar lebih terasa."
Alya mengangguk.
Malam harinya, Alya membuka buku kenangan itu.
Di halaman terakhir terdapat tulisan tangan Arga yang rapi.
Untuk Alya.
Terima kasih sudah membuktikan bahwa seseorang tidak ditentukan oleh masa lalunya.
Dulu aku hanya berharap kamu percaya pada dirimu sendiri.
Hari ini aku melihatmu mampu membuat banyak orang percaya pada diri mereka.
Tetaplah menjadi Alya yang rendah hati.
Jangan pernah berhenti belajar.
Dan kalau suatu hari nanti kamu merasa lelah...
Ingatlah bahwa pernah ada seseorang yang selalu percaya kamu mampu.
— Arga
Alya memejamkan mata.
Entah mengapa, membaca tulisan itu membuat hatinya terasa hangat sekaligus sesak.
Hari kelulusan Arga akhirnya tiba.
Seluruh siswa berkumpul di halaman sekolah.
Banyak yang menangis karena harus berpisah.
Alya berdiri di dekat gerbang sambil menggenggam sebuah kotak kecil.
"Ini..."
Ia menyerahkannya kepada Arga.
"Apa ini?"
"Buka nanti."
Arga menerimanya dengan hati-hati.
"Aku juga punya sesuatu."
Ia mengeluarkan sebuah pena berwarna hitam dengan ukiran kecil di bagian atas.
Ukiran itu berbunyi:
"Believe Before You Win."
"Artinya?"
Tanya Alya.
Arga tersenyum.
"Percayalah dulu..."
"...baru kemenangan akan datang."
Alya mengangguk pelan.
Kalimat itu mengingatkannya pada pertemuan pertama mereka.
Saat Arga percaya padanya bahkan sebelum ia berhasil menjadi juara.
Sesampainya di rumah, Arga membuka kotak pemberian Alya.
Di dalamnya terdapat sebuah gantungan kunci berbentuk simbol π, dibuat dari rajutan benang berwarna biru.
Ada secarik kertas kecil di dalamnya.
Katanya potensi itu tidak punya batas.
Jadi jangan pernah berhenti bermimpi.
Terima kasih sudah menjadi mentor terbaik yang pernah aku punya.
— Alya
Arga membaca surat itu berulang kali.
Lalu ia tersenyum.
Adiknya yang melihat dari pintu kamar langsung tertawa.
"Kak..."
"Hm?"
"Itu senyum orang jatuh cinta."
Arga tidak membantah.
Ia hanya menatap gantungan kunci itu lama.
Mungkin...
Sudah saatnya ia jujur pada dirinya sendiri.
Beberapa minggu kemudian, Arga resmi diterima di salah satu perguruan tinggi impiannya.
Sebelum berangkat kuliah, ia datang ke sekolah untuk berpamitan kepada Bu Rina.
Tanpa sengaja, ia melihat Alya sedang mengajar adik-adik kelas di ruang pembinaan.
Cara Alya menjelaskan soal.
Cara ia tersenyum ketika muridnya berhasil menemukan jawaban.
Cara ia berkata,
"Tidak apa-apa salah. Kita belajar bersama."
Semuanya mengingatkan Arga pada hari pertama mereka bertemu.
Saat itu Alya adalah gadis yang takut mengangkat kepala.
Kini...
Ia menjadi cahaya bagi banyak orang.
Arga berdiri cukup lama di depan pintu.
Sebuah keyakinan akhirnya memenuhi hatinya.
"Aku mencintainya."
Bukan karena ia juara matematika.
Bukan karena ia pintar.
Bukan pula karena mereka sering bersama.
Melainkan karena Alya telah mengajarkannya bahwa luka tidak harus mengubah seseorang menjadi keras.
Justru luka bisa melahirkan hati yang paling lembut.
Sebelum pergi, Arga berbisik pelan pada dirinya sendiri,
"Tunggu aku, Alya."
"Kalau nanti waktunya sudah tepat..."
"Aku akan kembali, bukan sebagai mentor."
"Tetapi sebagai laki-laki yang ingin memintamu berjalan bersamaku seumur hidup."
Sementara itu, Alya masih sibuk menjelaskan soal di depan kelas.
Ia sama sekali tidak menyadari...
Bahwa seseorang baru saja mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya.
Keputusan untuk mencintainya dengan sabar.
Tanpa memaksa.
Tanpa menuntut.
Dan tanpa mengurangi rasa hormat yang telah tumbuh sejak hari pertama mereka bertemu di sebuah perlombaan matematika.
Komentar
Posting Komentar