COUPLE JUARA - Bab 1

 

Sebuah kisah tentang luka, matematika, dan keberanian untuk dicintai

Bab 1

Sepasang Mata di Balik Angka

Suara bel sekolah terdengar nyaring memecah pagi.

Siswa-siswi berhamburan memasuki kelas masing-masing. Sebagian masih sibuk bercanda, sebagian lagi berlari karena takut terlambat. Namun di sudut koridor lantai dua, seorang gadis berjalan perlahan sambil memeluk erat buku matematikanya.

Namanya Alya.

Ia bukan gadis yang mudah dikenali. Rambutnya selalu dikuncir sederhana, seragamnya selalu rapi, dan kepalanya hampir tak pernah terangkat saat berjalan. Jika ada yang bertanya, ia menjawab seperlunya. Jika tidak ditanya, ia memilih diam.

Banyak orang mengira Alya sombong.

Padahal bukan.

Ia hanya terlalu takut.

Takut salah bicara.

Takut ditertawakan.

Takut dibandingkan.

Dan yang paling ia takutkan... orang lain mengetahui seperti apa keluarganya.

Di rumah, tidak pernah ada makan malam bersama. Tidak pernah ada tawa yang mengisi ruang keluarga. Yang ada hanyalah suara pertengkaran yang semakin hari semakin biasa terdengar.

Ayah dan ibunya telah berpisah sejak ia duduk di bangku SMP. Sejak saat itu Alya hidup bersama ibunya yang bekerja dari pagi hingga malam. Mereka tinggal di rumah sederhana yang lebih sering sunyi daripada hangat.

"Aku tidak boleh merepotkan siapa pun."

Kalimat itu menjadi prinsip hidupnya.

Karena itulah ia belajar sekuat tenaga.

Matematika menjadi tempat paling aman baginya.

Angka tidak pernah bertanya tentang keluarganya.

Rumus tidak pernah menghakimi masa lalunya.

Soal-soal yang sulit justru terasa lebih sederhana daripada menjelaskan mengapa ia tidak pernah dijemput ayahnya saat pembagian rapor.


Suatu siang, guru matematika memasuki kelas membawa selembar pengumuman.

"Tahun ini sekolah akan mengirimkan peserta Olimpiade Matematika."

Seluruh kelas langsung ramai.

"Aku nggak mau..."

"Pasti susah."

"Yang ikut anak pintar saja."

Bu Rina tersenyum kecil.

"Ibu sudah memilih berdasarkan nilai. Alya, kamu salah satunya."

Seluruh kelas menoleh.

Alya membeku.

"Saya... Bu?"

"Iya."

"Tapi saya..."

"Kamu mampu."

Hanya dua kata.

Namun entah mengapa, dua kata itu terasa begitu berat untuk dipercaya.


Hari perlombaan akhirnya tiba.

Puluhan siswa dari berbagai sekolah memenuhi aula besar. Suasana begitu ramai.

Alya duduk di bangku peserta sambil menggenggam pensilnya erat.

Tangannya dingin.

Jantungnya berdetak sangat cepat.

Di saat itulah ia merasakan seseorang sedang memperhatikannya.

Perlahan ia mengangkat kepala.

Beberapa meter di depannya berdiri seorang kakak kelas.

Seragamnya berbeda.

Di dadanya terpasang kartu peserta tingkat SMA.

Wajahnya teduh.

Senyumnya tipis.

Tatapannya hangat.

Untuk beberapa detik, mata mereka bertemu.

Alya buru-buru menunduk.

"Aku pasti cuma salah lihat."

Namun ternyata tidak.

Sejak sesi pembukaan hingga peserta memasuki ruang lomba, sepasang mata itu masih sesekali mencarinya.


Lomba berlangsung hampir tiga jam.

Alya mengerjakan soal dengan sekuat tenaga.

Ada beberapa soal yang berhasil ia pecahkan.

Ada pula yang membuatnya menyerah.

Ketika bel berakhir berbunyi, ia keluar ruangan dengan napas panjang.

"Aku sudah berusaha."

Hanya itu yang mampu ia katakan kepada dirinya sendiri.


Sore harinya, pengumuman pemenang dibacakan.

Juara pertama.

Juara kedua.

Juara ketiga.

Namanya tidak disebut.

Ia menatap papan pengumuman beberapa saat.

Kemudian tersenyum kecil.

"Aku memang belum cukup baik."

Ia berbalik untuk pulang.

Namun langkahnya terhenti.

Seseorang berdiri tepat di hadapannya.

Kakak kelas yang sedari pagi beberapa kali ia lihat.

Ia tersenyum.

"Boleh kenalan?"

Alya terdiam.

"Aku Arga."

Hening beberapa detik.

"Aku... Alya."

Arga mengangguk pelan.

"Aku memperhatikanmu sejak pagi."

Wajah Alya langsung memerah.

"Maaf kalau terdengar aneh."

"Tapi..."

"Aku tahu kamu kecewa."

Alya menggigit bibirnya.

"Tidak apa-apa."

Arga tersenyum lebih lebar.

"Menurutku, orang hebat bukan yang selalu juara."

"Orang hebat adalah orang yang berani datang dan mencoba."

Alya masih diam.

"Kamu pasti bisa jadi juara."

"Bahkan mungkin tahun depan."

Alya menatap mata Arga untuk pertama kalinya.

Tatapan itu tidak berisi belas kasihan.

Tidak juga rasa mengejek.

Tatapan itu penuh keyakinan.

Seolah-olah ada seseorang yang percaya pada dirinya...

lebih dulu daripada dirinya sendiri.

Dan tanpa mereka sadari...

pertemuan singkat sore itu menjadi awal cerita yang akan mengubah hidup keduanya selama bertahun-tahun.

Komentar

populer

COUPLE JUARA - Bab 3

MENGEJAR SENJA YANG SAMA - BAB 1

MUBADOG - Bab 1